Kenapa harus berpura-pura sih? ~ Let’s be a better person #2

Lets stop pretending

Hampir setiap orang pernah berpura-pura karena beragam alasan. Hampir setiap orang punya karakter publik yang seringkali ditampilkan untuk menyembunyikan atau menutupi pikiran atau perasaan sebenarnya.

Kadar pura-pura juga beragam, mulai dari yang kecil-kecilan –yang sebenarnya gak perlu-perlu amat-, sampai yang bukan kecil-kecilan –yang mungkin bisa membuat situasi dan kondisi menjadi runyam-

Pura-pura yang kecil-kecilan, misalnya begini:

* Saya pernah beberapa kali memperhatikan ada anak yang menolak saat ditawari kue oleh mama temannya, tapi kemudian secara sembunyi-sembunyi melihat dengan penuh minat ke piring yang berisi kue tersebut.

* Pernah juga sekali waktu saya menawarkan tumpangan ke seorang tante (A), karena rumahnya kebetulan bisa searah dengan jalan pulang saya meskipun beda cluster dan saya harus sedikit berbalik  menuju cluster rumah saya. Saat saya tawarkan, Tante tersebut menolak dengan alasan akan dijemput anaknya. Saat berjalan menuju kendaraan, saya dengar omongan dua orang tante lain (B dan C) yang bersedia ikut dengan saya,  ‘kog dijemput anaknya ya, kan tadi bilang anaknya lagi di Surabaya, makanya tadi perginya bareng kita’. Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan obrolan itu, sampai saat keluar dari area parkir, kami melihat tante A tadi mau menyeberang jalan sendirian, cuaca cukup panas di tengah hari itu. Saya menepi dan membuka jendela, menanyakan apakah beliau ingin ikut. Tante A setuju dan masuk ke mobil.  Seolah ada kesepakatan batin, tidak ada satupun dari kami yang bertanya tentang “anaknya yang akan menjemput” dan Tante A juga seolah lupa atau menganggap kami semua lupa dengan ucapannya 10 menit lalu itu.

Pura-pura yang bukan kecil-kecilan, ini yang pernah saya alami:

* Ada seorang yang saya kenal cukup dekat, seorang yang selalu ingin terlihat ideal dan positif, selalu tampil ‘baik-baik saja’, penuh perhatian, peduli, dan bertoleransi. Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, sikap ideal dan positif itu tidak tampil. Yang jelas terlihat adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya diri, dan kekurangmampuan menangani situasi. Saat berbeda pendapat dengan pasangannya, dia tidak bisa mengemukakan pendapatnya yang mungkin, sebenarnya, lebih tepat.

Satu hal yang bisa mengakibatkan kerugian adalah saat dia atau pasangannya sakit. Karena terdorong mempertahankan kesan ‘baik-baik saja’, dia merasa malu untuk mengaku sakit.

Hal lain yang mungkin juga merugikan adalah ketika dia merasa tidak perlu untuk curhat kepada orang lain atau meminta saran dari orang lain atas masalah yang dihadapinya, demi menjaga kesan ‘positif’nya.

* Beberapa tahun lalu saya pernah bergabung di salah satu perusahaan agensi asuransi yang cukup besar -sejujurnya saya hanya memenuhi ajakan seorang teman yang baik dan tulus sambil mencoba kemampuan saya untuk menawarkan produk, saya tidak punya minat cukup besar untuk menjadi agen asuransi yang sukses-.

Sebagai ‘anak baru’ saya merasa begitu banyak senior (yang bukan upline saya) yang penuh perhatian, bersedia membimbing dan membagi ilmunya. Saat makan siang, saya diajak bergabung dalam rombongan besar para senior. Makan malampun bersama teman-teman, sehingga cukup sering saya tidak makan malam bersama keluarga.

Perbedaan sikap mulai terasa saat saya mulai rutin membunyikan lonceng tanda berhasil menjual polis. Semakin sibuk saya menyerahkan data nasabah yang membeli polis, saya merasa semakin ‘sepi’ berada di kantor, padahal ruangan penuh dengan teman-teman dan para senior. Sangat terasa perubahan situasinya, para senior yang dulu dengan ramah membantu saya memahami produk sekarang datar-datar saja,  teman-teman seangkatan juga saya rasakan tidak seramah sebelumnya. Sempat saya pikir, ini mungkin perasaan saya saja karena saya pada dasarnya memang kurang menikmati pekerjaan ini, hingga di suatu kesempatan curhat dengan upline saya, beliau mengiyakan bahwa situasi seperti itu memang lazim terjadi.

Dibalik setiap kepura-puraan sesungguhnya ada rasa takut yang berakar, yang mungkin tidak disadari keberadaannya. Rasa takut menampilkan situasi apa adanya, takut menunjukkan perasaan yang sebenarnya, takut memperlihatkan keotentikan diri.

* Anak yang menolak kue, bisa jadi karena takut disalahkan oleh orangtuanya yang seringkali berpesan untuk tidak boleh menerima makanan dari orang lain, atau harus bersikap manis dan tidak ‘rakus’ jika bertemu orang lain.

Kasian sebenarnya, tapi melihat wajah kecil yang sembunyi-sembunyi melihat kue yang kelihatannya enak itu, saya jadi tersenyum karena lucu 🙂

* Tante A yang menolak ajakan diantar pulang, mungkin takut orang berpikir bahwa anaknya kurang memperhatikan dia, dengan kata lain, dia berusaha melindungi dan menjaga citra baik anaknya dengan cara yang kurang tepat. Kemungkinan lain, dia takut terlihat kurang keren kalau harus nebeng, tapi gak takut berpanas-panas jalan kaki 🙂

* Kenalan yang selalu tampil ‘baik-baik saja’, takut orang lain melihat adanya ketidak-harmonisan antara dia dengan pasangannya, dan antara mereka sebagai orangtua dengan anak-anaknya, meskipun sebenarnya dia merasa tertekan karena harus selalu menampilkan kondisi ‘baik-baik saja’. Didalam keluarganya, ada rasa takut terhadap pasangannya yang tanpa disadari telah bersikap dominan dan menanamkan pemahaman bahwa dia harus selalu ‘mendukung’ ide atau keputusan apapun yang dibuat oleh pasangannya. Tidak ada sikap dominan secara fisik disini, tapi sikap dominan secara psikis yang menimbulkan rasa takut.

Membicarakan urusan domestik kepada orang lain, adalah hal yang menurut dia ‘tidak pantas’. Dia lebih memilih menangis dan membiarkan waktu yang menyelesaikan masalahnya.

Buat saya, sahabat adalah fasilitas terbaik untuk curhat dan berbagi cerita, sahabat mau mendengarkan dengan telinga dan hati, sahabat juga yang seringkali punya solusi cerah yang tidak terpikirkan oleh saya saat lagi bete. Mana ada sih orang yang gak pernah ngalamin saat bete.

* Perubahan perilaku di kantor, ini sih jelas, takut tersaingi. Waktu masih ‘anak baru’ kan belum terampil, jadi bolehlah dibaik-baiki. Begitu mulai terampil, wah mulai bahaya nih.

Padahal, bisa aja kan si ‘anak baru’ ini adalah orang yang tahu membalas budi, yang karena merasakan kenyamanan lingkungan kerjanya, malah tumbuh minatnya dan ingin meraih sukses di posisi yang lebih tinggi dengan mengajak teman-temannya menjadi downliner. Bukankah semakin banyak downliner, pundi-pundi komisi para upliner akan semakin padat?

Kepura-puraan terjadi bisa karena seseorang merasa ‘tidak cukup’ sebagai dirinya sendiri. Bisa juga karena merasa ingin tampil ‘lebih bagus’ dimata orang lain, atau ingin mendapatkan ‘apresiasi lebih’ melalui sikap atau cerita yang disampaikannya.

Banyak orang yang bersikap pura-pura karena ingin menjadi pribadi lain yang dianggap lebih baik, lebih hebat. Orang yang berpura-pura adalah orang yang tidak belajar menerima dan menghargai dirinya sendiri.

Yang disayangkan, sikap berpura-pura ini bisa menjadi kebiasaan, jika tidak ada upaya untuk menghentikannya.

Menghentikan kebiasaan berpura-pura bukanlah hal mudah, malah mungkin membutuhkan upaya yang cukup keras dan niat yang kuat, namun pasti bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Dari banyak sumber dan tulisan yang saya baca, saya mendapatkan beberapa poin berikut ini yang bisa dijadikan petunjuk praktis untuk menghentikan kebiasaan berpura-pura dan mulai menunjukkan keotentikan diri.

  1. Beranikan diri untuk mengatakan ‘Tidak’

Mengatakan ‘Ya’ bukan sikap keliru, tetapi mengatakan ‘Ya’ disaat hati kita ingin mengatakan ‘Tidak’ sudah tentu bukan sesuatu yang baik.

Jangan takut mengemukakan pikiran dan perasaan kita yang sesungguhnya, meskipun mungkin bertentangan dengan sikap yang ditunjukkan orang lain. Jangan menyamakan pandangan hanya karena ingin menyenangkan orang lain atau karena takut jadi ribut. Sampaikan pandangan kita yang berbeda dengan sikap dan kata-kata yang baik. Jika tidak bisa diterima oleh pihak lain, tidak perlu emosi, yang penting kita sudah berani menyatakan pandangan kita dengan cara baik.

  1. Jangan meniru-niru

Setiap pribadi unik dan berbeda, akan lebih nyaman kalau kita jalani hidup dengan sikap dan cara kita sendiri, bukan dengan menjadi pribadi lain. Capek kalau harus menjadi pribadi lain. Ciptakan jalur kita sendiri dan lalui jalur itu dengan sikap positif dan kecerdasan.

  1. Katakan yang sebenarnya

Pertama, jujur pada diri sendiri, ini sebagai dasar untuk bersikap dan berbicara apa adanya kepada orang lain. Berbohong berarti membiarkan diri kita masuk dalam jalur kekuatiran yang tidak berujung -kuatir ketahuan berbohong-, karena setiap kebohongan akan perlu ditutupi oleh kebohongan berikutnya. Bersikap dan berbicara jujur adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

  1. Tumbuhkan rasa percaya diri

Keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik akan menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat kita merasa lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. Dengan rasa percaya diri, kita bisa terbebas dari kebutuhan akan persetujuan/pengakuan dari orang lain.

  1. Kerjakan hal-hal yang kita suka

Tekuni pekerjaan atau kegiatan apapun yang membuat kita senang saat mengerjakannya, jangan pedulikan orang lain senang atau tidak. Tidak perlu selalu mempertimbangkan harapan orang terhadap kita. Mencintai dan menekuni pekerjaan akan membuat kita selaras dengan suara hati.

c84a8a42e90f3ac15b1f97c0a283d332

“Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it” ~Bruce Lee~

~Sherly Hermawan~

Wednesday, 24th June 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 24th June 2015, 21.06

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

The Fascinating Simply Red, for me… their songs always make my day <3 <3

Simply Red Big Love                                                                                                              Simply Red release their first new studio album in eight years with ‘Big Love’ out June 1st on East West Records. When the band announced a massive world tour to celebrate their 30th anniversary last autumn, main man Mick Hucknall started thinking about recording again.

“Once I began wondering how Simply Red were going to sound, I started writing songs,” says Mick. And once he started, he couldn’t stop. ‘Big Love’ is the first Simply Red album to feature only original compositions since 1995’s ‘Life’. All twelve tracks are written by Mick Hucknall and produced by Andy Wright.

Highlights include the celebratory first single ‘Shine On’ driven by their trademark blue-eyed soul sound and ‘The Ghost Of Love’, a big soul song punctuated by wah-wah guitar and the kind of bold orchestral strokes that once powered Barry White and his Love Unlimited.

The break has done Mick Hucknall a power of good, newly refreshed he now has a much clearer appreciation of Simply Red’s considerable legacy. He admits that the band’s last studio album in 2007, ‘Stay’, was an attempt to pull away from their sound.

“With ‘Stay’ I was running away from Simply Red,” Mick admits. “But now I’m comfortable with the notion of us as a blue-eyed soul group. I had to stop myself fighting that idea. Our sound is original too. I honestly don’t know of another band that has pulled so many musical strands together.”

Quite simply, ‘Big Love’ is Simply Red at their best, 12 tracks to cherish. With a 16 date UK tour this winter, including 3 shows at London’s 02 Arena, Simply Red are once again a band in their prime.

Simply Red are: Mick Hucknall (vocals), Ian Kirkham (sax), Steve Lewinson (bass), Kenji Suzuki (guitar), Kevin Robinson (trumpet and flute), Dave Clayton (keyboards) and new drummer Roman Roth.

“Big Love” is Simply Red at their best! 12 original tracks all written by Mick Hucknall and produced by Mick along with Andy Wright.
Tracklisting:
1. Shine On
2. Daydreaming
3. Big Love
4. The Ghost Of Love
5. Dad
6. Love Wonders
7. Love Gave Me More
8. Tight Tones
9. WORU
10. Coming Home
11. The Old Man and the Beer
12. Each Day
13. Shine On (Max Bidda Radio Mix) – digital versions only

Back together again; Simply Red mark their 30th anniversary with a world tour beginning October 2015.
The shows will be a celebration of their success over the years and the band will play songs from their impressive catalogue of hits at 16 shows across the UK in December, culminating in three nights at the O2 in London.

Since they burst onto the scene in 1985 with their seminal cover of ‘Money’s To Tight To Mention’, Simply Red have made a string of classic, landmark albums, introducing a generation to the joys of soul music and Mick Hucknall’s iconic voice.

Now back in vogue, with countless young artists name checking their influence, Simply Red are going through something of a renaissance being re-appraised as one of the great British bands.

The band finished its initial, unbroken 25 year run with a concert at London’s O2 Arena in 2010, and now the time has come to get back on stage together. ‘I like an anniversary, and this is a big one’, Mick Hucknall says, ‘It feels like the right time’.

Having sold 60 million albums worldwide Simply Red have a timeless back catalogue that includes the hits ‘Holding Back The Years’, ‘If You Don’t Know Me By Now’, ‘Something Got Me Started’, ‘The Right Thing’, ‘Stars’, ‘Fairground’ , ‘The Air That I Breathe’ and ‘Sunrise’.

http://en.wikipedia.org/wiki/Simply_Red

Simply Red are an English soul and pop band that sold more than 50 million albums over a 25-year career. Their style drew upon influences ranging from blue-eyed soulNew Romantic and rock to reggae and jazz. From their early days, the main driving force behind the band was singer Mick Hucknall, who, by the time the band was disbanded in 2010, was the only original member left. At the 1992 and 1993 Brit Awards, they received the award for Best British Group.

Love these songs, the most, up this moment

Simply Red – For Your Babies – YouTube

Simply Red – Stars – YouTube

http://en.wikipedia.org/wiki/Simply_Red

Simply Red are an English soul and pop band that sold more than 50 million albums over a 25-year career. Their style drew upon influences ranging from blue-eyed soulNew Romantic and rock to reggae and jazz. From their early days, the main driving force behind the band was singer Mick Hucknall, who, by the time the band was disbanded in 2010, was the only original member left. At the 1992 and 1993 Brit Awards, they received the award for Best British Group.

Satu arah perjalanan saya

buku135 alt1   12039514_911321908904384_2048587219831871003_n

Dulu sekali, semasa di SD, berangkat dari kesukaan membaca yang termasuk agak ‘lebih’, saya bermimpi saat besar nanti ingin punya persewaan buku, karena saya punya banyak sekali buku cerita anak dan majalah anak, saya senang tukar-tukaran buku cerita dengan teman, dan sesekali meminjamkan buku ke teman yang saya anggap ‘bisa dipercaya’  🙂

Saat di SMP dan SMA, saya mulai membaca dan mengoleksi novel remaja dan novel roman penulis Indonesia –koleksi nyaris lengkap saya karya Marga T. dan Mira W.-, juga novel terjemahan yang ‘melambungkan khayalan’ karya Barbara Cartland, Anne Hampson, dan beberapa penulis lain yang karyanya bergenre sama.

Di tahun terakhir SMA yang berlanjut saat di bangku kuliah, saya tinggalkan novel-novel roman terjemahan karena bosan juga akhirnya membaca sambil terus membayangkan para upik abu dan gadis biasa yang dicintai sang duke, marquess, viscount, dan baron, kemudian di ujung cerita baru ketahuan si upik abu atau gadis biasa itu ternyata adalah juga putri berdarah ningrat…hihihi…ini bagian yang bikin perasaan saya ikut ‘melambung’… abg banget yaaa..

Saya pindah ke novel-novel sastra atau roman yang lebih serius, dan mulai membaca novel berbahasa Inggris, selera ini terjaga dan berkembang terus hingga saat ini. Beberapa penulis favorit saya: Mitch Albom, Paulo Coelho, Maeve Binchy, Nora Roberts, Cecelia Ahern, Nicholas Sparks. Saya suka karya sastra Jane Austen, D.H. Lawerence, Emily dan Charlotte Brontë,  Louisa May Alcott. Selain fiksi, saya juga mulai gemar membaca buku-buku inspirational, motivational, dan self-help. Eh, saya rakus kan ya… 😉

Nah, saat diawal masa kuliah itu -gak inget pastinya kapan-, saya mulai bermimpi ingin punya toko buku kecil bersuasana cozy, dengan sofa-sofa nyaman, lampu baca dan musik lembut, pokoknya suasana yang mendukung untuk membaca dengan nyaman, bahkan lebih nyaman daripada di rumah sendiri…hahhaha…utopis amat yaaa…

Jenis buku yang saya ingin jual adalah, fiksi (romance) dan non-fiksi (inspirational, motivational, modern spiritual, parenting, history & culture, self-help, hobby, crafts). Gak mau jual buku-buku non-fiksi tentang politik, perang, masalah hukum, sejarah gelap, budaya buruk…hahha…penjual suka-suka, milih yang enak dan indah aja…

Saya akan melayani sendiri para pengunjung, menjadi kasir yang mengajak ngobrol singkat tentang buku yang dibeli oleh pelanggan… ah, mimpi yang sangat menyenangkan….

Hingga lulus kuliah dan bekerja, mimpi ini terus saya bawa, bahkan sempat saya ceritakan ke 2 orang sahabat yang salah satunya beberapa tahun lalu sempat mengatakan bahwa dia ingat ‘cita-cita’ saya itu… terima kasih, Ashiu 🙂

Saya bekerja kantoran mulai tahun 1984, sebelum lulus kuliah. Tahun 2000 saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan-bukan-milik-saya. Alasan sesungguh-sungguhnya terkesan bukan saya banget deh…saya kan tipe serius, apa-apa dipikir dari segala penjuru. Yang ada dalam pikiran saya saat itu ‘saya bosan bekerja dengan digaji oleh perusahaan orang, kepengin menggaji diri sendiri meskipun belum punya perusahaan’… dan dengan alasan ‘ingin wiraswasta’ itulah saya memberi kejutan buat bos saya. Diminta berpikir ulang dan menunda keputusan, tapi mimpi saya sudah berubah menjadi cita-cita, dan saya sudah memutuskan untuk segera menjadi bos… dengan keinginan kuat dan kecerdasan, semua bisa jadi bos kan?

Saya berterima kasih pada Bapak Dharmawan (dan juga almarhum Bapak Jacky Indarto), yang memberikan kesempatan indah bagi saya untuk menjadi sekretaris dan asisten pribadi selama saya bekerja di grup perusahaan beliau. Dalam kehidupan saya, beliau tetap dan akan selalu sebagai bos, tidak pernah jadi mantan bos. Saat Tuhan memberikan saya kesempatan untuk jadi bos, Bapak adalah bosnya bos 🙂

Begitu berhenti jadi orang kantoran, saya jadi orang rumahan, dan saya menepati janji pada mimpi saya, meskipun dengan negosiasi tipis, saya berjualan buku secara online. Toko dengan suasana cozy masih tersimpan sebagai ‘bagian mimpi yang perlu diracik dulu’.

Selanjutnya, bukan hanya jadi bos toko buku online, saya juga membuka kantin dan mini market di salah satu food court universitas swasta. Bos kan gak dilarang punya beberapa main business dan side job. Sekretaris atau karyawan gak boleh, iya kan?

Mini market larisnya bikin hati gembira, beda dengan kantin, rupanya menu yang saya tawarkan kurang cocok dengan selera mahasiswa. Gak mau lama-lama, setelah 3 bulan berjalan dengan dukungan dana dari mini market, kantin saya jual.  Fokus pada mini market, tanpa harus mensubsidi kantin, hasilnya semakin menggembirakan, puji Tuhan! Setelah berjalan sekitar 1,5 tahun, ada tetangga sesama merchant yang naksir berat mini market saya, memberikan penawaran bagus untuk membeli usaha ini, iseng tapi ringan hati, saya minta sedikit lebih tinggi, disetujui, nah jadilah saya orang rumahan lagi, menggiatkan lagi jualan buku secara online, yang sempat meredup karena sibuk di mini market …hahha…life is beautiful, anyway….

Jualan buku dan menjalani peran hakiki saya, istri dan mama, yang tetap hobi baca buku, sungguh bahagia. Tapi bukan Sherly kalau betah lama-lama duduk di satu pojok, saya suka duduk di pojok, tapi pindah dari satu pojok ke pojok lain. Saya mulai tertarik dengan jahit menjahit, tanpa modal apa-apa selain minat, saya beli mesin jahit, lalu beli majalah dan buku craft import, beli kain katun, mulai proyek kecil, eh…sepertinya saya berbakat, ya iya dong, kan Mama saya dulu adalah guru menjahit dengan puluhan murid dan jadwal kelas setiap hari.  dan beliau terus menjahit sampai saat dipanggil pulang oleh Tuhan. Saya juga suka berjualan, karena cepat dapat uangnya, maka jadilah saya berjualan kain dan perlengkapan menjahit, termasuk pola, majalah dan buku keterampilan, produk lokal dan import, sambil juga berkreasi.

Mencari barang dari sentra dagang lokal dan produk import dari banyak sumber, mengatur pembelian barang, mengupload produk agar bisa diakses secara online, membuat dan mengatur harga jual dengan pertimbangan-pertimbangan logis, menyiapkan pesanan dan mengurus pengiriman, ditambah dengan kegiatan berkreasi, membuat hari-hari saya penuh kesibukan dan penuh semangat. Tidak ada waktu untuk tidur siang, tapi tidur malam menjadi sangat berkualitas. Tidak ada waktu (dan tidak berminat) untuk bergosip, berkaraoke atau night-out bersama teman-teman, tapi saya punya grup teman alumni Tarakanita yang saling mendukung, menginspirasi, dan mensuplai enerji positif…as I keep saying, I’m so blessed to have them all as my friends. Tidak (eh belum, ding 🙂 ) hidup berkelimpahan, tapi Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa, kemampuan dan kecerdasan yang mumpuni, dan kehidupan yang indah.

Anak-anak saya sudah tumbuh sebagai wanita karir, jadi suami dan anak-anak berada di kantor masing-masing Senin sampai Jum’at, ini membuat waktu saya maksimal untuk berkegiatan di rumah.

Beberapa bulan lalu saya mulai menjajaki usaha produksi busana wanita dengan merk hasil kesepakatan kami sekeluarga. Saya mencari bahan, mencari ide dari sebanyak mungkin sumber yang bisa saya akses, mendisain dan memilih tema, menentukan ukuran berdasarkan karakter bahan dan model, merekrut penjahit, menentukan harga jual dengan mempertimbangkan banyak aspek, memikirkan kemasan dan mengatur penjualan, dengan segala keterbatasan dan kemampuan saya, namun dengan semangat penuh, karena saya mendapatkan dukungan tak terbatas dari keluarga dan bergantung pada belas kasih Tuhan yang tak terhingga.

Cita-cita saya untuk menjadi bos sungguhan belum sepenuhnya tercapai, saya masih harus berlari, mengejar kesempatan, mengejar prestasi, merespon berkat yang Tuhan berikan dengan semaksimal daya dan upaya saya sambil terus bersyukur. Tuhan sangat baik, saya harus merespon dengan baik.

Placemat

~Sherly Hermawan~

Monday, 8th June 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 8th June 2015, 17.28

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan