To my beloved girls – a poem

19506139692_a70f27917a

My beloved girls, flowers of my soul

Bethinking the initial of your presence in my life

It’s such a thrilling hope

Could I string the blessings up into a perfection?

 

My beloved girls, serenade of my heart

Accompanying your little steps along the life path

It’s such a blissful disquiet

Could I aim your inner eyes straight to the truthfulness?

 

My beloved girls, picture of my love

Relishing your cheerful juvenile moment

It’s such the luminous colours that clearing out all the blue

Would I enjoy your hearty laughters along my time? 

 

My beloved girls, strand of my breath

Perceiving your anxiety and restlessness

It’s like overhearing the melancholic rhythm

Would I able to switch it into a song of loving kindness?

 

My beloved girls, sequence of my hopes and desires

Fingering the tones of your dream and passion hums

It’s such an excitement bounced my heart up

I want to feel the most beautiful moment at the knot of my hopes afterwards

 2  3  5 6  7  11  12  10  8  9     4

Serpong, 25th June 2015

Published on 29th August 2015, 17.19

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Some notes about early mornings

I love early mornings. It feels like I the only one who is awake while the others are still asleep and the world seems so quiet. I like the aroma of dawn, it brings a lot of memories; the romantic, the sweet, the miserably, the cheeriness, the doubtfulness, the blissfulness, the anxiety, and the blessedness.                                                                                    

The wet ground, dew drops on the leaves, dimness daybreak… as if took me into some moments in the past. I can recall the memories with the ones I loved, especially my mom and my sister who are in heaven now, about the places I’d visited either alone or with my family, as well as the situations I’d ever experienced.

Morning walks is one of the good moments to breath-in the dawn aroma. Walking around the neighborhoods when it was still somewhat dark makes me relax to start the day. Thanks to The Lord for allowing us living in this beautiful environment.

IMG-20140629-01655  IMG-20131230-02662

Looking back in 2010, we gratefully had a wonderful chance to make a pilgrimage journey to 16 Mother Mary caves throughout Java island. During the trip we had two-times stay in Hotel Indah, Sarangan, Magetan – East Java. There is Sarangan Lake (Telaga Sarangan) with beautiful scenery right across the hotel. The early morning is truly a fascinating view we’ve never missed.

Hotel Indah, Sarangan. Beautiful morning scenery 1  Hotel Indah, Sarangan. Beautiful morning scenery 2  Hotel Indah, Sarangan. Beautiful dawn view

Further, gladly that I have once worked in Singapore for a couple months. It wasn’t easy to find a quiet moment in this busy city. However, as I prefer to get in the office earlier, it’s quite often that I found myself being in empty train. Early mornings in Singapore is fun, I used to buy fresh-cooked food from the hawkers for my breakfast and occasionally get a cup of coffee from the coffee shop close to my office.

MRT  f337b09531ad50dc7bd07077b7742c0c

The latest visits to Singapore, we were so delighted as we may indulge the lovely early mornings in The Infinity Pool at Sands Sky Park, Marina Bay Sands. I’m really happy that my beloved mom had already enjoyed such a lovely moment.

182748_10150100340189767_1186268_n  The Infinity Pool at Sands Sky Park. It's resting on the 56th floor of Marina Bay Sands

Last but not least, when I got an opportunity for working visit to Germany, I enjoyed the morning drives from one location to another nearby in Schalksmuehle. Of course, it wasn’t me who drives 🙂                                                                     

The most I like when morning comes was breakfast in the hotel, I love German breads and all the spreads on the breakfast table, the smell combination of toast and coffee is totally perfect…hmmm…

Germany Schalksmuehle 2  d1aff3a337941e160c3ceaea3e1abe43

I love early mornings, I love the days full of activities, I love the pleasant evenings, I love the relaxed nights. I thank God for all the blessed moments He lets us to perceive.

Serpong, 11th August 2015, 21.33

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

I Love Birthdays… hari-hari ulang tahun itu menyenangkan… :D

dd4e19de52664ae245f88bd5c688d826

Karena acara utamanya pasti makan, menikmati kuliner yang enak di lidah dan bersahabat dengan perut.

2 hari lalu adalah hari ulang tahun saya, kebetulan hari Sabtu, hari ngumpul keluarga. Acara makan-makan dimulai dari sarapan. Mie Karet Krekot, mie paling enak buat kami sekeluarga, jadi tujuan pertama kuliner ulang tahun kali ini. Ulang tahun harus ada mie kan? semoga kebahagiaan, kesejahteraan dan rejeki selalu hadir dan berlangsung panjang dalam kehidupan keluarga.

Berlokasi di Jl. K.H. Samanhudi (Krekot), tepat di sebelah lintasan Kereta Api Krekot untuk jurusan Senen-Kota, resto sederhana ini sudah ada sejak sekitar 40 tahun lalu. Selain menu utama mie ayam, resto ini juga menyediakan nasi tim, pangsit kuah, kwetiau kuah. Kami belum pernah mencoba menu selain mie ayamnya, bukannya tidak suka, tapi setiap kali kesana gak pernah bisa pindah ke pilihan lain. Makanan pelengkap mie ayam yang tidak pernah kami lewatkan –karena benar-benar menambah selera- adalah cakwe, baso sapi garing, hati ayam rebus, dan baso goreng. Jika datang antara jam 06.30 – 08.00 menu utama dan makanan pelengkap bisa dipastikan masih tersedia lengkap, selewat jam 08.00 pasti ada saja yang sudah habis, cakwe dan hati ayam rebus paling cepat habis.

IMG_20150801_073025_1438389959187_1438390906066

Untuk makan siang, kami pilih Resto Warung Entjiem Lauw’Tan yang berlokasi di Jl. Batu Ceper no. 7, dari Jl. Hayam Wuruk, masuk jalan di sebelah Dunkin’ Donuts, posisinya tepat disebelah Dunkin’ Donuts. Resto bersuasana nyaman, dengan perabot kursi kayu warna gelap, meja-meja marmer untuk 2-4 orang, dan meja besar dari jati untuk 8-10 orang. Nuansa Cina Peranakan cukup terasa, ada beberapa foto tua di langit-langit, tapi buat saya kog kurang bisa dinikmati ya, harus mendongak sih, leher bisa pegel. Pelayanannya cukup baik dan cepat.

Sesuai namanya, resto ini menawarkan masakan Indonesia ala peranakan (encim). Kami memilih beberapa menu andalannya, yaitu Nasi Granat, Nasi Ranjau, Bubur Kampoeng, Gado-gado, Es Campur sebagai desert, dan minumnya Hot Chocolate dan Teh Panas Celup-celup yang free-refill.

IMG_20150801_101035    1438430884736

Nasi granat (menu terkenal dari resto ini): nasi putih yang legit dengan topping campuran potongan ikan peda, pete dan sambel dibungkus daun pisang berbentuk segitiga dengan semat lidi. Porsinya kecil banget, paling ukuran 2-3 suapan normal. Buat saya yang gak terlalu kuat dengan rasa pedas level tinggi, sambelnya terasa cukup menyengat, tapi karena  rasanya enak, meskipun megap-megap kepedasan, habis juga sih. Harga Rp8.500,- perporsi.

IMG_20150801_103335_HDRIMG_20150801_104321_HDR

Nasi Ranjau: mirip dengan Nasi Granat, tapi ada tambahan ayam suwir dan telur dadar diiris tipis, dibungkus daun pisang berbentuk panjang pipih seperti Nagasari (kue pisang). Porsinya satu suap lebih besar daripada Nasi Granat. Pedasnya sama, bikin saya megap-megap juga. Harga Rp10.000,- perporsi.

IMG_20150801_104619_HDR

Bubur Kampoeng: bubur ala Jakarta dengan taburan ayam suwir, irisan cakwe, kacang kedelai goreng dan daun bawang iris, disajikan dengan kerupuk meriah dan kuah santan kuning dalam mangkuk terpisah. Rasanya gurih (karena kuah santannya) dan enak, buburnya gak encer, jadi cukup bikin kenyang. Harga Rp22.000,- perporsi.

IMG_20150801_102937_HDR

Gado-gado: seperti umumnya, campuran sayuran rebus dengan saus kacang, dilengkapi potongan lontong. Yang saya suka saus kacangnya diulek, jadi sayurannya dimasukkan ke saus kacang ulek yang sudah diracik dengan bumbu-bumbu. Saya tidak suka gado-gado dengan saus kacang yang diblender, kurang klik rasanya. Toppingnya telur rebus setengah, bawang goreng, dan emping. Harga Rp25.000,- perporsi.

IMG_20150801_103535_HDR

Es campur: ada kolang-kaling, tape, alpukat, nangka, dan potongan roti tawar dipenuhi es serut dengan sirup merah dan susu kental manis. Belakangan ini saya memang lagi senang menikmati desert, jadi menurut saya es campur ini enak J. Harga Rp22.500,- perporsi.

Hot Chocolate: ini pesanan anak saya yang suka banget minuman coklat. Harga Rp19.000,- percangkir

Teh Panas Celup-celup: Air putih panas dengan 1 kantong teh beraroma melati. Boleh minta air putih panasnya berkali-kali. Harga Rp13.000,- percangkir.

IMG_20150801_103436_HDR_1438434795062  IMG_20150801_103140_HDR

Menu andalan lainnya yang layak dicoba:

* Homemade Tahu Lada Garam Rp27.000,- perporsi

* Engkong Tan’s Favorite Rice: nasi dengan topping irisan daging sapi dan sayuran,  Rp45.000,- perporsi

* Entjiem Hainam Chicken Rice Rp35.000,- perporsi

* Nasi Lemak Bakar Rp35.000,- perporsi

* Laksa Nyonya Besar Rp37.000,- perporsi

Di tulisan berikutnya akan saya lengkapi foto menu-menu sedap tersebut 🙂

Resto berlokasi mudah dicari, bersuasana nyaman dan bersih, makanannya enak, harganya cakep buat kantong, pelayanannya oke, narsis tidak dilarang (boleh foto-foto), kami pasti datang lagi dan lagi… 😀

IMG_20150801_102402_HDR IMG_20150801_102550_HDR

“Life should not only be lived, it should be celebrated” ~Osho~

Monday, 3rd August 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 3rd August 2015, 23.22

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Satu arah perjalanan saya

buku135 alt1   12039514_911321908904384_2048587219831871003_n

Dulu sekali, semasa di SD, berangkat dari kesukaan membaca yang termasuk agak ‘lebih’, saya bermimpi saat besar nanti ingin punya persewaan buku, karena saya punya banyak sekali buku cerita anak dan majalah anak, saya senang tukar-tukaran buku cerita dengan teman, dan sesekali meminjamkan buku ke teman yang saya anggap ‘bisa dipercaya’  🙂

Saat di SMP dan SMA, saya mulai membaca dan mengoleksi novel remaja dan novel roman penulis Indonesia –koleksi nyaris lengkap saya karya Marga T. dan Mira W.-, juga novel terjemahan yang ‘melambungkan khayalan’ karya Barbara Cartland, Anne Hampson, dan beberapa penulis lain yang karyanya bergenre sama.

Di tahun terakhir SMA yang berlanjut saat di bangku kuliah, saya tinggalkan novel-novel roman terjemahan karena bosan juga akhirnya membaca sambil terus membayangkan para upik abu dan gadis biasa yang dicintai sang duke, marquess, viscount, dan baron, kemudian di ujung cerita baru ketahuan si upik abu atau gadis biasa itu ternyata adalah juga putri berdarah ningrat…hihihi…ini bagian yang bikin perasaan saya ikut ‘melambung’… abg banget yaaa..

Saya pindah ke novel-novel sastra atau roman yang lebih serius, dan mulai membaca novel berbahasa Inggris, selera ini terjaga dan berkembang terus hingga saat ini. Beberapa penulis favorit saya: Mitch Albom, Paulo Coelho, Maeve Binchy, Nora Roberts, Cecelia Ahern, Nicholas Sparks. Saya suka karya sastra Jane Austen, D.H. Lawerence, Emily dan Charlotte Brontë,  Louisa May Alcott. Selain fiksi, saya juga mulai gemar membaca buku-buku inspirational, motivational, dan self-help. Eh, saya rakus kan ya… 😉

Nah, saat diawal masa kuliah itu -gak inget pastinya kapan-, saya mulai bermimpi ingin punya toko buku kecil bersuasana cozy, dengan sofa-sofa nyaman, lampu baca dan musik lembut, pokoknya suasana yang mendukung untuk membaca dengan nyaman, bahkan lebih nyaman daripada di rumah sendiri…hahhaha…utopis amat yaaa…

Jenis buku yang saya ingin jual adalah, fiksi (romance) dan non-fiksi (inspirational, motivational, modern spiritual, parenting, history & culture, self-help, hobby, crafts). Gak mau jual buku-buku non-fiksi tentang politik, perang, masalah hukum, sejarah gelap, budaya buruk…hahha…penjual suka-suka, milih yang enak dan indah aja…

Saya akan melayani sendiri para pengunjung, menjadi kasir yang mengajak ngobrol singkat tentang buku yang dibeli oleh pelanggan… ah, mimpi yang sangat menyenangkan….

Hingga lulus kuliah dan bekerja, mimpi ini terus saya bawa, bahkan sempat saya ceritakan ke 2 orang sahabat yang salah satunya beberapa tahun lalu sempat mengatakan bahwa dia ingat ‘cita-cita’ saya itu… terima kasih, Ashiu 🙂

Saya bekerja kantoran mulai tahun 1984, sebelum lulus kuliah. Tahun 2000 saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan-bukan-milik-saya. Alasan sesungguh-sungguhnya terkesan bukan saya banget deh…saya kan tipe serius, apa-apa dipikir dari segala penjuru. Yang ada dalam pikiran saya saat itu ‘saya bosan bekerja dengan digaji oleh perusahaan orang, kepengin menggaji diri sendiri meskipun belum punya perusahaan’… dan dengan alasan ‘ingin wiraswasta’ itulah saya memberi kejutan buat bos saya. Diminta berpikir ulang dan menunda keputusan, tapi mimpi saya sudah berubah menjadi cita-cita, dan saya sudah memutuskan untuk segera menjadi bos… dengan keinginan kuat dan kecerdasan, semua bisa jadi bos kan?

Saya berterima kasih pada Bapak Dharmawan (dan juga almarhum Bapak Jacky Indarto), yang memberikan kesempatan indah bagi saya untuk menjadi sekretaris dan asisten pribadi selama saya bekerja di grup perusahaan beliau. Dalam kehidupan saya, beliau tetap dan akan selalu sebagai bos, tidak pernah jadi mantan bos. Saat Tuhan memberikan saya kesempatan untuk jadi bos, Bapak adalah bosnya bos 🙂

Begitu berhenti jadi orang kantoran, saya jadi orang rumahan, dan saya menepati janji pada mimpi saya, meskipun dengan negosiasi tipis, saya berjualan buku secara online. Toko dengan suasana cozy masih tersimpan sebagai ‘bagian mimpi yang perlu diracik dulu’.

Selanjutnya, bukan hanya jadi bos toko buku online, saya juga membuka kantin dan mini market di salah satu food court universitas swasta. Bos kan gak dilarang punya beberapa main business dan side job. Sekretaris atau karyawan gak boleh, iya kan?

Mini market larisnya bikin hati gembira, beda dengan kantin, rupanya menu yang saya tawarkan kurang cocok dengan selera mahasiswa. Gak mau lama-lama, setelah 3 bulan berjalan dengan dukungan dana dari mini market, kantin saya jual.  Fokus pada mini market, tanpa harus mensubsidi kantin, hasilnya semakin menggembirakan, puji Tuhan! Setelah berjalan sekitar 1,5 tahun, ada tetangga sesama merchant yang naksir berat mini market saya, memberikan penawaran bagus untuk membeli usaha ini, iseng tapi ringan hati, saya minta sedikit lebih tinggi, disetujui, nah jadilah saya orang rumahan lagi, menggiatkan lagi jualan buku secara online, yang sempat meredup karena sibuk di mini market …hahha…life is beautiful, anyway….

Jualan buku dan menjalani peran hakiki saya, istri dan mama, yang tetap hobi baca buku, sungguh bahagia. Tapi bukan Sherly kalau betah lama-lama duduk di satu pojok, saya suka duduk di pojok, tapi pindah dari satu pojok ke pojok lain. Saya mulai tertarik dengan jahit menjahit, tanpa modal apa-apa selain minat, saya beli mesin jahit, lalu beli majalah dan buku craft import, beli kain katun, mulai proyek kecil, eh…sepertinya saya berbakat, ya iya dong, kan Mama saya dulu adalah guru menjahit dengan puluhan murid dan jadwal kelas setiap hari.  dan beliau terus menjahit sampai saat dipanggil pulang oleh Tuhan. Saya juga suka berjualan, karena cepat dapat uangnya, maka jadilah saya berjualan kain dan perlengkapan menjahit, termasuk pola, majalah dan buku keterampilan, produk lokal dan import, sambil juga berkreasi.

Mencari barang dari sentra dagang lokal dan produk import dari banyak sumber, mengatur pembelian barang, mengupload produk agar bisa diakses secara online, membuat dan mengatur harga jual dengan pertimbangan-pertimbangan logis, menyiapkan pesanan dan mengurus pengiriman, ditambah dengan kegiatan berkreasi, membuat hari-hari saya penuh kesibukan dan penuh semangat. Tidak ada waktu untuk tidur siang, tapi tidur malam menjadi sangat berkualitas. Tidak ada waktu (dan tidak berminat) untuk bergosip, berkaraoke atau night-out bersama teman-teman, tapi saya punya grup teman alumni Tarakanita yang saling mendukung, menginspirasi, dan mensuplai enerji positif…as I keep saying, I’m so blessed to have them all as my friends. Tidak (eh belum, ding 🙂 ) hidup berkelimpahan, tapi Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa, kemampuan dan kecerdasan yang mumpuni, dan kehidupan yang indah.

Anak-anak saya sudah tumbuh sebagai wanita karir, jadi suami dan anak-anak berada di kantor masing-masing Senin sampai Jum’at, ini membuat waktu saya maksimal untuk berkegiatan di rumah.

Beberapa bulan lalu saya mulai menjajaki usaha produksi busana wanita dengan merk hasil kesepakatan kami sekeluarga. Saya mencari bahan, mencari ide dari sebanyak mungkin sumber yang bisa saya akses, mendisain dan memilih tema, menentukan ukuran berdasarkan karakter bahan dan model, merekrut penjahit, menentukan harga jual dengan mempertimbangkan banyak aspek, memikirkan kemasan dan mengatur penjualan, dengan segala keterbatasan dan kemampuan saya, namun dengan semangat penuh, karena saya mendapatkan dukungan tak terbatas dari keluarga dan bergantung pada belas kasih Tuhan yang tak terhingga.

Cita-cita saya untuk menjadi bos sungguhan belum sepenuhnya tercapai, saya masih harus berlari, mengejar kesempatan, mengejar prestasi, merespon berkat yang Tuhan berikan dengan semaksimal daya dan upaya saya sambil terus bersyukur. Tuhan sangat baik, saya harus merespon dengan baik.

Placemat

~Sherly Hermawan~

Monday, 8th June 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 8th June 2015, 17.28

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan