
Dulu sekali, semasa di SD, berangkat dari kesukaan membaca yang termasuk agak ‘lebih’, saya bermimpi saat besar nanti ingin punya persewaan buku, karena saya punya banyak sekali buku cerita anak dan majalah anak, saya senang tukar-tukaran buku cerita dengan teman, dan sesekali meminjamkan buku ke teman yang saya anggap ‘bisa dipercaya’ 🙂
Saat di SMP dan SMA, saya mulai membaca dan mengoleksi novel remaja dan novel roman penulis Indonesia –koleksi nyaris lengkap saya karya Marga T. dan Mira W.-, juga novel terjemahan yang ‘melambungkan khayalan’ karya Barbara Cartland, Anne Hampson, dan beberapa penulis lain yang karyanya bergenre sama.
Di tahun terakhir SMA yang berlanjut saat di bangku kuliah, saya tinggalkan novel-novel roman terjemahan karena bosan juga akhirnya membaca sambil terus membayangkan para upik abu dan gadis biasa yang dicintai sang duke, marquess, viscount, dan baron, kemudian di ujung cerita baru ketahuan si upik abu atau gadis biasa itu ternyata adalah juga putri berdarah ningrat…hihihi…ini bagian yang bikin perasaan saya ikut ‘melambung’… abg banget yaaa..
Saya pindah ke novel-novel sastra atau roman yang lebih serius, dan mulai membaca novel berbahasa Inggris, selera ini terjaga dan berkembang terus hingga saat ini. Beberapa penulis favorit saya: Mitch Albom, Paulo Coelho, Maeve Binchy, Nora Roberts, Cecelia Ahern, Nicholas Sparks. Saya suka karya sastra Jane Austen, D.H. Lawerence, Emily dan Charlotte Brontë, Louisa May Alcott. Selain fiksi, saya juga mulai gemar membaca buku-buku inspirational, motivational, dan self-help. Eh, saya rakus kan ya… 😉
Nah, saat diawal masa kuliah itu -gak inget pastinya kapan-, saya mulai bermimpi ingin punya toko buku kecil bersuasana cozy, dengan sofa-sofa nyaman, lampu baca dan musik lembut, pokoknya suasana yang mendukung untuk membaca dengan nyaman, bahkan lebih nyaman daripada di rumah sendiri…hahhaha…utopis amat yaaa…
Jenis buku yang saya ingin jual adalah, fiksi (romance) dan non-fiksi (inspirational, motivational, modern spiritual, parenting, history & culture, self-help, hobby, crafts). Gak mau jual buku-buku non-fiksi tentang politik, perang, masalah hukum, sejarah gelap, budaya buruk…hahha…penjual suka-suka, milih yang enak dan indah aja…
Saya akan melayani sendiri para pengunjung, menjadi kasir yang mengajak ngobrol singkat tentang buku yang dibeli oleh pelanggan… ah, mimpi yang sangat menyenangkan….
Hingga lulus kuliah dan bekerja, mimpi ini terus saya bawa, bahkan sempat saya ceritakan ke 2 orang sahabat yang salah satunya beberapa tahun lalu sempat mengatakan bahwa dia ingat ‘cita-cita’ saya itu… terima kasih, Ashiu 🙂
Saya bekerja kantoran mulai tahun 1984, sebelum lulus kuliah. Tahun 2000 saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan-bukan-milik-saya. Alasan sesungguh-sungguhnya terkesan bukan saya banget deh…saya kan tipe serius, apa-apa dipikir dari segala penjuru. Yang ada dalam pikiran saya saat itu ‘saya bosan bekerja dengan digaji oleh perusahaan orang, kepengin menggaji diri sendiri meskipun belum punya perusahaan’… dan dengan alasan ‘ingin wiraswasta’ itulah saya memberi kejutan buat bos saya. Diminta berpikir ulang dan menunda keputusan, tapi mimpi saya sudah berubah menjadi cita-cita, dan saya sudah memutuskan untuk segera menjadi bos… dengan keinginan kuat dan kecerdasan, semua bisa jadi bos kan?
Saya berterima kasih pada Bapak Dharmawan (dan juga almarhum Bapak Jacky Indarto), yang memberikan kesempatan indah bagi saya untuk menjadi sekretaris dan asisten pribadi selama saya bekerja di grup perusahaan beliau. Dalam kehidupan saya, beliau tetap dan akan selalu sebagai bos, tidak pernah jadi mantan bos. Saat Tuhan memberikan saya kesempatan untuk jadi bos, Bapak adalah bosnya bos 🙂
Begitu berhenti jadi orang kantoran, saya jadi orang rumahan, dan saya menepati janji pada mimpi saya, meskipun dengan negosiasi tipis, saya berjualan buku secara online. Toko dengan suasana cozy masih tersimpan sebagai ‘bagian mimpi yang perlu diracik dulu’.
Selanjutnya, bukan hanya jadi bos toko buku online, saya juga membuka kantin dan mini market di salah satu food court universitas swasta. Bos kan gak dilarang punya beberapa main business dan side job. Sekretaris atau karyawan gak boleh, iya kan?
Mini market larisnya bikin hati gembira, beda dengan kantin, rupanya menu yang saya tawarkan kurang cocok dengan selera mahasiswa. Gak mau lama-lama, setelah 3 bulan berjalan dengan dukungan dana dari mini market, kantin saya jual. Fokus pada mini market, tanpa harus mensubsidi kantin, hasilnya semakin menggembirakan, puji Tuhan! Setelah berjalan sekitar 1,5 tahun, ada tetangga sesama merchant yang naksir berat mini market saya, memberikan penawaran bagus untuk membeli usaha ini, iseng tapi ringan hati, saya minta sedikit lebih tinggi, disetujui, nah jadilah saya orang rumahan lagi, menggiatkan lagi jualan buku secara online, yang sempat meredup karena sibuk di mini market …hahha…life is beautiful, anyway….
Jualan buku dan menjalani peran hakiki saya, istri dan mama, yang tetap hobi baca buku, sungguh bahagia. Tapi bukan Sherly kalau betah lama-lama duduk di satu pojok, saya suka duduk di pojok, tapi pindah dari satu pojok ke pojok lain. Saya mulai tertarik dengan jahit menjahit, tanpa modal apa-apa selain minat, saya beli mesin jahit, lalu beli majalah dan buku craft import, beli kain katun, mulai proyek kecil, eh…sepertinya saya berbakat, ya iya dong, kan Mama saya dulu adalah guru menjahit dengan puluhan murid dan jadwal kelas setiap hari. dan beliau terus menjahit sampai saat dipanggil pulang oleh Tuhan. Saya juga suka berjualan, karena cepat dapat uangnya, maka jadilah saya berjualan kain dan perlengkapan menjahit, termasuk pola, majalah dan buku keterampilan, produk lokal dan import, sambil juga berkreasi.
Mencari barang dari sentra dagang lokal dan produk import dari banyak sumber, mengatur pembelian barang, mengupload produk agar bisa diakses secara online, membuat dan mengatur harga jual dengan pertimbangan-pertimbangan logis, menyiapkan pesanan dan mengurus pengiriman, ditambah dengan kegiatan berkreasi, membuat hari-hari saya penuh kesibukan dan penuh semangat. Tidak ada waktu untuk tidur siang, tapi tidur malam menjadi sangat berkualitas. Tidak ada waktu (dan tidak berminat) untuk bergosip, berkaraoke atau night-out bersama teman-teman, tapi saya punya grup teman alumni Tarakanita yang saling mendukung, menginspirasi, dan mensuplai enerji positif…as I keep saying, I’m so blessed to have them all as my friends. Tidak (eh belum, ding 🙂 ) hidup berkelimpahan, tapi Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa, kemampuan dan kecerdasan yang mumpuni, dan kehidupan yang indah.
Anak-anak saya sudah tumbuh sebagai wanita karir, jadi suami dan anak-anak berada di kantor masing-masing Senin sampai Jum’at, ini membuat waktu saya maksimal untuk berkegiatan di rumah.
Beberapa bulan lalu saya mulai menjajaki usaha produksi busana wanita dengan merk hasil kesepakatan kami sekeluarga. Saya mencari bahan, mencari ide dari sebanyak mungkin sumber yang bisa saya akses, mendisain dan memilih tema, menentukan ukuran berdasarkan karakter bahan dan model, merekrut penjahit, menentukan harga jual dengan mempertimbangkan banyak aspek, memikirkan kemasan dan mengatur penjualan, dengan segala keterbatasan dan kemampuan saya, namun dengan semangat penuh, karena saya mendapatkan dukungan tak terbatas dari keluarga dan bergantung pada belas kasih Tuhan yang tak terhingga.
Cita-cita saya untuk menjadi bos sungguhan belum sepenuhnya tercapai, saya masih harus berlari, mengejar kesempatan, mengejar prestasi, merespon berkat yang Tuhan berikan dengan semaksimal daya dan upaya saya sambil terus bersyukur. Tuhan sangat baik, saya harus merespon dengan baik.

~Sherly Hermawan~
Monday, 8th June 2015
Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia
Published on 8th June 2015, 17.28
Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan
-6.308865
106.682188
You must be logged in to post a comment.