The ones that love us never really leave us (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

This morning, a friend who has lived in Sydney, Australia for a dozen years posted sad news to the WA group. His elder brother in Jakarta was found dead in the car he was driving.

Information received from the neighborhood community where the incident occurred was that the deceased had a heart attack while driving his car alone. When the attack occurred, his car hit a fence and a tree by the side of the road. It looks like the car is being driven at a low speed, so that the impact is not hard, and the damage to the car is not severe. The deceased suffered no injuries.

My friend is very sad because during the current pandemic, it is difficult to be able to visit Indonesia for any reason. Even sadder,  because it’s been a long time he did not return to Indonesia, and he had no chance to talk with his brother for a quite long while.

In sadness, the longing feels so intense, the desire to chat suddenly becomes so great, there are lots of things that really want to be asked. The memories of being together suddenly appeared, adding to the pain.

Basically we are never ready for a separation, especially with those close in our heart. I felt the sadness that had persisted since my younger sister passed away, then my mother 2 years later, then my father 2 years after my mother. Remembering their words and styles is something I never miss in my everyday life.

I believe in Sirius Black’s phrase “The ones that love us never really leave us”. Every now and then I can feel the presence of my mother, father and sister when I am alone. When longing is so deep and when sad or happy, I talk to them.

When we, my husband and I, agreed to decide to go on a pilgrimage to the Holy Land, in prayer I conveyed it to my mother, father and sister with feelings of happiness and sadness. Happy that God gave us such a wonderful opportunity, sad as to imagine how much happier it would be if we could go together.

Only prayer can strengthen us, only faith can provide comfort for us who still have to complete our journey in this world. Believe, God’s ways and paths are the best and those who have returned to our Father’s home are united with heavenly peace and love.

Seorang teman yang sudah belasan tahun menetap di Sydney, Australia, tadi pagi memposting berita duka di grup WA. Kakaknya di Jakarta ditemukan meninggal di dalam mobil yang dikendarainya. Info yang diterima dari komunitas lingkungan tempat kejadian adalah almarhum terkena serangan jantung saat sedang mengendarai mobilnya sendirian. Ketika serangan terjadi, mobilnya menabrak pagar dan pohon yang berada dipinggir jalan. Kelihatannya mobil dikendarai dengan kecepatan rendah, sehingga benturan tidak keras, dan kerusakan mobil tidak parah. Almarhum tidak menderita luka.

Teman saya sedih karena dimasa pandemi sekarang ini, sulit untuk bisa berkunjung ke Indonesia dengan alasan apapun. Lebih menyedihkan,karena sudah cukup lama dia tidak kembali ke Indonesia, sudah lama tidak berbincang dengan kakaknya tersebut.

Dalam kesedihan, kerinduan terasa begitu pekat, keinginan untuk mengobrol mendadak menjadi begitu besar, ada banyak hal yang ingin sekali ditanyakan. Kenangan-kenangan saat bersama tiba-tiba muncul semua, menambah kepedihan.

Pada dasarnya kita tidak pernah siap dengan perpisahan, terutama dengan orang-orang yang dekat di hati. Saya merasakan kesedihan yang menetap sejak berpulangnya adik saya, lalu mama saya 2 tahun setelahnya, kemudian papa saya 2 tahun setelah mama. Mengingat kata-kata dan gaya mereka adalah hal yang tidak pernah terlewatkan di setiap hari saya.

Saya percaya dengan ungkapan Sirius Black “The ones that love us never really leave us”. Sesekali saya bisa merasakan kehadiran mama papa dan adik saya di saat saya sedang sendiri. Ketika rindu begitu dalam dan ketika sedih atau bahagia, saya bicara pada mereka.

Saat kami, saya dan suami, sepakat memutuskan untuk pergi berziarah ke Tanah Perjanjian, dalam doa saya sampaikan ke mama papa dan adik dengan perasaan bahagia dan sedih. Bahagia karena Tuhan memberi kami kesempatan yang sangat indah, sedih karena membayangkan betapa lebih bahagianya jika kami bisa pergi bersama-sama.

Hanya doa yang bisa menguatkan kita, hanya iman yang mampu memberikan penghiburan buat kita yang masih harus menyelesaikan perziarahan kita di dunia ini. Percaya, cara dan jalan Tuhan adalah yang terbaik dan mereka yang sudah pulang ke rumah Bapa sudah menyatu dengan damai dan kasih Surgawi.

Sherly Hermawan
Serpong, Friday, 29 January 2021


Published on 29th January 2021, 22.23

Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Stillness ~ Peace ~ Happiness — Hening ~ Damai ~ Bahagia (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

textgram_1543019572

Hening – sebuah puisi

Hening adalah ibunda
Pemilik kasih dengan kekuatan tak terkalahkan
Hening adalah kekasih
Penyejuk hati dengan kemesraan tanpa nafsu
Hening adalah sahabat
Pelipur lara dengan kesabaran tanpa batas

Hening adalah jiwa yang terhimpit
Menyeruak ruang, mengalahkan sesak
Hening adalah semangat yang tertekan
Menjangkau langit, meraih kemenangan
Hening adalah doa
Mengukir harapan, merangkul bahagia

Hening adalah jiwaku yang bebas

Sherly Hermawan
Serpong, Sabtu, 24 Nopember 2018

 

textgram_1543121442

Damai – sebuah puisi

Damai tertera di langit biru
Menyapa bumi yang riuh rendah
Menenangkan semua makhluk yang gelisah
Jiwaku mengharu-biru menggapainya

Damai mengheningkan kegaduhan
Ia mengisi batin yang hampa
Memberi kesejukan bagi semua yang gersang
Ia mengajarku untuk bahagia dengan caranya.

Damai membuatku ramah pada diri sendiri
Merendah atas kebanggaan diri
Berdamai dengan kepedihan
Ia menemaniku menghitung setiap berkat

Sherly Hermawan
Serpong, Minggu, 25 Nopember 2018

 

textgram_1543249603

Bahagia – sebuah puisi

Bahagia membentang di semesta
Bergulung bersama gelombang gairah
Menyelinap disela-sela kerikil kehidupan
Berteriak lantang mengusir kepahitan
Suatu ketabahan yang menihilkan benci dan dendam

Bahagia tersaji hangat dan nikmat
Di cangkir kopiku, di mangkok rawonku, di pincuk pecelku
Ia merambat di nadi, mengisi sela-sela sendi
Memompa hasrat ketulusan ke jantung
dan menebarkan kearifan dalam ucap dan sikap

Bahagia ada di keseharian,
bebas dan tidak berprasangka, sederhana dan tidak gentar

Bahagia adalah hening dan damai yang kurangkai dalam jiwa

Sherly Hermawan
Serpong, Senin, 26 Nopember 2018

 

Published on 28th November 2018, 07.02

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

Birthday Note (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

birthday

Celebrating birthday… why not? as long as it implies as an expression of gratitude

Birth is our beginning. Birthday is an opened window of chance for us to start our life, the chance to fulfill our unique missions. So, a birthday is a momentous occasion to celebrate, to be remembered, just as a nation commemorates its birth or as an organization celebrates its founding. Not just a chance to party, eat well and receive gifts, instead it is a chance to remember the day that a special event occurred, to celebrate and give thanks and to reflect upon how well we fulfill our calling.

Day of birth is the day when we were mandated to participate in building the world. The Day when God entrusts us to face the challenges of the world. At the same time, we are given the ability to attain a qualified spiritual elevation to achieve the purpose of life – an unimaginable height for the soul before it is released from the noble heavenly abode to inhabit the physical body.

A birthday is a time to celebrate our existence as the part of joyful of the universe. Our existence should be the joy of the universe. It is also time to rethink our journey of life: how far have we stepped ahead, how big is the disparity between what I have accomplished and what I can accomplish? Am I spending my time properly or am I allowing myself to involve in things that distract me from my higher calling? How can I strengthen the thread that connects my outer life and my inner life?

Celebrating birthdays can be a moment to recall our birth, recall our beginning. How we were well prepared to start the life, we were entrusted by the Lord Creator, we had missions.

No matter how things went yesterday, or last year, this present moment we always have the capacity to try again. Birthday is a refresher, a chance for regeneration—not just materially, but spiritually.

Birthday celebration could also be a good time to show confidence that I am and will continue to be worthy of God’s trust. No matter the obstacles, I will persevere and live up to God’s expectations of me.

And now, with all the goodness of life; health, logical ability, qualified adequacy, beautiful and blessed family life, good spiritual and religious sides, good social life, good friends and encouraging friendships, I know it is good for me to celebrate my birthday, today, as an expression of my gratitude to the Lord Creator and also to the universe that are so extraordinary organizing this life.

Happy birthday to the happy-me, not just a one-day happiness, but I want the happiness that is always available and never receded, never faded.

May God be pleased.

20180801_122700

My birthday breakfast.. simple, and I love it.

 

Merayakan ulang tahun … kenapa tidak? selama itu dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur

Kelahiran adalah awal kita. Hari lahir adalah jendela kesempatan yang terbuka untuk kita memulai kehidupan, kesempatan untuk memenuhi misi-misi unik kita. Jadi, ulang tahun adalah momen yang sangat penting untuk dirayakan, untuk diperingati, sama seperti sebuah bangsa memperingati kelahirannya atau sebagai organisasi merayakan pendiriannya. Bukan sekadar kesempatan untuk berpesta, makan-makan dan menerima hadiah, melainkan kesempatan untuk mengingat hari ketika suatu peristiwa istimewa terjadi, untuk merayakan dan bersyukur dan untuk merefleksikan seberapa baik kita memenuhi panggilan kita.

Hari lahir adalah hari ketika kita diamanatkan untuk ikut membangun dunia. Hari ketika Tuhan mempercayakan kita untuk menghadapi tantangan dunia. Di saat yang sama, kita diberi kemampuan untuk mencapai ketinggian spiritual yang mumpuni untuk meraih tujuan kehidupan — ketinggian yang tak terbayangkan bagi jiwa sebelum dilepaskan dari tempat tinggal surgawi yang luhur untuk menghuni tubuh fisik.

Ulang tahun adalah saat untuk merayakan eksistensi kita sebagai bagian dari kegembiraan alam semesta. Keberadaan kita selayaknya menjadi kegembiraan alam semesta. Ini juga merupakan saat untuk memikirkan kembali perjalanan hidup kita: seberapa jauh kita telah melangkah, seberapa besarnya perbedaan antara apa yang telah saya capai dan apa yang dapat saya capai? Apakah saya menggunakan waktu dengan benar atau apakah saya membiarkan diri terlibat dalam hal-hal yang mengalihkan perhatian saya dari panggilan saya yang lebih tinggi? Bagaimana saya bisa memperkuat benang yang menghubungkan kehidupan luar saya dan kehidupan batin saya?

Merayakan ulang tahun bisa menjadi momen untuk mengingat kelahiran kita, mengingat awal kita. Bagaimana kita dipersiapkan dengan baik untuk memulai hidup, kita diberikan kepercayaan oleh Sang Pencipta, kita punya misi.

Tidak peduli bagaimana keadaan kemarin, atau tahun lalu, saat sekarang ini kita selalu memiliki kemampuan untuk mencoba lagi. Ulang tahun adalah penyegaran, kesempatan untuk regenerasi — bukan hanya secara materi, tetapi juga spiritual.

Perayaan ulang tahun juga bisa menjadi saat yang tepat untuk menunjukkan keyakinan diri bahwa saya dan akan terus menjadi layak sebagai kepercayaan Tuhan. Tidak peduli rintangannya, saya akan bertahan dan hidup sesuai dengan harapan Tuhan terhadap saya.

Dan sekarang, dengan segala kebaikan hidup; kesehatan, kemampuan logika, kecukupan yang berkualitas, kehidupan keluarga yang indah dan terberkati, sisi-sisi spiritual dan religi yang terpupuk baik, kehidupan sosial yang baik, teman-teman yang baik dan persahabatan yang menyemangati,  bukankah sepatutnya saya merayakan ulang tahun saya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta dan juga kepada semesta yang begitu ramah menyelenggarakan kehidupan ini?

Selamat ulang tahun kepada saya yang berbahagia, bukan hanya kebahagiaan satu hari, tetapi saya ingin kebahagiaan yang selalu tersedia dan tidak pernah surut, tidak pernah pudar.

Semoga Tuhan berkenan.

birthday to me

Serpong, 1st August 2018, 17.01

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Morning notes: Be thankful – Catatan pagi: Bersyukur (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

20180624_065652 20180519_060609

Because in real, there are always things we should be thankful for in every second of our lives

Getting up in the morning in health blessings, in the regularity of breath, having time, intention and ability for morning prayer, being able to move the limbs according to the command from clear and healthy brain, hearing the sounds of nature and inhaling all of goodness, opening the door of the house, the door of the heart, the eyes of the soul, and the mind for all the goodness, tenderness and strength that nature provides.

Having chance and ability to set choices and make decisions on every side, angle, arch, length, valley and hill of life. Instinctively, applying the simplicity that lightens the soul, the intelligence that elevates the dignity, the truth that protects the heart. Having a good family life, a qualified social life, an eloquence in taking responsibility, a reasonableness in thinking and acting, a sensitivity as a balancer to the assertiveness, passion and enthusiasm as self-fulfillment.

Being able to feel the fatigue as an accomplishment, smile over mistakes of experience-worth, laugh as a manifestation of respect for life, self-forgive for a conscious stupidity, tolerate to lack of self-ability , create the right lashs as a trigger for more self-achievement.

Being able to put something that is not obtained or something missing as a reminder to count the blessings and give thanks for everything that has been obtained and owned.

Being able to rest without burden, having a quiet moment for evening prayer and being thankful for all grace, contemplating on goodness and glory, compiling humility and patience, building plans for a better tomorrow.

Above those all, thankful for I’m the beloved of the Most-Gracious-One.

20180624_113808 20180624_065733

Karena senyatanya selalu ada hal yang patut kita syukuri di setiap detik kehidupan kita

Bangun pagi dalam berkat kesehatan, dalam keteraturan napas, punya waktu, niat dan kemampuan untuk berdoa pagi, bisa menggerakkan anggota tubuh sesuai perintah otak yang jernih dan sehat, mendengar suara alam dan menghirup segala kebaikannya, membuka pintu rumah, pintu hati, mata jiwa, dan pikiran bagi segala kebaikan, kelembutan dan kekuatan yang disediakan alam.

Punya kesempatan dan kemampuan untuk menentukan pilihan dan membuat keputusan di setiap sisi, sudut, lengkung, panjang, lembah dan bukit kehidupan. Bernaluri dalam menerapkan kesederhanaan yang meringankan jiwa, kecerdasan yang meninggikan harkat, kebenaran yang melindungi hati.

Memiliki kehidupan berkeluarga yang baik, kehidupan sosial yang mumpuni, kefasihan menjalani tanggung jawab, kewajaran dalam berpikir dan bertindak, kepekaan sebagai penyeimbang ketegasan, minat dan antusiasme sebagai pemenuhan diri.

Bisa merasakan lelah sebagai prestasi, tersenyum atas kekeliruan yang bernilai pengalaman, tertawa sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan, memaafkan diri atas kebodohan yang disadari, bertoleransi terhadap kekurang-piawaian diri, menciptakan lecutan yang tepat sebagai pemicu untuk pencapaian diri yang lebih.

Bisa menempatkan sesuatu yang tidak diperoleh atau sesuatu yang hilang sebagai pengingat untuk menghitung berkat dan bersyukur atas segala sesuatu yang telah diperoleh dan dimiliki.

Bisa beristirahat tanpa beban, punya saat hening untuk berdoa malam dan mensyukuri semua anugerah, merenung tentang kebaikan dan keindahan, menata kerendahan hati dan kesabaran, membangun rencana untuk esok yang lebih baik.

Lebih dari semua itu, bersyukur karena saya adalah milik Dia Yang Maha Pengasih.

20180624_064927 20180531_050205

 

Serpong, 24th June 2018, 11.52

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

A little story: Number – Cerita ah..: Angka (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

IMG_20180616_204804_193012558120180616_213814

I like the number 9.

The initial cause is the birth dates of my family member, myself (1), husband and second child (5), first child and her son/my grandson (3), if summed (1 + 3 + 5) , then the result is 9.

Then I take those date numbers for my online bookstore’s name, Buku135. Meanwhile, the abbreviation for my craft store is CCC of which if it being summed, I got 9, since C is the 3rd alphabet…ahaa … don’t need to argue, it’s just because I like the number 9.

There was a friend of mine who liked the number 8, because the number 8 was circularly unbroken, she said.

As I was so excited with the number 9, when doing things related to numbers, I used to engage the number 9 in, eg. in setting the sale price, the figures in each sale price if summed the result is 9, example Rp45.000, -, Rp220.500, -, Rp99.450, -.

In creating product labels, I will make numbers of the dimension amounting to 9, eg. 27 mm x 45 mm. The length of the products I will send to the buyers will also be added a little so that the numbers to be summed will be 9, eg. 6 m lace order, I send 6.03 m; 4 m cloth order, I send 4.05 m.

Editing images, I will set one of the pixel sizes with numbers that if summed, the result is 9, eg. 459 pixels.

When transferring funds, I will also add a little so that the summed numbers is 9, eg I transfer Rp 300.600, – for the actual amount of Rp300.000, -.

In organizing knick knacks I also like to set them in the amount of 9; plates, books, snacks, pieces of fruit, and some other stuffs.

IMG_20180616_221235_1126963722 IMG_20180616_163255_2029766380

Thing that might be somewhat funny for others is when cooking, I used to also arrange the number of slices or pieces with a multiple of 9, eg carrot slices totaling 18 or 27, chicken / meat / fish pieces into 9, or make 36 or 45 pcs of snack… hahha… it could be complicated for someone else, but for me not, I get used playing with the number of pieces, guessing the thickness of the slice to fit into a multiple of 9 and I enjoy this habit as something fun that makes me relax.

I like the number 9, purely just likes, no other content or indication, no cult, no obsession or necessity, nor a burden of mind when it is impossible to get the number 9. Just the same as my other likes; walking around, hanging out with friends, taking unique and beautiful photos, enjoying favorite foods that sometimes have to travel some distance first, cooking, sewing, writing, and having fun in social media.

I have many things to like, and a lot of things that I am passionate for 🙂 ❤

20

Saya suka angka 9.

Penyebab awalnya adalah tanggal lahir-tanggal lahir anggota keluarga saya, saya sendiri (1), suami dan anak kedua (5), anak pertama dan puteranya/cucu saya (3) kalau dijumlah (1+3+5), hasilnya 9.

Kemudian saya ambil angka tanggal-tanggal tersebut untuk nama toko buku online saya, Buku135. Sementara, singkatan untuk toko craft saya adalah CCC yang menurut saya kalau dijumlah hasilnya juga 9, karena C adalah abjad ke3… hahha… semau-maunya ya.

Ada seorang teman yang suka dengan angka 8, karena angka 8 itu melingkar tak terputus, katanya.
Saking sukanya dengan angka 9, saat mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan angka, saya terbiasa mengikutsertakan angka 9, misal membuat harga jual, angka-angka di setiap harga jual jika dijumlah hasilnya 9, contoh Rp45.000,-, Rp220.500,-, Rp99.450,-.

Membuat label produk, saya akan membuat angka-angka ukurannya berjumlah 9, misal 27 mm x 45 mm. Ukuran produk yang akan saya kirim ke pembeli juga akan saya tambahkan sedikit sehingga jumlahnya menjadi 9, misal pesanan renda 6 m, saya kirim 6,03 m, pesanan kain 4 m, saya kirim 4,05 m.

Mengedit images, salah satu ukuran pixelnya akan saya atur dengan angka-angka yang jika dijumlah hasilnya 9, misal 459 pixels.

Ketika mentransfer dana, saya juga akan menambahkan sedikit jumlahnya agar angka-angkanya berjumlah 9, misal saya transfer Rp300.600,- untuk jumlah yang sebenarnya Rp300.000,-.

Dalam menata pernak pernik juga saya senang mengaturnya dalam jumlah 9; piring, buku, snack, potongan buah, dan lain-lain.

20180616_170258

Yang mungkin agak lucu buat orang lain adalah saat memasak, saya juga terbiasa mengatur jumlah irisan atau potongan dengan kelipatan 9, misal irisan wortel berjumlah 18 atau 27, potongan ayam/daging/ikan berjumlah 9, atau membuat cemilan berjumlah 36 atau 45 … hahha… bisa jadi ribet ya buat orang lain, buat saya gak, saya jadi terbiasa bermain-main dengan jumlah potongan, mengira-ngira ukuran irisan supaya pas jadi kelipatan 9 dan saya menikmati kebiasaan ini sebagai hiburan yang membuat saya rileks.

Saya suka angka 9, murni sekedar suka, tidak ada kandungan atau indikasi lain, tidak ada pengkultusan, tidak jadi obsesi atau keharusan, tidak juga jadi beban pikiran ketika tidak memungkinkan mendapat angka 9. Sama saja dengan kesukaan-kesukaan saya yang lainnya; berjalan-jalan, kumpul dengan teman-teman, mengambil foto yang unik dan indah, menikmati makanan favorit yang kadang harus dengan menempuh jarak agak jauh dulu, memasak, menjahit, menulis, dan bersosial media.
Saya memang banyak sukanya, banyak maunya juga 🙂 ❤

IMG_20160303_080025  20180329_073402

 

Serpong, 16th June 2018, 22.50

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Tentang kepasrahan dan perjuangan – About defenselessness and struggle (2 versions: Bahasa Indonesia & English)

image1 struggle     dont give up

Hampir setiap kali pulang dari pasar Sinpasa (Gading Serpong) selama beberapa bulan terakhir ini, saya melihat pasangan suami istri setengah baya ini. Mereka duduk diatas sehelai alas plastik, yang dihamparkan diatas rumput. Didepan mereka selalu ada ikatan daun pisang yang sudah dikemas cukup rapi, kadang ada 4 ikat, kadang tinggal 3, 2 atau 1 ikat, tapi tidak pernah saya lihat lebih dari 4 ikat.

Mereka, dengan ikatan daun pisang itu, cukup menarik perhatian saya setiap kali melintas disana, terus terang mata saya selalu mencari mereka. Sesekali saat mereka tidak ada ditempat itu, ada sedikit rasa kuatir, kenapa ya mereka gak jualan. Beberapa hari lalu, saat melintas disana, kebetulan dengan suami, eh pacar ding 🙂 … pacar bilang ‘mampirin yuk, kasih jajan sedikit, kasian udah tua-tua begitu’. Saya turun, si bapak segera berdiri sambil mau menyodorkan 1 ikat daun pisangnya. Saya bilang ‘saya gak mau daun pisangnya pak, ini buat jajan bapak ibu aja’. Sedikit diluar dugaan saya, mereka berdua melongo selama beberapa detik, sempat bikin saya jadi salting (ketauan deh, saya jarang kasih kejutan ke orang lain, sekalinya kasih kejutan kecil, saya yang salting). Setelah detik-detik kikuk tersebut, si ibu yang duluan mengambil sikap, dia berdiri membungkuk sambil bilang ‘terima kasih bu, terima kasih bu’, eh si bapak malah mewek… nahlooo makin saltinglah saya. Setelah semua kembali tenang, saya sempetin nanya-nanya dan ngomong sedikit:

“Tinggal dimana, pak bu?”

Jawabnya, “disono” (sambil nunjuk ke arah kiri), di kampung bu (maksudnya mungkin di perkampungan pinggiran Gading Serpong)

“Jauh ya,  jalan kaki kesininya?”

“Iya bu, jalan pelan-pelan”

“Ada anak-anak bu, pak?”

“Anak mah ada 6, tapi gak tau pada dimana, tinggalnya pada jauh-jauh.”

“Daun pisang ini dapat dari mana?”

“Dari kampung, kan di kampung banyak pohon pisang, boleh ambil aja daunnya terus dijual buat beli makanan sehari bu. Tapi ntar sore bisa bikin ketimus buat dijual besok. >> untuk jawaban ini, setelah saya obrolin dengan suami, maksudnya kira-kira begini: biasanya uang yang mereka dapat dari hasil menjual daun pisang hanya cukup untuk membeli makanan mereka untuk sehari (makan siang dan makan malam), tetapi hari itu karena mereka mendapat sedikit tambahan rejeki, mereka bisa membeli makanan seperti biasa dan bisa juga membeli bahan-bahan untuk membuat ketimus yang akan mereka jual esok hari. Semoga yaaa…rejeki yang kami bagi itu, meskipun tidak besar, akan memberi manfaat baik buat mereka.

“Oo ibu bisa bikin ketimus?”

“Emang bikin, bu, tapi tempo hari saya dan bapak sakit, modalnya kepake.”

“Oo begitu, mudah-mudahan tetep sehat ya pak bu, mudah-mudahan bisa terus bikin ketimus dan laris.”

“Terima kasih bu, terima kasih banyak bu.” jawaban penutup sambil memberi salam dengan kedua tangan mereka. Dan saya kembali ke mobil untuk berbagi rasa senang dengan suami.

Catatan saya:

Banyak orang yang hidupnya berbeban berat, namun dalam kepasrahan, mereka tetap berjuang. Dalam keterbatasan, mereka tetap berupaya. Dalam kekurangberdayaan, mereka tidak menyerah.

Hidup seringkali tidak mudah, tapi kita yang dilengkapi dengan kecerdasan dan keberdayaan untuk menjalani hidup, dan kemampuan untuk bersyukur atas semua berkat dan sukacita yang diberikan kepada kita, semestinya kita bisa membuat diri dan kehidupan kita menjadi lebih baik. Jangan membebani hidup dengan pikiran-pikiran yang keliru tentang alam, situasi dan orang lain, jangan mudah menggerutu atau mengumpat, jangan melemahkan diri sendiri dengan kepesimisian dan sikap tidak percaya diri, namun jangan juga meremehkan hidup dengan sikap angkuh dan selalu merasa benar.

IMG_20160322_081134

Almost every time on my way back home from Sinpasa market at Gading Serpong, during these last few months, I saw a middle-aged-couple, sitting on a plastic sheet stretched on the grass.  In front of them there are always some bundles of banana leaf  that have been packed pretty neatly, sometimes 4 bundles, sometimes just 2 or 1 bundle left, but as far as I remember there were never more than 4 bundles. They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there,

They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there, frankly my eyes are always looking for them. Occassionaly when they were not there, there is a bit of anxiety, what’s with them so they do not show up.A few days ago, while passing there, with hubby, he said “let’s stop by, give them a little money, poor old people.”  I got off the car, going to them. The old man immediately stood up to thrust a bundle of banana leaves. I said “I don’t  need the banana leaves, here is for you, just a bit giving.” A little beyond my expectations, they both gawked for a few seconds, make me a bit nervous (it was detected, I rarely gave surprises to others, once giving a little surprise, I myself become nervous…hahha..). After such awkward moment, the wife took a stand, she stooped up and said ‘thank you ma’am, thank you ma’am.”  Unexpectedly, the husband even shed a tear … well, I was clumsy again. After the situation calmed down again, I had time to ask and talk a little:

“Where do you live, ma’am?”

“Over there” she answered “in the village” as her hand pointed toward the village outside the estate complex.

“Quite far, are you coming here by walk?”

“Ya, we walk slowly.”

“Do you have children?”

“Ya, six, but do not know where, they live far away.”

“Where do you get these banana leaves?”

“From the village, there are many banana trees and we can take the leaves freely, we sell them to buy our food for a day. But (later) this evening we can make Ketimus (a kind of traditional snack made from grated cassava and coconut and brown sugar), and we’ll bring it here for sale tomorrow.” >> This answer, after having a further discussion with hubby, we came to a clearer understanding about what she meant, were about this: usually the money they got from selling banana leaves is spent only to buy foods (their lunch and dinner), that day since  they got a ‘little surprise’, they could use such extra money to buy food and  the necessities to make ketimus that they can sell tomorrow. It is our hope that every good thing we share, even it’s not big in value, will be a good benefit for those who receive it.

“Oo you can make ketimus?”

“I used to make it, ma’am, but the other day, both of us were sick, and our money run out for medicines.”

“Oo I see…hopefully you both will stay healthy, keep making ketimus and your selling goes well.”

“Thank you so much, ma’am.” A closing answer with greeting with their both hands. And I got back to the car to share the joy with my husband.

My notes:

Many people whose lives are heavily burdened, but in defenselessness, they are still struggling. In their limitations, they keep doing their hard efforts. In powerlessness, they do not give up.

Life is often not easy, but we who are equipped with the intelligence and empowerment to live life and the ability to give thanks for all the blessings and joys that given to us, we duly should be able to make ourselves and our lives better.Do not burden life with wrong thoughts about nature, situations and others. Do not easily grumbling or cussing. Do not weaken ourselves with pessimism and unconfident attitudes. But also do not underestimate the life with a haughty attitude and always feel right.

Image3 Live a good life   Image4 Give thanks

~Sherly Hermawan~

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 2nd June 2017, 15.03

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Grandson – A poem

toby-5

Tiny little baby darling, my handsome Tobias

So small, so precious, so adorable

A wonderful blessing, a treasure from God

You are love, warmth, and special charm

 toby-2

Since the minute of your presence in the family

You add sweet colors into my life, more and more every day

Along with the new enthusiasms that were so encouraging

You are my inspiration to enjoy life better, you are my great little one

 Toby 3.jpg   Toby 6.jpg

Another amazing journey has begun

I let a little boy stealing my heart, and he gives me a wondrous call ‘granny’

Your little hands, a perfect tenderness as I touch, I love you more than much

You are my sweetheart, my joy, my dearest little boss

Toby 1.jpg

~Sherly Hermawan~

Sunday, 8th January 2017

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 8th January 2017, 23.04

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

My happiness, my blessings

images-2  images 1.jpg

 

Having met a soulmate and got married is a happiness, having given the ability to build and maintain a family life is a blessing

Having children and grandchildren is a happiness, having given the ability to guide and lead them becoming persons with good character is a wonderful blessing

Having parents who raised us with all their love is a happiness, having chances to make them happy and comfortable on their old days is a lovingly blessing

Having a job and earning a living is a happiness, having chances to share and care to those in need is a blessing

Having a lot of friends is a happiness, having best friends who understanding and encouraging each other is a blessing

Having a lot of interests is a happiness, could make them the benefits for others to feel happy too is a blessing

Having  many wonderful memories is a happiness, having a good memory is a blessing

Being able to make the right decisions is a happiness, being someone who relied upon by the close ones is a blessing

Being busy with all domestic affairs is a happiness, being able to sleep soundly at night and wake up refreshed in the morning is a beautiful blessing 

Being happy is a blessing. Living life well is a great blessing.

I’m happy, I live my life well, I’m blessed, and I’m grateful.

IMG_2441 edited.jpg

~Sherly Hermawan~

Thursday, 15th December 2016

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 15th December 2016, 21.15

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

Someday – A Poem

20161201_123105.jpg

Someday, do not need to look for me

Maybe I was busy playing chase with my grandchildren

Maybe I was cheerfully struggling to make delicious pasta for my beloved ones

Or maybe I was having chit chat with friends at a cozy coffee shop

 

Someday, do not need to hassle trying to come up to me

Perhaps I was in very good mood to complete my writings in a tranquil shelter

Perhaps I was in a vigorously whoop-de-doo in one of world big cities

Or instead, perhaps I was enjoying my solitude doing nothing

 

On that days, any those unkind please stay away from me, or never even know me

I want to greet the friendly world and let all the kindness fulfilling every crevice and corner of my life

I want to be in my heartfelt happiness only with my other-half-soul, my truly encouraging children and grandchildren, and my true friends.

I want to enjoy my blessings to the fullest and let my heart and soul be still in gratitude for my blessed life.

 

I truly wish that ‘someday’ will be there with God’s abundant love and blessings

 20161201_123314.jpg

~Sherly Hermawan~

Thursday, 1st December 2016

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 1st December 2016, 13.14

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

DAMAI & BAHAGIA ~ LET’S BE A BETTER PERSON #6

edited Sarangan

Lakukan hal-hal sederhana ini dan nikmati kehidupan yang damai

 

1 Smile* Ayo senyum

Ada banyak hasil riset yang menjelaskan tentang manfaat tersenyum dan tertawa. Salah satu riset menyatakan bahwa gerakan otot-otot wajah pada saat tersenyum, akan memicu otak untuk melepaskan zat Endorphin. Zat Endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang  https://id.wikipedia.org/wiki/Endorphin

Tersenyum dan tertawa membuat kita merasa rileks dan mengurangi stress. Semakin sering kita merangsang otak untuk melepaskan zat endorphin, akan semakin sering kita merasa senang dan rileks. Selain tersenyum dan tertawa, ada baiknya juga jika kita menjaga ekspresi wajah saat kita melakukan kegiatan rutin, misalnya saat menyetir, saat belanja di pasar, saat mengantri. Jangan memperlihatkan wajah cemberut atau bete. Senyum dan ekspresi ramah akan menciptakan suasana menyenangkan bagi diri kita sendiri dan sekeliling kita.

 

2 Don't Argue* Jangan selalu mau jika diajak berdebat atau berargumentasi.

Jika terlanjur berada dalam situasi yang cenderung memanas karena perdebatan, segeralah beranjak, tinggalkan drama yang tengah berlangsung.

 

3 organized life* Berbenah dan singkirkan barang-barang tua yang tidak pernah dipergunakan

Ruangan yang kacau balau seringkali menciptakan perasaan yang kacau. Sediakan waktu untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak pernah kita pergunakan dalam kurun waktu setahun dan cari tahu cara-cara pengaturan yang membantu kita memelihara kerapian ruang.

 

4 Don't Judge* Berhenti menilai orang

Setiap kali kita tergoda untuk memberi komentar tentang kehidupan seseorang, tanyakan dulu ke diri sendiri apa tujuan komentar kita tersebut. Jika komentar kita bernada penilaian atau sangkaan, jangan dikemukakan. Menilai orang lain akan menciptakan enerji negatif, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

 

5 Thank You.jpg* Jangan menunda dan jangan pelit mengucapkan ‘terima kasih’

Mulai dan akhiri setiap hari dengan sikap dan ucapan syukur. Temukan dan ambil kesempatan-kesempatan baik dalam kegiatan sehari-hari kita dan berinteraksilah sebagai ungkapan penghargaan terhadap orang lain. Ucapkan terima kasih, bukan hanya untuk hal-hal besar, tapi juga untuk hal-hal kecil dan yang tampaknya ‘hanya sambil lalu’. Bilang ‘terima kasih’ akan membuat kita merasa senang dan damai.

 

6 Don't Worry* Jangan terus-terusan kuatir tentang hari esok

Kita tidak bisa mengontrol masa depan, jalani hari ini dengan baik dan nikmati kehidupan yang damai. Ingat ungkapan lama “Kekuatiran itu seperti kursi goyang yang membuat kita harus melakukan sesuatu, tapi tidak membuat kita beranjak.”

 

7 Natural Food* Makan makanan yang alami

Semakin asli dan alami makanan yang kita makan, akan semakin nyaman perasaan kita menikmatinya. Pilih makanan yang merupakan hasil dari tumbuhan atau hewani, bukan makanan hasil olahan pabrik.

 

8 No Gadgets* Jauhkan teknologi dari kamar tidur

Berikan waktu yang nyaman untuk diri sendiri. Membaca atau beristirahat tanpa gangguan suara centang-centung dari handphone atau godaan untuk membuka email atau browsing.

Banyak penelitian yang mengkaitkan cahaya biru dari perangkat elektronik yang mengarah ke atau berada di sekitar tempat tidur akan mengganggu kualitas tidur dan merugikan kesehatan secara keseluruhan.

 

9 Choosing friends.jpg* Manfaatkan fitur-fitur penyaring pada media sosial

Selektif dalam berteman; kita berhak menentukan siapa yang cocok sebagai teman kita. Tidak perlu setiap permintaan pertemanan kita setujui. Jika tidak ada latar belakang pertemanan nyata (teman sekolah, teman kerja di kantor, atau ada teman yang sama-sama dikenal/mutual friend) dan atau tidak ada kesamaan minat, kita sangat boleh menolak permintaan pertemanan. Selektif dalam berteman bisa menghindari kita dari ketidaksesuaian gaya bahasa dan pemilihan kata saat berinteraksi (sapaan, komen, gurauan). Kita juga tidak perlu kuatir akan melihat posting yang tidak kita sukai. Pertemanan maya dengan orang-orang yang santun, yang menggunakan kata-kata yang baik saat serius maupun sebagai gurauan, akan membuat kita nyaman.

 

10 Silence* Rasakan nyamannya keheningan

Ketika kita membayangkan seseorang yang berada dalam keadaan tenang dan damai, biasanya orang tersebut tidak sedang berbicara. Lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak menyimak daripada berkomentar, kurangi sikap ekspresif dan spontanitas. Nikmati suasana hening sebagai saat untuk memperbaiki pengendalian diri dan emosi, serta kemampuan memilih kata dan mengatur bicara. Hening itu damai, damai itu nyaman.

 

11 Speak Slowly* Berbicara dalam irama yang teratur

Seringkali perasaan kurang nyaman atau tidak damai terwujud dalam sikap bicara yang terburu-buru atau terpotong-potong. Tersenyum, tarik napas, tenangkan diri, lalu biarkan pemikiran yang bijak dan pertimbangan yang logis mengendalikan kata-kata yang kita ucapkan.

 

12 Don’t procrastinate* Jangan menunda-nunda

Mengerjakan sesuatu di menit-menit terakhir pasti bikin stress. Membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pasti bikin perasaan tenang dan nyaman. Menunda satu pekerjaan seringkali mengakibatkan pekerjaan lainnya ikut tertunda, dan menimbulkan perasaan tidak tenang.

Cara terbaik untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas adalah dengan mulai mengerjakannya sekarang.

 

13 Forgive* Memaafkan

Menyimpan amarah atau rasa dendam terhadap orang lain sesungguhnya melukai diri kita sendiri. Memaafkan bukan hal mudah, tapi bisa dilakukan oleh setiap orang. Dengan memaafkan, kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Memaafkan dengan membuang rasa marah dan dendam akan membuat hidup kita ringan dan damai.

 

14 Expectation* Ekspektasi yang realistis

Jaga agar ekspektasi kita tidak berlebihan, terutama ekspektasi yang mengandalkan atau melibatkan orang lain. Ekspektasi yang tidak logis  seringkali menjadi penyebab kekecewaan besar. Latih diri sendiri untuk mampu mengukur kemampuan dan menyesuaikan keinginan dengan kemampuan kita. Dengan ekspektasi yang wajar dan realistis, kita akan berupaya meraih harapan dan keinginan tanpa perasaan tertekan dan berat, sehingga kehidupan terasa nyaman.

 

15 Be Active* Aktif dalam kegiatan yang positif

Menjadi anggota yang aktif dalam grup WA, ikut dalam acara kumpul-kumpul dan jalan-jalan, tidak perlu selalu, dan jangan sampai mengorbankan kepentingan lain. Aktif dalam grup dan sesekali bertemu dengan teman-teman akan memberi tambahan enerji dalam menjalani tugas-tugas rutin. Dengan enerji yang cukup, hidup akan terasa lebih ringan.

 

16 Positive Energy* Fokuskan enerji dan perhatian pada hal-hal yang ingin kita raih

Pemikiran-pemikiran, kata-kata dan setiap tindakan kita akan menciptakan enerji, bisa positif bisa negatif. Sikap-sikap curiga, banyak komplain, serakah, kuatir dikalahkan, akan menciptakan enerji negatif yang memberatkan langkah kita dalam berupaya.

Enerji positif akan menarik lebih banyak lagi enerji positif dari alam.

Ayo bangun pola pikir dan sikap yang positif, agar banyak enerji positif yang kembali pada kita dan membantu meraih tujuan hidup yang kita inginkan.

 

17 Do not control everything* Jangan ingin mengendalikan segala hal

Keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu bukan hanya menghancurkan perasaan damai dalam diri kita sendiri, tapi juga bisa merusak pertemanan dan hubungan dengan orang-orang sekitar kita. Jika kita selalu ingin mengendalikan segala hal, dan merasa cemas atas hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, tanpa sadar kita membawa diri kita kedalam situasi yang berat yang bisa mengakibatkan frustasi.

Seringkali kita perlu rileks saja dan yakinkan diri sendiri bahwa sesuatu akan berjalan dengan baik. Biarkan alam yang mengendalikan situasi. Kita bisa menikmati kehidupan yang damai.

 

18 Manage Money* Kelola keuangan dengan bijak

Urusan keuangan menempati posisi tertinggi dalam daftar penyebab stress. Sediakan waktu untuk membuat anggaran, hitung berapa uang yang kita keluarkan dan cek silang dengan uang yang kita terima.

Kesadaran atas uang masuk dan uang keluar, dan kepedulian untuk bersikap bijak dalam mengatur keuangan, akan menciptakan kehidupan yang teratur dan pikiran yang tenang.

 

19 Get up before sunrise* Bangun sebelum matahari terbit

Menyaksikan fajar dan munculnya matahari di ufuk timur menimbulkan rasa kagum yang unik dan apresiasi atas kehidupan. Bagi saya pribadi, bangun saat dinihari membuat saya lebih bersemangat melakukan kegiatan dan menyelesaikan tugas-tugas. Waktu pagi terasa lebih panjang, dan saat menjalani kegiatan sepanjang hari terasa lebih tenang dan teratur.

 

20 Be Yourself* Jadilah diri sendiri

Berpura-pura atau berkeinginan menjadi orang lain akan menimbulkan pertikaian batin.

Menjadi diri sendiri akan melahirkan perasaan damai dan bahagia.

e60d2d2df0eabb0603135ff56e69b31a

~Sherly Hermawan~

Sunday, 29th May 2016, 17.55

 

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan