Berteman adalah sesuatu yang menyenangkan. Persahabatan adalah salah satu anugerah kehidupan. Mereka yang bisa memiliki seorang sahabat sejati dan atau menjadi seorang sahabat sejati adalah orang-orang yang beruntung. Kehadiran teman akan memberi warna dan pengalaman dalam kehidupan. Warna dan pengalaman yang indah bisa membawa kita pada kebahagiaan dan keberhasilan, sementara warna dan pengalaman yang suram akan membawa kita pada ketidakbahagiaan. Nah, pandai-pandailah memilih teman, dan pandai-pandailah juga bersikap sebagai teman.
Berteman itu seperti berbagi kehidupan. Ada sebagian aspek kehidupan yang kita rasakan nyaman jika bisa kita ceritakan kepada sahabat atau lakukan bersama teman, mungkin sama nyamannya dengan bercerita dalam tulisan bagi yang suka menulis. Dengan adanya beragam media sosial yang menyediakan fasilitas untuk kemudahan berkomunikasi, hubungan pertemanan menjadi lebih praktis dan nyaman. Namun tetap, menurut saya, menemukan teman yang betul-betul cocok dan ‘sehati’ tidaklah mudah dan bukan suatu kebetulan. Demikian pula menjadi seorang teman yang bisa diandalkan sebagai tempat berbagi, juga tidak terjadi secara kebetulan. Perlu waktu dan situasi yang mendukung sehingga dua atau lebih orang bisa menjadi teman karib yang saling cocok. Perlu juga sikap yang baik dan ketulusan dari semua pihak yang menjalin pertemanan.
Ketulusan (sincerity) tentu saja bukan sesuatu yang bisa diatur atau dibuat-buat. Ketulusan adalah sesuatu yang bisa hadir secara spontan, namun bisa juga muncul seiring dengan kecocokan demi kecocokan yang dirasakan. Sedangkan sikap (attitude) adalah sesuatu yang bisa diperbaiki, diubah, dikembangkan menjadi lebih baik. Yuk kita lihat apa saja sikap yang kurang menyenangkan atau bahkan mengganggu pertemanan, tapi pasti bisa diperbaiki, kalau kita mau membuka diri untuk berubah.
* Terlalu banyak komentar (rame ajah)
Semua dikomentarin, mulai dari komentar yang pasti betul sampai yang hanya kira-kira, atau bahkan yang jauh melenceng dari topik pembicaraan.
Coba deh mulai sekarang batasi keinginan untuk harus selalu berkomentar. Berkomentarlah segera kalau punya jawaban yang pasti atau masukan yang jelas. Jika tetap ingin berkomentar, tetapi tidak punya jawaban yang pasti (mungkin diperlukan karena setelah beberapa menit belum ada teman lain yang memberi tanggapan), berkomentarlah dengan jujur, misalnya ‘wah aku malah baru tahu’ atau ‘aku malah dapat pengetahuan nih’. Jangan mengharuskan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dan menanggapi setiap topik, apalagi sampai berkomentar yang melenceng. Jangan merasa jadi orang yang kurang pengetahuan atau kurang gaul, hanya karena tidak punya komentar yang sesuai atas satu-dua topik. Mana ada sih orang yang tahu segala hal, bisa menjawab semua pertanyaan, memahami semua kejadian.
* Terlalu banyak dan terlalu mudah bertanya (kepo banget)
Nanya melulu, mulai dari pertanyaan yang gak penting-penting amat, sampai pertanyaan yang jawabannya sudah dibahas sebelumnya.
Coba deh sebelum melempar pertanyaan, pikirkan dulu, apakah saya betul-betul perlu tahu jawabannya, apakah pertanyaan saya ini punya nilai sehingga teman-teman merasa perlu memberi jawaban. Coba juga mulai sekarang, sebelum bertanya, pakai logika dan nalar sendiri dulu. Ada banyak pertanyaan kita yang bisa kita temukan sendiri jawabannya atau sadari perlu tidaknya bertanya, setelah kita memanfaatkan logika dan nalar kita. Kalau kemudian mentok, betul-betul gak punya ide untuk mencari tahu sendiri, barulah bertanya. Percaya deh, pertanyaan yang kita kemukakan setelah kita pikirkan dulu logis tidaknya dan perlu tidaknya ditanyakan, adalah pertanyaan yang bermutu.
* Selalu penuh kekuatiran (gampang galau)
Kuatir ini kuatir itu, mulai dari urusan kecil sampai urusan yang gak berat-berat amat.
Coba deh jangan melihat semua hal dari sisi yang sulit, lihatlah dari sisi solusi yang bisa ditemukan dan dipakai untuk menghalau kekuatiran. Coba bersikap rileks dan tenang disaat membaca, mendengar, mengetahui sesuatu yang diluar prediksi atau yang tidak diantisipasi sebelumnya. Dengan pikiran tenang dan sikap rileks, kita bisa lebih mudah menemukan solusi, kendala akan lebih mudah diatasi atau dicari jalan keluarnya.
* Sikap kurang peduli (cuek)
Ada teman yang rajin sekali membagi info di grup WA dimana saya dan dia bergabung, hasil copy dari grup sana lalu paste di grup sini. Yang bikin kurang nyaman adalah, setelah mem-paste, sepertinya dia merasa tugasnya selesai, hpnya tidak dilihat lagi, sehingga jika ada pertanyaan atau tanggapan atas info yang dibaginya itu, dia tidak menjawab atau menanggapi. Jadi tidak jarang, info bagus yang dia bagikan itu akhirnya tidak memberi nilai positif karena hilang begitu saja, tergeser oleh percakapan-percakapan berikutnya.
Teman ini sepertinya termasuk tipe yang menggunakan hp pada saat dia ada keperluan saja, salah satunya adalah saat dia ingin membagi info. Setelah keperluannya selesai, hp dicuekin, gak dilihat-lihat sampai ada keperluan berikutnya. Membagi info bagus tapi kemudian tidak ada penjelasan lebih lanjut apabila ada pertanyaan, bukankah jadi menyebabkan kekurangnyamanan bagi teman-teman lain?
Coba ya, kalau dia mau lebih memahami bahwa komunikasi itu akan berkualitas jika terjalin antara 2 orang atau lebih dan berlangsung 2 arah, maka info yang dia bagikan pasti akan bermanfaat dan memiliki nilai positif.
* Mudah dan sering merevisi keputusan (plin-plan)
Memang terkadang tidak bisa dihindari keharusan merevisi keputusan karena kondisi dan situasi pribadi, tapi kalau hal ini terjadi hampir di setiap keputusan yang sudah dibuat, kan jadi merepotkan, apalagi kalau keputusan itu menyangkut acara yang melibatkan banyak orang dan ada unsur penghitungan biaya dan pengaturan jadwal, bisa mengakibatkan revisi pada setting grup secara keseluruhan kan.
Sebaiknya, kedewasaan berpikir dan pertimbangan yang baik harus kita aplikasikan di setiap saat kita akan menyampaikan keputusan atau konfirmasi. Terlalu cepat memberikan konfirmasi (supaya terkesan sebagai pengambil keputusan yang cepat), seringkali malah jadi menimbulkan kesan kurang dewasa dan juga kurang menghargai teman yang mengurus dan mengatur. Jika memang diperbolehkan memberikan keputusan sementara (tentative), tanyakan batas waktu konfirmasi final yang harus disampaikan. Jika kondisi dan situasi pribadi mengharuskan kita merevisi keputusan atau membatalkan konfirmasi yang sudah kita sampaikan sebelumnya, berikan alasan sebenarnya, jangan mengarang, dan jangan ragu untuk minta maaf karena kemungkinan menjadi penyebab perubahan pada setting grup secara keseluruhan.
* Membuat kelompok (nge-gank)
Jangan deeehhh…ini mah gayanya abg, sangat gak cocok untuk yang sudah melewati usia abg.
Kalau sudah membuat kelompok di dalam kelompok, akan sulit bersikap fair secara merata, seringkali sengaja atau tidak sengaja, keberpihakan pada kelompok kecil akan terlihat jelas.
Akan timbul kecanggungan dan kehati-hatian yang tidak seharusnya yang bisa dirasakan oleh sebagian teman diluar kelompok kecil tersebut, yang memiliki kepekaan lebih.
Saat kita berada dalam suatu kelompok pertemanan, bertemanlah dengan sikap tulus dan wajar dengan semua teman dalam kelompok tersebut. Jika ada beberapa orang yang lebih ‘sehati’, jadikan sahabat, dalam arti teman yang bisa saling berbagi untuk hal-hal yang lebih dalam, tanpa harus bersikap memisahkan diri dari teman-teman lain. Perlu dicatat, tidak semua teman mau dan bersedia untuk saling berbagi hal-hal yang sifatnya pribadi dan lebih dalam. Itu sebabnya, sahabat adalah karakter istimewa.
Mungkin masih ada hal-hal lain yang juga sedikit banyak bisa membuat jalinan pertemanan kurang nyaman. Poin-poin diatas saya tulis berdasarkan apa yang saya temukan dan rasakan. Bukan sebagai penilaian (judgment) atas sikap teman-teman saya, saya tidak punya hak untuk menilai siapapun, tapi ambillah ini sebagai masukan untuk kita bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, dari hari ke hari. Menjadi lebih baik itu harus dimulai dari dan diniatin oleh diri sendiri, tapi masukan dan kisah-kisah pengalaman dari teman bisa menjadi inspirasi dan motivasi buat kita semua.
“A friend is like a mirror and shadow; mirror doesn’t lie and shadow never leaves” ~ unknown ~
~Sherly Hermawan~
Sunday, 1st November 2015
Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia
Published on 1st November 2015, 00.18
Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan


