Sukses berteman ~ Let’s be a better person #5

9c91255d44c2c4588822845e352d7f03

Berteman itu sangat kita perlukan, setuju kan? Pada tahap-tahap tertentu kehidupan kita, pertemanan bisa berarti segalanya – sesuatu yang amat penting dalam hidup kita. Teman bisa mempengaruhi pilihan-pilihan kita, memberi saran, serta membantu membuat keputusan, misalnya: mau makan apa, perlu beli atau tidak, kemana tujuan kita, bagaimana sebaiknya mengemukakan pendapat kita. Pertemanan tumbuh dan berubah sejalan dengan datang dan perginya orang-orang yang terlibat. Pertemanan membutuhkan tanah/wadah untuk tumbuh, pupuk dan air agar tumbuh sehat dan kuat.

Namun, membangun pertemanan yang sehat dan kuat bukanlah hal yang mudah, paling tidak buat sebagian orang, setuju juga kan?

Saya coba menuliskan disini hal-hal yang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, bisa dijadikan dasar atau patokan dalam membangun pertemanan yang menyenangkan, baik berteman di dunia nyata (bertemu, kumpul-kumpul) maupun di dunia maya (grup WA, Line, komunitas online).

12565537_10154025124139767_1453321995012435122_n

* Memilih teman dengan bijak

Kita gak perlu jadi teman semua orang kan?  Pilih teman yang bersedia untuk saling membangun, saling mendukung, bukan yang meruntuhkan atau melemahkan. Pilih teman yang bisa menginspirasi dan mau menyambut baik pendapat dan pemikiran kita, bukan yang bersikap merendahkan atau mengabaikan. Kita tidak bisa memilih atau menentukan keluarga dimana kita dilahirkan, tetapi adalah hak kita untuk memilih dan menentukan siapa teman-teman kita.

 

* Mau mendengarkan

Selain kita memilih teman, kita juga dipilih menjadi teman. Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu sikap yang menyenangkan sebagai seorang teman. Buatlah teman tahu bahwa kita mendengarkan pembicaraannya dengan penuh perhatian. Jika ada yang kurang jelas, tidak ada salahnya kita bertanya agar tidak terjadi pengertian yang keliru. Kontak mata dan bahasa tubuh yang tepat akan membuat seseorang tahu bahwa kita mendengarkan pembicaraannya.

 

* Hati-hati saat merespon atau memberi komentar

Pikir dulu sebelum merespon atau memberi komentar – terutama apabila kita sedang merasa tersinggung atau marah. Jangan memberi respon bernada sinis, sengit atau pedas, apalagi untuk sesuatu yang sifatnya dugaan atau kira-kira, misalnya: ‘belum tentu dia mengerti’; ‘mungkin ijazahnya palsu’; ‘bisa saja itu bukan karyanya sendiri’.

Bukan hanya komentar yang serius, menanggapi gurauan atau memberikan respon-respon ringan juga sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang baik, yang tidak menyinggung hal-hal pribadi, tidak menyebut nama seseorang sebagai contoh hal yang kurang menyenangkan, dan tidak bergosip.

Seringkali, kata-kata yang dipikirkan dulu sebelum diucapkan bisa menghindari terjadinya perasaan yang terluka atau tersinggung. Nah, mari kita lebih cerdas memilih kata-kata.

 

* Jangan terlalu rajin memberi saran dan nasehat, serta batasi keinginan untuk selalu membantu mengatasi masalah teman

Dengan maksud baik, jika ada seorang teman yang meminta saran, dan kita bisa, berikanlah saran atau masukan sesuai yang dia perlukan, jangan merembet ke topik lain, apalagi yang topiknya melenceng atau gak nyambung. Mulai dari saran untuk masalah ringan, misalnya tentang bagaimana menulis email permohonan referensi, hingga saran untuk masalah yang lebih serius, misalnya memberi dukungan pada teman yang tengah bermasalah dalam perkawinannya. Tapi tolong diingat ya, berikan saran jika diminta atau jika teman yang bermasalah tersebut meminta dukungan secara terbuka dalam forum kelompok/grup sehingga semua anggota grup bisa memberikan saran dan pendapat. Berikan saran yang nyambung dengan masalah yang diceritakan. Sampaikan saran atau pandangan yang orisinil dan konkrit, artinya bukan hasil copy-paste pandangan orang lain, atau pemikiran ‘kira-kira’ yang disampaikan tanpa dukungan data atau fakta.

Jika tidak dimintai bantuan, jangan rese, jangan maksa untuk membantu meskipun ingin sekali memberikan saran atau pandangan. Setiap kita pasti punya masalah, dan setiap pribadi punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Berikan ruang kepada teman yang mempunyai masalah untuk mengolah urusannya dan membuat keputusannya sendiri.

 

* Jadilah diri sendiri, orisinil dan jujur

Hindari kepura-puraan, jangan mencoba atau berkeinginan menjadi orang lain, jangan mengarang atau memoles cerita dengan harapan akan menjadi lebih menarik.

Sikap pura-pura itu merepotkan, karena akan melahirkan tuntutan untuk menjaga  kepura-puraan itu. Mencoba atau berkeinginan menjadi orang lain juga merepotkan dan melelahkan. Cerita karangan atau hasil polesan biasanya malah tidak menarik, karena jika pendengar atau pembacanya cukup peka, akan ada bagian-bagian yang terasa tidak logis atau kurang wajar.

Jangan menyangkal iman, keyakinan, nilai-nilai hidup dan sudut pandang kita, hanya karena ingin tampil ‘klop’ dengan anggota-anggota lain dari satu grup. Jika seseorang atau sekelompok orang tidak bisa menerima kita sebagaimana adanya, membangun pertemanan dengan mereka akan menjadi sangat sulit. Daripada membuang waktu dan menjadi lelah karena harus terus melakukan ‘penyesuaian’, lebih baik cari teman atau grup lain.

Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, karena tidak mungkin kita bisa ‘klop dan klik’ dengan semua orang.

 

* Terimalah teman sebagaimana adanya

Disaat bertemu orang-orang yang kemudian menjadi teman kita, bersahabatlah dengan mereka yang mau menerima aslinya kita. Orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Sejatinya, kita semua ingin bersahabat dengan orang yang mau menerima kita apa adanya.

1044362_10151710708814767_1374840268_n1795562_10152821787679767_318643331708158241_n

* Berkomunikasi secara terbuka dan jujur

Membangun komunikasi dengan seseorang bisa membutuhkan waktu – dan pastinya, harus ada saling percaya. Jangan kuatir memberitahu teman jika kita perlu bantuan. Demikian juga sebaliknya, jika ada teman yang membutuhkan bantuan, dan kita bisa membantu, bantulah tanpa berpikir rumit tentang untung ruginya, dan tanpa banyak kekuatiran (misalnya, kuatir tidak dihargai, kuatir malah nantinya jadi merepotkan).

Berbagilah hal-hal yang, secara umum, baik dan positif, bukan baik untuk diri kita sendiri. Jangan mendominasi dan jangan bersikap menggurui dan menuntut pengakuan. Komunikasi yang menyenangkan adalah komunikasi yang seimbang, dari semua anggota yang terlibat, saling berbagi pengetahuan dengan kata-kata yang baik, saling mendengarkan, dan semua pihak mau berbesar hati jika ada tanggapan koreksi atas pendapatnya.

 

* Saling menghargai pilihan masing-masing

Apabila ada teman yang membuat keputusan untuk ‘pindah’, sementara kita pikir ‘tetap tinggal’ adalah hal yang tepat untuk dilakukan, jangan memaksakan pendapat kita, biarkan dia melakukan apa yang menurutnya baik.

Jika kita sudah memberikan saran kepada seorang teman, namun dia mempunyai pandangan yang berbeda, beranjaklah, jangan ngotot memberi nasehat dan saran yang tidak akan dihargai. Apa yang dia lakukan bisa jadi memang tepat untuk kehidupannya.

 

* Bersikap ramah, jangan jutek

Kita senang mempunyai teman yang tulus, ramah, memiliki kepedulian, bijak, tidak suka menilai orang lain, tidak suka berpura-pura, dan cerdas. Jadilah pribadi seperti itu dulu dan kita akan lebih mudah menarik pribadi-pribadi yang baik juga ke dalam lingkaran pertemanan kita.

 

* Berempati

Mencoba memahami suatu hal dari sudut pandang orang lain adalah sikap yang bisa membuat komunikasi dan saling pengertian dalam pertemanan terjalin lebih baik. Jangan bersikap masabodoh dan acuh-tak-acuh. Kita juga gak suka kalau dicuekin kan?

 

* Jangan irit memuji

Tunjukkan sikap menghargai dan menyayangi teman melalui pujian atas kualitas baik mereka atau pencapaian yang mereka raih. Berikan pujian dengan tulus, jangan berpura-pura, dan jangan berlebihan. Dengan menyampaikan pujian, artinya kita menghargai dan merasa senang berada dalam lingkaran pertemanan.  Ada teman yang sedang bergembira karena keberhasilan yang diraihnya? Ayo sampaikan pujian untuknya.

 

* Akui kesalahan dan minta maaf

Jika melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan, segera akui dan jangan ragu untuk bilang maaf. Jangan berdalih, tidak perlu sibuk mencari pembenaran, tidak usah repot mengarang cerita. Mengakui kesalahan dan menyampaikan maaf sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelemahan, kalah gengsi, ataupun kebodohan. Sejatinya, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan minta maaf adalah sikap cerdas, berani dan anggun. Cerdas menyadari telah salah langkah, berani mengakui kesalahan dan minta maaf, dan dengan anggun berniat untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

12744304_10154093174759767_8613612303551377693_n

* Biarkan berlalu

Apabila seseorang, sengaja ataupun tidak, melukai perasaan kita, sepatutnya kita sampaikan kepadanya bahwa kata-katanya atau sikapnya telah menimbulkan ketidaknyamanan. Jika ada permintaan maaf darinya, terimalah dengan besar hati dan hargai permintaan maafnya itu. Jika tidak ada permintaan maaf, tidak perlu memenuhi hati dan pikiran kita dengan kekesalan atau bahkan kebencian. Karena kita sudah menyampaikan padanya tentang ketidaknyamanan yang kita rasakan, sekarang biarkan ketidaknyamanan itu pindah kedalam pikirannya. Biarkan ketidaknyamanan itu berlalu dan lanjutkan langkah maju kita.

Jika kita membiarkan perasaan kesal dan marah terus memenuhi hati dan pikiran, kita akan tertahan dalam situasi tidak nyaman dan ini akan menghambat langkah maju hubungan pertemanan kita. Jangan mau melangkah di jalan masa lalu yang penuh duri. Biarkan ketidaknyamanan berlalu dan buatlah awal baru yang segar.

 

* Tepat waktu dan tepat janji

Ini 2 hal yang sebenarnya gak susah-susah amat untuk dilakukan, tapi kenapa cukup banyak orang yang mudah meleset waktu dan meleset janji ya.

Untuk tepat waktu, diperlukan kemampuan dalam mengelola waktu dan mengatur kegiatan. Pondasi dari kemampuan mengelola waktu dan mengatur kegiatan ini adalah kedisiplinan, disiplin pada diri sendiri dan disiplin dalam kelompok. Jangan mentoleransi diri sendiri untuk mengulur-ulur pekerjaan. Jangan ikut serta atau bertolerasi pada ketidakdisiplinan saat berada dalam kelompok.

Tepat janji adalah unsur penting dari tanggungjawab. Sama dengan perilaku ‘tepat waktu’, pondasi untuk perilaku ‘tepat janji’ juga adalah kedisiplinan. Jangan mudah menjanjikan apapun yang kita tidak yakin akan dapat memenuhi atau menepatinya. Jangan ingin membuat kesan sebagai orang yang ‘selalu bisa’, atau ‘gampang membuat penyesuaian’. Akan lebih baik mengatakan ‘saya mungkin tidak bisa, tapi akan saya usahakan’, daripada berjanji namun harus mengingkari.

 

* Sediakan waktu untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman secara berkala

Nah ini kegiatan baik dan bermanfaat lho…bukan untuk sekedar eksis dan narsis. Bertemu dan berkumpul dengan teman adalah kesempatan untuk aktualisasi diri, bertukar info, mendapatkan pengetahuan dan, bahkan bisa juga, keterampilan. Tentunya semua harus dalam koridor positif dan dilakukan secara bijak, sehingga hasilnya adalah hal-hal yang bermanfaat untuk diri kita, keluarga (secara tidak langsung), dan teman-teman yang terlibat.

 

* Nikmati hobi dan minat yang sama

Banyak pertemanan yang awalnya terjadi karena adanya kesamaan  hobi dan minat, misalnya olahraga favorit, membaca dan mengoleksi buku, grup dan jenis musik, keterampilan khusus, dan banyak lagi.

Beli tiket konser dan nonton bareng-bareng, asiknya pasti bikin ketagihan, betul kan?

12510237_10154025108764767_4836341365271169470_n12572946_10154025117689767_7090699398115454948_n

* Mencoba hal-hal baru bersama

Nyobain kedai kopi yang baru buka, jalan-jalan ke objek wisata baru atau yang sebelumnya tidak diminati untuk dikunjungi sendiri, atau belajar line dance bersama-sama, rasakan sensasinya!

 

* Hindari rutinitas

Pertemanan, sama seperti hubungan-hubungan antar manusia lainnya, terkadang bisa mengalami kejenuhan akibat rutinitas. Jangan isi pertemuan dengan banyak keluh kesah atau komplain. Jangan juga bergosip melulu. Salah satu manfaat pertemanan adalah bisa saling meringankan beban jika ada yang mengalami masalah, dan saling mendukung jika ada yang membutuhkan saran atau pendapat, tapi bukan berarti memberikan ruang seluas-luasnya untuk hal-hal yang bernada pesimis, muram, atau getir, sehingga keceriaan dan antusiasme menjadi tidak terasa. Jangan biarkan kejenuhan melanda, ayo cari tema, topik, dan hal-hal yang menyenangkan, sehingga setiap pertemuan selalu indah untuk dikenang dan  membangkitkan semangat untuk bertemu lagi.

 

* Cari keseimbangan dalam pertemanan

Berada dalam kelompok dengan sikap egois dan menjadi pribadi yang selalu ingin ‘mendapatkan’ dan ‘menerima’, bisa membawa seseorang ke kehidupan yang sepi. Saling mendukung, saling membangun karakter positif, saling memberi dan menerima dengan tulus dan wajar akan membuat hubungan pertemanan lebih bernilai.

 

* Jadilah penceria

Jadilah pendorong, pemberi semangat. Berikan motivasi bagi teman-teman yang sedang galau. Bantu teman yang bimbang dalam membuat keputusan. Ajukan pertimbangan dan saran yang cerdas, tapi jangan menggurui dan mendesak. Pribadi yang ceria selalu diperlukan di setiap kelompok pertemanan.

 

* Bisa menjaga rahasia

Dalam perjalanan pertemanan, adalah wajar jika ada teman yang mau berbagi informasi yang sifatnya sangat pribadi dan rahasia kepada kita. Jika seorang teman memberitahukan suatu rahasia kepada kita, itu artinya teman tersebut percaya kepada kita dan dia yakin bahwa kita akan menjaga rahasia itu. Jangan berkhianat dengan membagi rahasia itu kepada pihak lain. Ada banyak pertemanan yang hancur karena rahasia yang tersebar.

 

* Setiap hubungan pertemanan tumbuh dan berubah, terkadang bisa saja berakhir

Pribadi kita bisa berubah dalam kurun waktu 1 tahun. Bayangkan bagaimana perubahan yang bisa terjadi dalam kurun waktu 10 tahun atau lebih. Pribadi kita saat kita bertemu seseorang dulu bisa jadi bukan pribadi kita saat ini. Kita tumbuh, menjadi dewasa. Pemikiran-pemikiran kita berubah. Gaya dan pola hidup kita juga berubah, bisa perubahan yang biasa saja, bisa juga perubahan yang radikal. Begitu juga dengan teman-teman kita. Ada teman yang sebelumnya berperan besar dalam kehidupan kita, namun setelah beberapa waktu, bisa saja pengaruhnya menjadi berkurang. Disisi lain, ada teman yang sebelumnya biasa-biasa saja, namun seiring berjalannya waktu, dia menjadi pribadi yang kuat dan sangat bisa diandalkan.

Jika seorang teman berubah menjadi melemahkan kita, bersikap negatif, atau mengajak kita ke jalan yang berbahaya, jangan ragu untuk mengakhiri hubungan pertemanan yang tidak sehat ini. Terkadang kita harus berjuang mempertahankan hubungan yang berubah menjadi layu. Banyak kali, mengakhiri adalah keputusan yang baik.

Jika seorang teman berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bersikap positif dan suportif, sepatutnyalah kita menjaga hubungan pertemanan dengannya dengan dasar saling memberi manfaat.

1780863_10154025123024767_3473134255193003386_n

02875a089c27417590ac078aae852167

Friendship is all about trusting each other, helping each other, loving each other and being crazy together.

~Sherly Hermawan~

Thursday, 17th March 2016, 01.35

 

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan