This morning, a friend who has lived in Sydney, Australia for a dozen years posted sad news to the WA group. His elder brother in Jakarta was found dead in the car he was driving.
Information received from the neighborhood community where the incident occurred was that the deceased had a heart attack while driving his car alone. When the attack occurred, his car hit a fence and a tree by the side of the road. It looks like the car is being driven at a low speed, so that the impact is not hard, and the damage to the car is not severe. The deceased suffered no injuries.
My friend is very sad because during the current pandemic, it is difficult to be able to visit Indonesia for any reason. Even sadder, because it’s been a long time he did not return to Indonesia, and he had no chance to talk with his brother for a quite long while.
In sadness, the longing feels so intense, the desire to chat suddenly becomes so great, there are lots of things that really want to be asked. The memories of being together suddenly appeared, adding to the pain.
Basically we are never ready for a separation, especially with those close in our heart. I felt the sadness that had persisted since my younger sister passed away, then my mother 2 years later, then my father 2 years after my mother. Remembering their words and styles is something I never miss in my everyday life.
I believe in Sirius Black’s phrase “The ones that love us never really leave us”. Every now and then I can feel the presence of my mother, father and sister when I am alone. When longing is so deep and when sad or happy, I talk to them.
When we, my husband and I, agreed to decide to go on a pilgrimage to the Holy Land, in prayer I conveyed it to my mother, father and sister with feelings of happiness and sadness. Happy that God gave us such a wonderful opportunity, sad as to imagine how much happier it would be if we could go together.
Only prayer can strengthen us, only faith can provide comfort for us who still have to complete our journey in this world. Believe, God’s ways and paths are the best and those who have returned to our Father’s home are united with heavenly peace and love.

Seorang teman yang sudah belasan tahun menetap di Sydney, Australia, tadi pagi memposting berita duka di grup WA. Kakaknya di Jakarta ditemukan meninggal di dalam mobil yang dikendarainya. Info yang diterima dari komunitas lingkungan tempat kejadian adalah almarhum terkena serangan jantung saat sedang mengendarai mobilnya sendirian. Ketika serangan terjadi, mobilnya menabrak pagar dan pohon yang berada dipinggir jalan. Kelihatannya mobil dikendarai dengan kecepatan rendah, sehingga benturan tidak keras, dan kerusakan mobil tidak parah. Almarhum tidak menderita luka.
Teman saya sedih karena dimasa pandemi sekarang ini, sulit untuk bisa berkunjung ke Indonesia dengan alasan apapun. Lebih menyedihkan,karena sudah cukup lama dia tidak kembali ke Indonesia, sudah lama tidak berbincang dengan kakaknya tersebut.
Dalam kesedihan, kerinduan terasa begitu pekat, keinginan untuk mengobrol mendadak menjadi begitu besar, ada banyak hal yang ingin sekali ditanyakan. Kenangan-kenangan saat bersama tiba-tiba muncul semua, menambah kepedihan.
Pada dasarnya kita tidak pernah siap dengan perpisahan, terutama dengan orang-orang yang dekat di hati. Saya merasakan kesedihan yang menetap sejak berpulangnya adik saya, lalu mama saya 2 tahun setelahnya, kemudian papa saya 2 tahun setelah mama. Mengingat kata-kata dan gaya mereka adalah hal yang tidak pernah terlewatkan di setiap hari saya.
Saya percaya dengan ungkapan Sirius Black “The ones that love us never really leave us”. Sesekali saya bisa merasakan kehadiran mama papa dan adik saya di saat saya sedang sendiri. Ketika rindu begitu dalam dan ketika sedih atau bahagia, saya bicara pada mereka.
Saat kami, saya dan suami, sepakat memutuskan untuk pergi berziarah ke Tanah Perjanjian, dalam doa saya sampaikan ke mama papa dan adik dengan perasaan bahagia dan sedih. Bahagia karena Tuhan memberi kami kesempatan yang sangat indah, sedih karena membayangkan betapa lebih bahagianya jika kami bisa pergi bersama-sama.
Hanya doa yang bisa menguatkan kita, hanya iman yang mampu memberikan penghiburan buat kita yang masih harus menyelesaikan perziarahan kita di dunia ini. Percaya, cara dan jalan Tuhan adalah yang terbaik dan mereka yang sudah pulang ke rumah Bapa sudah menyatu dengan damai dan kasih Surgawi.
Sherly Hermawan
Serpong, Friday, 29 January 2021
Published on 29th January 2021, 22.23
Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan




























* Ayo senyum
* Jangan selalu mau jika diajak berdebat atau berargumentasi.
* Berbenah dan singkirkan barang-barang tua yang tidak pernah dipergunakan
* Berhenti menilai orang
* Jangan menunda dan jangan pelit mengucapkan ‘terima kasih’
* Jangan terus-terusan kuatir tentang hari esok
* Makan makanan yang alami
* Jauhkan teknologi dari kamar tidur
* Manfaatkan fitur-fitur penyaring pada media sosial
* Rasakan nyamannya keheningan
* Berbicara dalam irama yang teratur
* Jangan menunda-nunda
* Memaafkan
* Ekspektasi yang realistis
* Aktif dalam kegiatan yang positif
* Fokuskan enerji dan perhatian pada hal-hal yang ingin kita raih
* Jangan ingin mengendalikan segala hal
* Kelola keuangan dengan bijak
* Bangun sebelum matahari terbit
* Jadilah diri sendiri
You must be logged in to post a comment.