Tentang kepasrahan dan perjuangan – About defenselessness and struggle (2 versions: Bahasa Indonesia & English)

image1 struggle     dont give up

Hampir setiap kali pulang dari pasar Sinpasa (Gading Serpong) selama beberapa bulan terakhir ini, saya melihat pasangan suami istri setengah baya ini. Mereka duduk diatas sehelai alas plastik, yang dihamparkan diatas rumput. Didepan mereka selalu ada ikatan daun pisang yang sudah dikemas cukup rapi, kadang ada 4 ikat, kadang tinggal 3, 2 atau 1 ikat, tapi tidak pernah saya lihat lebih dari 4 ikat.

Mereka, dengan ikatan daun pisang itu, cukup menarik perhatian saya setiap kali melintas disana, terus terang mata saya selalu mencari mereka. Sesekali saat mereka tidak ada ditempat itu, ada sedikit rasa kuatir, kenapa ya mereka gak jualan. Beberapa hari lalu, saat melintas disana, kebetulan dengan suami, eh pacar ding 🙂 … pacar bilang ‘mampirin yuk, kasih jajan sedikit, kasian udah tua-tua begitu’. Saya turun, si bapak segera berdiri sambil mau menyodorkan 1 ikat daun pisangnya. Saya bilang ‘saya gak mau daun pisangnya pak, ini buat jajan bapak ibu aja’. Sedikit diluar dugaan saya, mereka berdua melongo selama beberapa detik, sempat bikin saya jadi salting (ketauan deh, saya jarang kasih kejutan ke orang lain, sekalinya kasih kejutan kecil, saya yang salting). Setelah detik-detik kikuk tersebut, si ibu yang duluan mengambil sikap, dia berdiri membungkuk sambil bilang ‘terima kasih bu, terima kasih bu’, eh si bapak malah mewek… nahlooo makin saltinglah saya. Setelah semua kembali tenang, saya sempetin nanya-nanya dan ngomong sedikit:

“Tinggal dimana, pak bu?”

Jawabnya, “disono” (sambil nunjuk ke arah kiri), di kampung bu (maksudnya mungkin di perkampungan pinggiran Gading Serpong)

“Jauh ya,  jalan kaki kesininya?”

“Iya bu, jalan pelan-pelan”

“Ada anak-anak bu, pak?”

“Anak mah ada 6, tapi gak tau pada dimana, tinggalnya pada jauh-jauh.”

“Daun pisang ini dapat dari mana?”

“Dari kampung, kan di kampung banyak pohon pisang, boleh ambil aja daunnya terus dijual buat beli makanan sehari bu. Tapi ntar sore bisa bikin ketimus buat dijual besok. >> untuk jawaban ini, setelah saya obrolin dengan suami, maksudnya kira-kira begini: biasanya uang yang mereka dapat dari hasil menjual daun pisang hanya cukup untuk membeli makanan mereka untuk sehari (makan siang dan makan malam), tetapi hari itu karena mereka mendapat sedikit tambahan rejeki, mereka bisa membeli makanan seperti biasa dan bisa juga membeli bahan-bahan untuk membuat ketimus yang akan mereka jual esok hari. Semoga yaaa…rejeki yang kami bagi itu, meskipun tidak besar, akan memberi manfaat baik buat mereka.

“Oo ibu bisa bikin ketimus?”

“Emang bikin, bu, tapi tempo hari saya dan bapak sakit, modalnya kepake.”

“Oo begitu, mudah-mudahan tetep sehat ya pak bu, mudah-mudahan bisa terus bikin ketimus dan laris.”

“Terima kasih bu, terima kasih banyak bu.” jawaban penutup sambil memberi salam dengan kedua tangan mereka. Dan saya kembali ke mobil untuk berbagi rasa senang dengan suami.

Catatan saya:

Banyak orang yang hidupnya berbeban berat, namun dalam kepasrahan, mereka tetap berjuang. Dalam keterbatasan, mereka tetap berupaya. Dalam kekurangberdayaan, mereka tidak menyerah.

Hidup seringkali tidak mudah, tapi kita yang dilengkapi dengan kecerdasan dan keberdayaan untuk menjalani hidup, dan kemampuan untuk bersyukur atas semua berkat dan sukacita yang diberikan kepada kita, semestinya kita bisa membuat diri dan kehidupan kita menjadi lebih baik. Jangan membebani hidup dengan pikiran-pikiran yang keliru tentang alam, situasi dan orang lain, jangan mudah menggerutu atau mengumpat, jangan melemahkan diri sendiri dengan kepesimisian dan sikap tidak percaya diri, namun jangan juga meremehkan hidup dengan sikap angkuh dan selalu merasa benar.

IMG_20160322_081134

Almost every time on my way back home from Sinpasa market at Gading Serpong, during these last few months, I saw a middle-aged-couple, sitting on a plastic sheet stretched on the grass.  In front of them there are always some bundles of banana leaf  that have been packed pretty neatly, sometimes 4 bundles, sometimes just 2 or 1 bundle left, but as far as I remember there were never more than 4 bundles. They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there,

They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there, frankly my eyes are always looking for them. Occassionaly when they were not there, there is a bit of anxiety, what’s with them so they do not show up.A few days ago, while passing there, with hubby, he said “let’s stop by, give them a little money, poor old people.”  I got off the car, going to them. The old man immediately stood up to thrust a bundle of banana leaves. I said “I don’t  need the banana leaves, here is for you, just a bit giving.” A little beyond my expectations, they both gawked for a few seconds, make me a bit nervous (it was detected, I rarely gave surprises to others, once giving a little surprise, I myself become nervous…hahha..). After such awkward moment, the wife took a stand, she stooped up and said ‘thank you ma’am, thank you ma’am.”  Unexpectedly, the husband even shed a tear … well, I was clumsy again. After the situation calmed down again, I had time to ask and talk a little:

“Where do you live, ma’am?”

“Over there” she answered “in the village” as her hand pointed toward the village outside the estate complex.

“Quite far, are you coming here by walk?”

“Ya, we walk slowly.”

“Do you have children?”

“Ya, six, but do not know where, they live far away.”

“Where do you get these banana leaves?”

“From the village, there are many banana trees and we can take the leaves freely, we sell them to buy our food for a day. But (later) this evening we can make Ketimus (a kind of traditional snack made from grated cassava and coconut and brown sugar), and we’ll bring it here for sale tomorrow.” >> This answer, after having a further discussion with hubby, we came to a clearer understanding about what she meant, were about this: usually the money they got from selling banana leaves is spent only to buy foods (their lunch and dinner), that day since  they got a ‘little surprise’, they could use such extra money to buy food and  the necessities to make ketimus that they can sell tomorrow. It is our hope that every good thing we share, even it’s not big in value, will be a good benefit for those who receive it.

“Oo you can make ketimus?”

“I used to make it, ma’am, but the other day, both of us were sick, and our money run out for medicines.”

“Oo I see…hopefully you both will stay healthy, keep making ketimus and your selling goes well.”

“Thank you so much, ma’am.” A closing answer with greeting with their both hands. And I got back to the car to share the joy with my husband.

My notes:

Many people whose lives are heavily burdened, but in defenselessness, they are still struggling. In their limitations, they keep doing their hard efforts. In powerlessness, they do not give up.

Life is often not easy, but we who are equipped with the intelligence and empowerment to live life and the ability to give thanks for all the blessings and joys that given to us, we duly should be able to make ourselves and our lives better.Do not burden life with wrong thoughts about nature, situations and others. Do not easily grumbling or cussing. Do not weaken ourselves with pessimism and unconfident attitudes. But also do not underestimate the life with a haughty attitude and always feel right.

Image3 Live a good life   Image4 Give thanks

~Sherly Hermawan~

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 2nd June 2017, 15.03

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

DAMAI & BAHAGIA ~ LET’S BE A BETTER PERSON #6

edited Sarangan

Lakukan hal-hal sederhana ini dan nikmati kehidupan yang damai

 

1 Smile* Ayo senyum

Ada banyak hasil riset yang menjelaskan tentang manfaat tersenyum dan tertawa. Salah satu riset menyatakan bahwa gerakan otot-otot wajah pada saat tersenyum, akan memicu otak untuk melepaskan zat Endorphin. Zat Endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang  https://id.wikipedia.org/wiki/Endorphin

Tersenyum dan tertawa membuat kita merasa rileks dan mengurangi stress. Semakin sering kita merangsang otak untuk melepaskan zat endorphin, akan semakin sering kita merasa senang dan rileks. Selain tersenyum dan tertawa, ada baiknya juga jika kita menjaga ekspresi wajah saat kita melakukan kegiatan rutin, misalnya saat menyetir, saat belanja di pasar, saat mengantri. Jangan memperlihatkan wajah cemberut atau bete. Senyum dan ekspresi ramah akan menciptakan suasana menyenangkan bagi diri kita sendiri dan sekeliling kita.

 

2 Don't Argue* Jangan selalu mau jika diajak berdebat atau berargumentasi.

Jika terlanjur berada dalam situasi yang cenderung memanas karena perdebatan, segeralah beranjak, tinggalkan drama yang tengah berlangsung.

 

3 organized life* Berbenah dan singkirkan barang-barang tua yang tidak pernah dipergunakan

Ruangan yang kacau balau seringkali menciptakan perasaan yang kacau. Sediakan waktu untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak pernah kita pergunakan dalam kurun waktu setahun dan cari tahu cara-cara pengaturan yang membantu kita memelihara kerapian ruang.

 

4 Don't Judge* Berhenti menilai orang

Setiap kali kita tergoda untuk memberi komentar tentang kehidupan seseorang, tanyakan dulu ke diri sendiri apa tujuan komentar kita tersebut. Jika komentar kita bernada penilaian atau sangkaan, jangan dikemukakan. Menilai orang lain akan menciptakan enerji negatif, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

 

5 Thank You.jpg* Jangan menunda dan jangan pelit mengucapkan ‘terima kasih’

Mulai dan akhiri setiap hari dengan sikap dan ucapan syukur. Temukan dan ambil kesempatan-kesempatan baik dalam kegiatan sehari-hari kita dan berinteraksilah sebagai ungkapan penghargaan terhadap orang lain. Ucapkan terima kasih, bukan hanya untuk hal-hal besar, tapi juga untuk hal-hal kecil dan yang tampaknya ‘hanya sambil lalu’. Bilang ‘terima kasih’ akan membuat kita merasa senang dan damai.

 

6 Don't Worry* Jangan terus-terusan kuatir tentang hari esok

Kita tidak bisa mengontrol masa depan, jalani hari ini dengan baik dan nikmati kehidupan yang damai. Ingat ungkapan lama “Kekuatiran itu seperti kursi goyang yang membuat kita harus melakukan sesuatu, tapi tidak membuat kita beranjak.”

 

7 Natural Food* Makan makanan yang alami

Semakin asli dan alami makanan yang kita makan, akan semakin nyaman perasaan kita menikmatinya. Pilih makanan yang merupakan hasil dari tumbuhan atau hewani, bukan makanan hasil olahan pabrik.

 

8 No Gadgets* Jauhkan teknologi dari kamar tidur

Berikan waktu yang nyaman untuk diri sendiri. Membaca atau beristirahat tanpa gangguan suara centang-centung dari handphone atau godaan untuk membuka email atau browsing.

Banyak penelitian yang mengkaitkan cahaya biru dari perangkat elektronik yang mengarah ke atau berada di sekitar tempat tidur akan mengganggu kualitas tidur dan merugikan kesehatan secara keseluruhan.

 

9 Choosing friends.jpg* Manfaatkan fitur-fitur penyaring pada media sosial

Selektif dalam berteman; kita berhak menentukan siapa yang cocok sebagai teman kita. Tidak perlu setiap permintaan pertemanan kita setujui. Jika tidak ada latar belakang pertemanan nyata (teman sekolah, teman kerja di kantor, atau ada teman yang sama-sama dikenal/mutual friend) dan atau tidak ada kesamaan minat, kita sangat boleh menolak permintaan pertemanan. Selektif dalam berteman bisa menghindari kita dari ketidaksesuaian gaya bahasa dan pemilihan kata saat berinteraksi (sapaan, komen, gurauan). Kita juga tidak perlu kuatir akan melihat posting yang tidak kita sukai. Pertemanan maya dengan orang-orang yang santun, yang menggunakan kata-kata yang baik saat serius maupun sebagai gurauan, akan membuat kita nyaman.

 

10 Silence* Rasakan nyamannya keheningan

Ketika kita membayangkan seseorang yang berada dalam keadaan tenang dan damai, biasanya orang tersebut tidak sedang berbicara. Lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak menyimak daripada berkomentar, kurangi sikap ekspresif dan spontanitas. Nikmati suasana hening sebagai saat untuk memperbaiki pengendalian diri dan emosi, serta kemampuan memilih kata dan mengatur bicara. Hening itu damai, damai itu nyaman.

 

11 Speak Slowly* Berbicara dalam irama yang teratur

Seringkali perasaan kurang nyaman atau tidak damai terwujud dalam sikap bicara yang terburu-buru atau terpotong-potong. Tersenyum, tarik napas, tenangkan diri, lalu biarkan pemikiran yang bijak dan pertimbangan yang logis mengendalikan kata-kata yang kita ucapkan.

 

12 Don’t procrastinate* Jangan menunda-nunda

Mengerjakan sesuatu di menit-menit terakhir pasti bikin stress. Membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pasti bikin perasaan tenang dan nyaman. Menunda satu pekerjaan seringkali mengakibatkan pekerjaan lainnya ikut tertunda, dan menimbulkan perasaan tidak tenang.

Cara terbaik untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas adalah dengan mulai mengerjakannya sekarang.

 

13 Forgive* Memaafkan

Menyimpan amarah atau rasa dendam terhadap orang lain sesungguhnya melukai diri kita sendiri. Memaafkan bukan hal mudah, tapi bisa dilakukan oleh setiap orang. Dengan memaafkan, kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Memaafkan dengan membuang rasa marah dan dendam akan membuat hidup kita ringan dan damai.

 

14 Expectation* Ekspektasi yang realistis

Jaga agar ekspektasi kita tidak berlebihan, terutama ekspektasi yang mengandalkan atau melibatkan orang lain. Ekspektasi yang tidak logis  seringkali menjadi penyebab kekecewaan besar. Latih diri sendiri untuk mampu mengukur kemampuan dan menyesuaikan keinginan dengan kemampuan kita. Dengan ekspektasi yang wajar dan realistis, kita akan berupaya meraih harapan dan keinginan tanpa perasaan tertekan dan berat, sehingga kehidupan terasa nyaman.

 

15 Be Active* Aktif dalam kegiatan yang positif

Menjadi anggota yang aktif dalam grup WA, ikut dalam acara kumpul-kumpul dan jalan-jalan, tidak perlu selalu, dan jangan sampai mengorbankan kepentingan lain. Aktif dalam grup dan sesekali bertemu dengan teman-teman akan memberi tambahan enerji dalam menjalani tugas-tugas rutin. Dengan enerji yang cukup, hidup akan terasa lebih ringan.

 

16 Positive Energy* Fokuskan enerji dan perhatian pada hal-hal yang ingin kita raih

Pemikiran-pemikiran, kata-kata dan setiap tindakan kita akan menciptakan enerji, bisa positif bisa negatif. Sikap-sikap curiga, banyak komplain, serakah, kuatir dikalahkan, akan menciptakan enerji negatif yang memberatkan langkah kita dalam berupaya.

Enerji positif akan menarik lebih banyak lagi enerji positif dari alam.

Ayo bangun pola pikir dan sikap yang positif, agar banyak enerji positif yang kembali pada kita dan membantu meraih tujuan hidup yang kita inginkan.

 

17 Do not control everything* Jangan ingin mengendalikan segala hal

Keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu bukan hanya menghancurkan perasaan damai dalam diri kita sendiri, tapi juga bisa merusak pertemanan dan hubungan dengan orang-orang sekitar kita. Jika kita selalu ingin mengendalikan segala hal, dan merasa cemas atas hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, tanpa sadar kita membawa diri kita kedalam situasi yang berat yang bisa mengakibatkan frustasi.

Seringkali kita perlu rileks saja dan yakinkan diri sendiri bahwa sesuatu akan berjalan dengan baik. Biarkan alam yang mengendalikan situasi. Kita bisa menikmati kehidupan yang damai.

 

18 Manage Money* Kelola keuangan dengan bijak

Urusan keuangan menempati posisi tertinggi dalam daftar penyebab stress. Sediakan waktu untuk membuat anggaran, hitung berapa uang yang kita keluarkan dan cek silang dengan uang yang kita terima.

Kesadaran atas uang masuk dan uang keluar, dan kepedulian untuk bersikap bijak dalam mengatur keuangan, akan menciptakan kehidupan yang teratur dan pikiran yang tenang.

 

19 Get up before sunrise* Bangun sebelum matahari terbit

Menyaksikan fajar dan munculnya matahari di ufuk timur menimbulkan rasa kagum yang unik dan apresiasi atas kehidupan. Bagi saya pribadi, bangun saat dinihari membuat saya lebih bersemangat melakukan kegiatan dan menyelesaikan tugas-tugas. Waktu pagi terasa lebih panjang, dan saat menjalani kegiatan sepanjang hari terasa lebih tenang dan teratur.

 

20 Be Yourself* Jadilah diri sendiri

Berpura-pura atau berkeinginan menjadi orang lain akan menimbulkan pertikaian batin.

Menjadi diri sendiri akan melahirkan perasaan damai dan bahagia.

e60d2d2df0eabb0603135ff56e69b31a

~Sherly Hermawan~

Sunday, 29th May 2016, 17.55

 

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

 

Sukses berteman ~ Let’s be a better person #5

9c91255d44c2c4588822845e352d7f03

Berteman itu sangat kita perlukan, setuju kan? Pada tahap-tahap tertentu kehidupan kita, pertemanan bisa berarti segalanya – sesuatu yang amat penting dalam hidup kita. Teman bisa mempengaruhi pilihan-pilihan kita, memberi saran, serta membantu membuat keputusan, misalnya: mau makan apa, perlu beli atau tidak, kemana tujuan kita, bagaimana sebaiknya mengemukakan pendapat kita. Pertemanan tumbuh dan berubah sejalan dengan datang dan perginya orang-orang yang terlibat. Pertemanan membutuhkan tanah/wadah untuk tumbuh, pupuk dan air agar tumbuh sehat dan kuat.

Namun, membangun pertemanan yang sehat dan kuat bukanlah hal yang mudah, paling tidak buat sebagian orang, setuju juga kan?

Saya coba menuliskan disini hal-hal yang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, bisa dijadikan dasar atau patokan dalam membangun pertemanan yang menyenangkan, baik berteman di dunia nyata (bertemu, kumpul-kumpul) maupun di dunia maya (grup WA, Line, komunitas online).

12565537_10154025124139767_1453321995012435122_n

* Memilih teman dengan bijak

Kita gak perlu jadi teman semua orang kan?  Pilih teman yang bersedia untuk saling membangun, saling mendukung, bukan yang meruntuhkan atau melemahkan. Pilih teman yang bisa menginspirasi dan mau menyambut baik pendapat dan pemikiran kita, bukan yang bersikap merendahkan atau mengabaikan. Kita tidak bisa memilih atau menentukan keluarga dimana kita dilahirkan, tetapi adalah hak kita untuk memilih dan menentukan siapa teman-teman kita.

 

* Mau mendengarkan

Selain kita memilih teman, kita juga dipilih menjadi teman. Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu sikap yang menyenangkan sebagai seorang teman. Buatlah teman tahu bahwa kita mendengarkan pembicaraannya dengan penuh perhatian. Jika ada yang kurang jelas, tidak ada salahnya kita bertanya agar tidak terjadi pengertian yang keliru. Kontak mata dan bahasa tubuh yang tepat akan membuat seseorang tahu bahwa kita mendengarkan pembicaraannya.

 

* Hati-hati saat merespon atau memberi komentar

Pikir dulu sebelum merespon atau memberi komentar – terutama apabila kita sedang merasa tersinggung atau marah. Jangan memberi respon bernada sinis, sengit atau pedas, apalagi untuk sesuatu yang sifatnya dugaan atau kira-kira, misalnya: ‘belum tentu dia mengerti’; ‘mungkin ijazahnya palsu’; ‘bisa saja itu bukan karyanya sendiri’.

Bukan hanya komentar yang serius, menanggapi gurauan atau memberikan respon-respon ringan juga sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang baik, yang tidak menyinggung hal-hal pribadi, tidak menyebut nama seseorang sebagai contoh hal yang kurang menyenangkan, dan tidak bergosip.

Seringkali, kata-kata yang dipikirkan dulu sebelum diucapkan bisa menghindari terjadinya perasaan yang terluka atau tersinggung. Nah, mari kita lebih cerdas memilih kata-kata.

 

* Jangan terlalu rajin memberi saran dan nasehat, serta batasi keinginan untuk selalu membantu mengatasi masalah teman

Dengan maksud baik, jika ada seorang teman yang meminta saran, dan kita bisa, berikanlah saran atau masukan sesuai yang dia perlukan, jangan merembet ke topik lain, apalagi yang topiknya melenceng atau gak nyambung. Mulai dari saran untuk masalah ringan, misalnya tentang bagaimana menulis email permohonan referensi, hingga saran untuk masalah yang lebih serius, misalnya memberi dukungan pada teman yang tengah bermasalah dalam perkawinannya. Tapi tolong diingat ya, berikan saran jika diminta atau jika teman yang bermasalah tersebut meminta dukungan secara terbuka dalam forum kelompok/grup sehingga semua anggota grup bisa memberikan saran dan pendapat. Berikan saran yang nyambung dengan masalah yang diceritakan. Sampaikan saran atau pandangan yang orisinil dan konkrit, artinya bukan hasil copy-paste pandangan orang lain, atau pemikiran ‘kira-kira’ yang disampaikan tanpa dukungan data atau fakta.

Jika tidak dimintai bantuan, jangan rese, jangan maksa untuk membantu meskipun ingin sekali memberikan saran atau pandangan. Setiap kita pasti punya masalah, dan setiap pribadi punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Berikan ruang kepada teman yang mempunyai masalah untuk mengolah urusannya dan membuat keputusannya sendiri.

 

* Jadilah diri sendiri, orisinil dan jujur

Hindari kepura-puraan, jangan mencoba atau berkeinginan menjadi orang lain, jangan mengarang atau memoles cerita dengan harapan akan menjadi lebih menarik.

Sikap pura-pura itu merepotkan, karena akan melahirkan tuntutan untuk menjaga  kepura-puraan itu. Mencoba atau berkeinginan menjadi orang lain juga merepotkan dan melelahkan. Cerita karangan atau hasil polesan biasanya malah tidak menarik, karena jika pendengar atau pembacanya cukup peka, akan ada bagian-bagian yang terasa tidak logis atau kurang wajar.

Jangan menyangkal iman, keyakinan, nilai-nilai hidup dan sudut pandang kita, hanya karena ingin tampil ‘klop’ dengan anggota-anggota lain dari satu grup. Jika seseorang atau sekelompok orang tidak bisa menerima kita sebagaimana adanya, membangun pertemanan dengan mereka akan menjadi sangat sulit. Daripada membuang waktu dan menjadi lelah karena harus terus melakukan ‘penyesuaian’, lebih baik cari teman atau grup lain.

Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, karena tidak mungkin kita bisa ‘klop dan klik’ dengan semua orang.

 

* Terimalah teman sebagaimana adanya

Disaat bertemu orang-orang yang kemudian menjadi teman kita, bersahabatlah dengan mereka yang mau menerima aslinya kita. Orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Sejatinya, kita semua ingin bersahabat dengan orang yang mau menerima kita apa adanya.

1044362_10151710708814767_1374840268_n1795562_10152821787679767_318643331708158241_n

* Berkomunikasi secara terbuka dan jujur

Membangun komunikasi dengan seseorang bisa membutuhkan waktu – dan pastinya, harus ada saling percaya. Jangan kuatir memberitahu teman jika kita perlu bantuan. Demikian juga sebaliknya, jika ada teman yang membutuhkan bantuan, dan kita bisa membantu, bantulah tanpa berpikir rumit tentang untung ruginya, dan tanpa banyak kekuatiran (misalnya, kuatir tidak dihargai, kuatir malah nantinya jadi merepotkan).

Berbagilah hal-hal yang, secara umum, baik dan positif, bukan baik untuk diri kita sendiri. Jangan mendominasi dan jangan bersikap menggurui dan menuntut pengakuan. Komunikasi yang menyenangkan adalah komunikasi yang seimbang, dari semua anggota yang terlibat, saling berbagi pengetahuan dengan kata-kata yang baik, saling mendengarkan, dan semua pihak mau berbesar hati jika ada tanggapan koreksi atas pendapatnya.

 

* Saling menghargai pilihan masing-masing

Apabila ada teman yang membuat keputusan untuk ‘pindah’, sementara kita pikir ‘tetap tinggal’ adalah hal yang tepat untuk dilakukan, jangan memaksakan pendapat kita, biarkan dia melakukan apa yang menurutnya baik.

Jika kita sudah memberikan saran kepada seorang teman, namun dia mempunyai pandangan yang berbeda, beranjaklah, jangan ngotot memberi nasehat dan saran yang tidak akan dihargai. Apa yang dia lakukan bisa jadi memang tepat untuk kehidupannya.

 

* Bersikap ramah, jangan jutek

Kita senang mempunyai teman yang tulus, ramah, memiliki kepedulian, bijak, tidak suka menilai orang lain, tidak suka berpura-pura, dan cerdas. Jadilah pribadi seperti itu dulu dan kita akan lebih mudah menarik pribadi-pribadi yang baik juga ke dalam lingkaran pertemanan kita.

 

* Berempati

Mencoba memahami suatu hal dari sudut pandang orang lain adalah sikap yang bisa membuat komunikasi dan saling pengertian dalam pertemanan terjalin lebih baik. Jangan bersikap masabodoh dan acuh-tak-acuh. Kita juga gak suka kalau dicuekin kan?

 

* Jangan irit memuji

Tunjukkan sikap menghargai dan menyayangi teman melalui pujian atas kualitas baik mereka atau pencapaian yang mereka raih. Berikan pujian dengan tulus, jangan berpura-pura, dan jangan berlebihan. Dengan menyampaikan pujian, artinya kita menghargai dan merasa senang berada dalam lingkaran pertemanan.  Ada teman yang sedang bergembira karena keberhasilan yang diraihnya? Ayo sampaikan pujian untuknya.

 

* Akui kesalahan dan minta maaf

Jika melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan, segera akui dan jangan ragu untuk bilang maaf. Jangan berdalih, tidak perlu sibuk mencari pembenaran, tidak usah repot mengarang cerita. Mengakui kesalahan dan menyampaikan maaf sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelemahan, kalah gengsi, ataupun kebodohan. Sejatinya, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan minta maaf adalah sikap cerdas, berani dan anggun. Cerdas menyadari telah salah langkah, berani mengakui kesalahan dan minta maaf, dan dengan anggun berniat untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

12744304_10154093174759767_8613612303551377693_n

* Biarkan berlalu

Apabila seseorang, sengaja ataupun tidak, melukai perasaan kita, sepatutnya kita sampaikan kepadanya bahwa kata-katanya atau sikapnya telah menimbulkan ketidaknyamanan. Jika ada permintaan maaf darinya, terimalah dengan besar hati dan hargai permintaan maafnya itu. Jika tidak ada permintaan maaf, tidak perlu memenuhi hati dan pikiran kita dengan kekesalan atau bahkan kebencian. Karena kita sudah menyampaikan padanya tentang ketidaknyamanan yang kita rasakan, sekarang biarkan ketidaknyamanan itu pindah kedalam pikirannya. Biarkan ketidaknyamanan itu berlalu dan lanjutkan langkah maju kita.

Jika kita membiarkan perasaan kesal dan marah terus memenuhi hati dan pikiran, kita akan tertahan dalam situasi tidak nyaman dan ini akan menghambat langkah maju hubungan pertemanan kita. Jangan mau melangkah di jalan masa lalu yang penuh duri. Biarkan ketidaknyamanan berlalu dan buatlah awal baru yang segar.

 

* Tepat waktu dan tepat janji

Ini 2 hal yang sebenarnya gak susah-susah amat untuk dilakukan, tapi kenapa cukup banyak orang yang mudah meleset waktu dan meleset janji ya.

Untuk tepat waktu, diperlukan kemampuan dalam mengelola waktu dan mengatur kegiatan. Pondasi dari kemampuan mengelola waktu dan mengatur kegiatan ini adalah kedisiplinan, disiplin pada diri sendiri dan disiplin dalam kelompok. Jangan mentoleransi diri sendiri untuk mengulur-ulur pekerjaan. Jangan ikut serta atau bertolerasi pada ketidakdisiplinan saat berada dalam kelompok.

Tepat janji adalah unsur penting dari tanggungjawab. Sama dengan perilaku ‘tepat waktu’, pondasi untuk perilaku ‘tepat janji’ juga adalah kedisiplinan. Jangan mudah menjanjikan apapun yang kita tidak yakin akan dapat memenuhi atau menepatinya. Jangan ingin membuat kesan sebagai orang yang ‘selalu bisa’, atau ‘gampang membuat penyesuaian’. Akan lebih baik mengatakan ‘saya mungkin tidak bisa, tapi akan saya usahakan’, daripada berjanji namun harus mengingkari.

 

* Sediakan waktu untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman secara berkala

Nah ini kegiatan baik dan bermanfaat lho…bukan untuk sekedar eksis dan narsis. Bertemu dan berkumpul dengan teman adalah kesempatan untuk aktualisasi diri, bertukar info, mendapatkan pengetahuan dan, bahkan bisa juga, keterampilan. Tentunya semua harus dalam koridor positif dan dilakukan secara bijak, sehingga hasilnya adalah hal-hal yang bermanfaat untuk diri kita, keluarga (secara tidak langsung), dan teman-teman yang terlibat.

 

* Nikmati hobi dan minat yang sama

Banyak pertemanan yang awalnya terjadi karena adanya kesamaan  hobi dan minat, misalnya olahraga favorit, membaca dan mengoleksi buku, grup dan jenis musik, keterampilan khusus, dan banyak lagi.

Beli tiket konser dan nonton bareng-bareng, asiknya pasti bikin ketagihan, betul kan?

12510237_10154025108764767_4836341365271169470_n12572946_10154025117689767_7090699398115454948_n

* Mencoba hal-hal baru bersama

Nyobain kedai kopi yang baru buka, jalan-jalan ke objek wisata baru atau yang sebelumnya tidak diminati untuk dikunjungi sendiri, atau belajar line dance bersama-sama, rasakan sensasinya!

 

* Hindari rutinitas

Pertemanan, sama seperti hubungan-hubungan antar manusia lainnya, terkadang bisa mengalami kejenuhan akibat rutinitas. Jangan isi pertemuan dengan banyak keluh kesah atau komplain. Jangan juga bergosip melulu. Salah satu manfaat pertemanan adalah bisa saling meringankan beban jika ada yang mengalami masalah, dan saling mendukung jika ada yang membutuhkan saran atau pendapat, tapi bukan berarti memberikan ruang seluas-luasnya untuk hal-hal yang bernada pesimis, muram, atau getir, sehingga keceriaan dan antusiasme menjadi tidak terasa. Jangan biarkan kejenuhan melanda, ayo cari tema, topik, dan hal-hal yang menyenangkan, sehingga setiap pertemuan selalu indah untuk dikenang dan  membangkitkan semangat untuk bertemu lagi.

 

* Cari keseimbangan dalam pertemanan

Berada dalam kelompok dengan sikap egois dan menjadi pribadi yang selalu ingin ‘mendapatkan’ dan ‘menerima’, bisa membawa seseorang ke kehidupan yang sepi. Saling mendukung, saling membangun karakter positif, saling memberi dan menerima dengan tulus dan wajar akan membuat hubungan pertemanan lebih bernilai.

 

* Jadilah penceria

Jadilah pendorong, pemberi semangat. Berikan motivasi bagi teman-teman yang sedang galau. Bantu teman yang bimbang dalam membuat keputusan. Ajukan pertimbangan dan saran yang cerdas, tapi jangan menggurui dan mendesak. Pribadi yang ceria selalu diperlukan di setiap kelompok pertemanan.

 

* Bisa menjaga rahasia

Dalam perjalanan pertemanan, adalah wajar jika ada teman yang mau berbagi informasi yang sifatnya sangat pribadi dan rahasia kepada kita. Jika seorang teman memberitahukan suatu rahasia kepada kita, itu artinya teman tersebut percaya kepada kita dan dia yakin bahwa kita akan menjaga rahasia itu. Jangan berkhianat dengan membagi rahasia itu kepada pihak lain. Ada banyak pertemanan yang hancur karena rahasia yang tersebar.

 

* Setiap hubungan pertemanan tumbuh dan berubah, terkadang bisa saja berakhir

Pribadi kita bisa berubah dalam kurun waktu 1 tahun. Bayangkan bagaimana perubahan yang bisa terjadi dalam kurun waktu 10 tahun atau lebih. Pribadi kita saat kita bertemu seseorang dulu bisa jadi bukan pribadi kita saat ini. Kita tumbuh, menjadi dewasa. Pemikiran-pemikiran kita berubah. Gaya dan pola hidup kita juga berubah, bisa perubahan yang biasa saja, bisa juga perubahan yang radikal. Begitu juga dengan teman-teman kita. Ada teman yang sebelumnya berperan besar dalam kehidupan kita, namun setelah beberapa waktu, bisa saja pengaruhnya menjadi berkurang. Disisi lain, ada teman yang sebelumnya biasa-biasa saja, namun seiring berjalannya waktu, dia menjadi pribadi yang kuat dan sangat bisa diandalkan.

Jika seorang teman berubah menjadi melemahkan kita, bersikap negatif, atau mengajak kita ke jalan yang berbahaya, jangan ragu untuk mengakhiri hubungan pertemanan yang tidak sehat ini. Terkadang kita harus berjuang mempertahankan hubungan yang berubah menjadi layu. Banyak kali, mengakhiri adalah keputusan yang baik.

Jika seorang teman berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bersikap positif dan suportif, sepatutnyalah kita menjaga hubungan pertemanan dengannya dengan dasar saling memberi manfaat.

1780863_10154025123024767_3473134255193003386_n

02875a089c27417590ac078aae852167

Friendship is all about trusting each other, helping each other, loving each other and being crazy together.

~Sherly Hermawan~

Thursday, 17th March 2016, 01.35

 

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

Bilang ‘terima kasih’ itu menyenangkan hati kita sendiri lo… Let’s be a better person #4

2394db581d08cd54d162a35f9b5d5b0e

Mengucapkan ‘terima kasih’ sangat erat kaitannya, atau bahkan merupakan satu paket, dengan sikap dan rasa bersyukur. Sebagian orang bisa dengan ringan mengucapkan terima kasih, tapi untuk sebagian lainnya, ‘terima kasih’ bukanlah sesuatu yang dengan mudah meluncur dari mulutnya atau terlihat dari sikapnya.

Ada beragam alasan yang bisa jadi penyebab seseorang enggan mengucapkan terima kasih. Berikut ini beberapa alasan yang saya coba rangkum berdasarkan pemikiran saya, pengalaman saya bertemu dengan orang-orang yang enggan mengucapkan terima kasih  dan juga hasil dari membaca artikel-artikel terkait:

* Malu

Bagi yang tidak biasa, atau mungkin tidak dibiasakan dalam keluarga/orangtua, mengucapkan terima kasih kadang terasa berlebihan atau tidak seharusnya, jadi ada perasaan kikuk dan malu jika harus mengucapkan terima kasih pada seseorang.

* Kuatir dianggap berhutang budi

Dengan mengucapkan terima kasih berarti mengakui kebaikan seseorang, ini menimbulkan beban perasaan bahwa suatu saat harus membalas kebaikan orang tersebut.

* Kuatir dianggap lemah dan tidak pantas

Ada orang-orang yang merasa ‘rendah’, dan kuatir dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani, jika dia mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diterimanya dari orang lain. Sikap seperti ini menimbulkan kesan ‘sombong tidak pada tempatnya’, dan biasanya orang yang punya perasaan seperti ini adalah orang yang memang seringkali butuh bantuan orang lain.

Disisi lainnya, saya juga pernah bertemu seseorang yang membicarakan temannya lebih kurang begini “saya gak suka orang yang sering mengucapkan terima kasih, karena pasti ada maunya”. Dia beranggapan ucapan terima kasih yang dia terima bukan sesuatu yang baik dan tulus. Dia membangun pikiran negatif bahwa orang yang mengucapkan terima kasih adalah orang yang akan merepotkan atau membebani dia. Pikiran yang agak aneh ya.

* Kurangnya kemampuan berinteraksi dalam hal memberi pujian

Ada sebagian orang yang merasa canggung untuk melontarkan pujian, nah kelirunya, mengucapkan terima kasih juga dianggapnya sama dengan memuji. Orang yang kurang pandai memberi pujian (secara tulus ya, bukan menjilat), biasanya juga merasa canggung jika ada orang lain yang memberi pujian padanya.

* Kurang mampu bersyukur

Cukup banyak orang yang kurang pandai melihat indahnya berkat, terlalu sibuk dengan segala urusan, terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya, sehingga kurang peka saat ada kemudahan, saat ada masalah yang terselesaikan, saat ada momen kebetulan yang meringankan bebannya. Jika tidak peka menghitung berkat, tidak melihat kesempatan untuk bersyukur, maka ‘terima kasih’ bisa dipastikan tidak akan terucap.

7e2e94623ef9e11f4a1a059c13737410

Bagaimanapun, ‘terima kasih’ haruslah disampaikan secara alamiah, tidak dibuat-buat, harus dengan sikap tulus dan positif. Dengan menyampaikan terima kasih yang tulus, efek positifnya akan memberikan rasa nyaman bagi diri kita, melegakan perasaan dan meringankan hati.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini  🙂

“At the end of the day, say thank you and get a good night’s rest” ~www.LiveLifeHappy.com~

369e23a59afb0608564259c3a0211c81

~Sherly Hermawan~

Friday, 6th November 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 6th November 2015, 20.43

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Jadi teman yang asyik yuk ~ Let’s be a better person #3

34568a392165e99f1eafb6e28943e702

Berteman adalah sesuatu yang menyenangkan. Persahabatan adalah salah satu anugerah kehidupan. Mereka yang bisa memiliki seorang sahabat sejati dan atau menjadi seorang sahabat sejati adalah orang-orang yang beruntung. Kehadiran teman akan memberi warna dan pengalaman dalam kehidupan. Warna dan pengalaman yang indah bisa membawa kita pada kebahagiaan dan keberhasilan, sementara warna dan pengalaman yang suram akan membawa kita pada ketidakbahagiaan. Nah, pandai-pandailah memilih teman, dan pandai-pandailah juga bersikap sebagai teman.

Berteman itu seperti berbagi kehidupan. Ada sebagian aspek kehidupan yang kita rasakan nyaman jika bisa kita ceritakan kepada sahabat atau lakukan bersama teman, mungkin sama nyamannya dengan bercerita dalam tulisan bagi yang suka menulis. Dengan adanya beragam media sosial yang menyediakan fasilitas untuk kemudahan berkomunikasi, hubungan pertemanan menjadi lebih praktis dan nyaman. Namun tetap, menurut saya, menemukan teman yang betul-betul cocok dan ‘sehati’ tidaklah mudah dan bukan suatu kebetulan. Demikian pula menjadi seorang teman yang bisa diandalkan sebagai tempat berbagi, juga tidak terjadi secara kebetulan. Perlu waktu dan situasi yang mendukung sehingga dua atau lebih orang bisa menjadi teman karib yang saling cocok. Perlu juga sikap yang baik dan ketulusan dari semua pihak yang menjalin pertemanan.

Ketulusan (sincerity) tentu saja bukan sesuatu yang bisa diatur atau dibuat-buat. Ketulusan adalah sesuatu yang bisa hadir secara spontan, namun bisa juga muncul seiring dengan kecocokan demi kecocokan yang dirasakan.  Sedangkan sikap (attitude) adalah sesuatu yang bisa diperbaiki, diubah, dikembangkan menjadi lebih baik. Yuk kita lihat apa saja sikap yang kurang menyenangkan atau bahkan mengganggu pertemanan, tapi pasti bisa diperbaiki, kalau kita mau membuka diri untuk berubah.

* Terlalu banyak komentar (rame ajah)

Semua dikomentarin, mulai dari komentar yang pasti betul sampai yang hanya kira-kira, atau bahkan yang jauh melenceng dari topik pembicaraan.

Coba deh mulai sekarang batasi keinginan untuk harus selalu berkomentar. Berkomentarlah segera kalau punya jawaban yang pasti atau masukan yang jelas. Jika tetap ingin berkomentar, tetapi tidak punya jawaban yang pasti (mungkin diperlukan karena setelah beberapa menit belum ada teman lain  yang memberi tanggapan), berkomentarlah dengan jujur, misalnya ‘wah aku malah baru tahu’ atau ‘aku malah dapat pengetahuan nih’. Jangan mengharuskan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dan menanggapi setiap topik, apalagi sampai berkomentar yang melenceng. Jangan merasa jadi orang yang kurang pengetahuan atau kurang gaul, hanya karena tidak punya komentar yang sesuai atas satu-dua topik. Mana ada sih orang yang tahu segala hal, bisa menjawab semua pertanyaan, memahami semua kejadian.

* Terlalu banyak dan terlalu mudah bertanya (kepo banget)

Nanya melulu, mulai dari pertanyaan yang gak penting-penting amat, sampai pertanyaan yang jawabannya sudah dibahas sebelumnya.

Coba deh sebelum melempar pertanyaan, pikirkan dulu, apakah saya betul-betul perlu tahu jawabannya, apakah pertanyaan saya ini punya nilai sehingga teman-teman merasa perlu memberi jawaban. Coba juga mulai sekarang, sebelum bertanya, pakai logika dan nalar sendiri dulu. Ada  banyak pertanyaan kita yang bisa kita temukan sendiri jawabannya atau sadari perlu tidaknya bertanya, setelah kita memanfaatkan logika dan nalar kita. Kalau kemudian mentok, betul-betul gak punya ide untuk mencari tahu sendiri, barulah bertanya. Percaya deh, pertanyaan yang kita kemukakan setelah kita pikirkan dulu logis tidaknya dan perlu tidaknya ditanyakan, adalah pertanyaan yang bermutu.

* Selalu penuh kekuatiran (gampang galau)

Kuatir ini kuatir itu, mulai dari urusan kecil sampai urusan yang gak berat-berat amat.

Coba deh jangan melihat semua hal dari sisi yang sulit, lihatlah dari sisi solusi yang bisa ditemukan dan dipakai untuk menghalau kekuatiran. Coba bersikap rileks dan tenang disaat membaca, mendengar, mengetahui sesuatu yang diluar prediksi atau yang tidak diantisipasi sebelumnya. Dengan pikiran tenang dan sikap rileks, kita bisa lebih mudah menemukan solusi, kendala akan lebih mudah diatasi atau dicari jalan keluarnya.

* Sikap kurang peduli (cuek)

Ada teman yang rajin sekali membagi info di grup WA dimana saya dan dia bergabung, hasil copy dari grup sana lalu paste di grup sini. Yang bikin kurang nyaman adalah, setelah mem-paste, sepertinya dia merasa tugasnya selesai, hpnya tidak dilihat lagi, sehingga jika ada pertanyaan atau tanggapan atas info yang dibaginya itu, dia tidak menjawab atau menanggapi. Jadi tidak jarang, info bagus yang dia bagikan itu akhirnya tidak memberi nilai positif karena hilang begitu saja, tergeser oleh percakapan-percakapan berikutnya.

Teman ini sepertinya termasuk tipe yang menggunakan hp pada saat dia ada keperluan saja, salah satunya adalah saat dia ingin membagi info. Setelah keperluannya selesai, hp dicuekin, gak dilihat-lihat sampai ada keperluan berikutnya. Membagi info bagus tapi kemudian tidak ada penjelasan lebih lanjut apabila ada pertanyaan, bukankah jadi menyebabkan kekurangnyamanan bagi teman-teman lain?

Coba ya, kalau dia mau lebih memahami bahwa komunikasi itu akan berkualitas jika terjalin antara 2 orang atau lebih dan berlangsung 2 arah, maka info yang dia bagikan pasti akan bermanfaat dan memiliki nilai positif.

* Mudah dan sering merevisi keputusan (plin-plan)

Memang terkadang tidak bisa dihindari keharusan merevisi keputusan karena kondisi dan situasi pribadi, tapi kalau hal ini terjadi hampir di setiap keputusan yang sudah dibuat, kan jadi merepotkan, apalagi kalau keputusan itu menyangkut acara yang melibatkan banyak orang dan ada unsur penghitungan biaya dan pengaturan jadwal, bisa mengakibatkan revisi pada setting grup secara keseluruhan kan.

Sebaiknya, kedewasaan berpikir dan pertimbangan yang baik harus kita aplikasikan di setiap saat kita akan menyampaikan keputusan atau konfirmasi. Terlalu cepat memberikan konfirmasi (supaya terkesan sebagai pengambil keputusan yang cepat), seringkali malah jadi menimbulkan kesan kurang dewasa dan juga kurang menghargai teman yang mengurus dan mengatur. Jika memang diperbolehkan memberikan keputusan sementara (tentative), tanyakan batas waktu konfirmasi final yang harus disampaikan. Jika kondisi dan situasi pribadi mengharuskan kita merevisi keputusan atau membatalkan konfirmasi yang sudah kita sampaikan sebelumnya, berikan alasan sebenarnya, jangan mengarang, dan jangan ragu untuk minta maaf karena kemungkinan menjadi penyebab perubahan pada setting grup secara keseluruhan.

* Membuat kelompok (nge-gank)

Jangan deeehhh…ini mah gayanya abg, sangat gak cocok untuk yang sudah melewati usia abg.

Kalau sudah membuat kelompok di dalam kelompok, akan sulit bersikap fair secara merata, seringkali sengaja atau tidak sengaja, keberpihakan pada kelompok kecil akan terlihat jelas.

Akan timbul kecanggungan dan kehati-hatian yang tidak seharusnya yang bisa dirasakan oleh sebagian teman diluar kelompok kecil tersebut, yang memiliki kepekaan lebih.

Saat kita berada dalam suatu kelompok pertemanan, bertemanlah dengan sikap tulus dan wajar dengan semua teman dalam kelompok tersebut. Jika ada beberapa orang yang lebih ‘sehati’, jadikan sahabat, dalam arti teman yang bisa saling berbagi untuk hal-hal yang lebih dalam, tanpa harus bersikap memisahkan diri dari teman-teman lain. Perlu dicatat, tidak semua teman mau dan bersedia untuk saling berbagi hal-hal yang sifatnya pribadi dan lebih dalam. Itu sebabnya, sahabat adalah karakter istimewa.

Mungkin masih ada hal-hal lain yang juga sedikit banyak bisa membuat jalinan pertemanan kurang nyaman. Poin-poin diatas saya tulis berdasarkan apa yang saya temukan dan rasakan. Bukan sebagai penilaian (judgment) atas sikap teman-teman saya, saya tidak punya hak untuk menilai siapapun, tapi ambillah ini sebagai masukan untuk kita bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, dari hari ke hari. Menjadi lebih baik itu harus dimulai dari dan diniatin oleh diri sendiri, tapi masukan dan kisah-kisah pengalaman dari teman bisa menjadi inspirasi dan motivasi buat kita semua.

“A friend is like a mirror and shadow; mirror doesn’t lie and shadow never leaves” ~ unknown ~

.f8136457bd03b346eb1236ab81ea3811

~Sherly Hermawan~

Sunday, 1st November 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 1st November 2015, 00.18

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Kenapa harus berpura-pura sih? ~ Let’s be a better person #2

Lets stop pretending

Hampir setiap orang pernah berpura-pura karena beragam alasan. Hampir setiap orang punya karakter publik yang seringkali ditampilkan untuk menyembunyikan atau menutupi pikiran atau perasaan sebenarnya.

Kadar pura-pura juga beragam, mulai dari yang kecil-kecilan –yang sebenarnya gak perlu-perlu amat-, sampai yang bukan kecil-kecilan –yang mungkin bisa membuat situasi dan kondisi menjadi runyam-

Pura-pura yang kecil-kecilan, misalnya begini:

* Saya pernah beberapa kali memperhatikan ada anak yang menolak saat ditawari kue oleh mama temannya, tapi kemudian secara sembunyi-sembunyi melihat dengan penuh minat ke piring yang berisi kue tersebut.

* Pernah juga sekali waktu saya menawarkan tumpangan ke seorang tante (A), karena rumahnya kebetulan bisa searah dengan jalan pulang saya meskipun beda cluster dan saya harus sedikit berbalik  menuju cluster rumah saya. Saat saya tawarkan, Tante tersebut menolak dengan alasan akan dijemput anaknya. Saat berjalan menuju kendaraan, saya dengar omongan dua orang tante lain (B dan C) yang bersedia ikut dengan saya,  ‘kog dijemput anaknya ya, kan tadi bilang anaknya lagi di Surabaya, makanya tadi perginya bareng kita’. Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan obrolan itu, sampai saat keluar dari area parkir, kami melihat tante A tadi mau menyeberang jalan sendirian, cuaca cukup panas di tengah hari itu. Saya menepi dan membuka jendela, menanyakan apakah beliau ingin ikut. Tante A setuju dan masuk ke mobil.  Seolah ada kesepakatan batin, tidak ada satupun dari kami yang bertanya tentang “anaknya yang akan menjemput” dan Tante A juga seolah lupa atau menganggap kami semua lupa dengan ucapannya 10 menit lalu itu.

Pura-pura yang bukan kecil-kecilan, ini yang pernah saya alami:

* Ada seorang yang saya kenal cukup dekat, seorang yang selalu ingin terlihat ideal dan positif, selalu tampil ‘baik-baik saja’, penuh perhatian, peduli, dan bertoleransi. Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, sikap ideal dan positif itu tidak tampil. Yang jelas terlihat adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya diri, dan kekurangmampuan menangani situasi. Saat berbeda pendapat dengan pasangannya, dia tidak bisa mengemukakan pendapatnya yang mungkin, sebenarnya, lebih tepat.

Satu hal yang bisa mengakibatkan kerugian adalah saat dia atau pasangannya sakit. Karena terdorong mempertahankan kesan ‘baik-baik saja’, dia merasa malu untuk mengaku sakit.

Hal lain yang mungkin juga merugikan adalah ketika dia merasa tidak perlu untuk curhat kepada orang lain atau meminta saran dari orang lain atas masalah yang dihadapinya, demi menjaga kesan ‘positif’nya.

* Beberapa tahun lalu saya pernah bergabung di salah satu perusahaan agensi asuransi yang cukup besar -sejujurnya saya hanya memenuhi ajakan seorang teman yang baik dan tulus sambil mencoba kemampuan saya untuk menawarkan produk, saya tidak punya minat cukup besar untuk menjadi agen asuransi yang sukses-.

Sebagai ‘anak baru’ saya merasa begitu banyak senior (yang bukan upline saya) yang penuh perhatian, bersedia membimbing dan membagi ilmunya. Saat makan siang, saya diajak bergabung dalam rombongan besar para senior. Makan malampun bersama teman-teman, sehingga cukup sering saya tidak makan malam bersama keluarga.

Perbedaan sikap mulai terasa saat saya mulai rutin membunyikan lonceng tanda berhasil menjual polis. Semakin sibuk saya menyerahkan data nasabah yang membeli polis, saya merasa semakin ‘sepi’ berada di kantor, padahal ruangan penuh dengan teman-teman dan para senior. Sangat terasa perubahan situasinya, para senior yang dulu dengan ramah membantu saya memahami produk sekarang datar-datar saja,  teman-teman seangkatan juga saya rasakan tidak seramah sebelumnya. Sempat saya pikir, ini mungkin perasaan saya saja karena saya pada dasarnya memang kurang menikmati pekerjaan ini, hingga di suatu kesempatan curhat dengan upline saya, beliau mengiyakan bahwa situasi seperti itu memang lazim terjadi.

Dibalik setiap kepura-puraan sesungguhnya ada rasa takut yang berakar, yang mungkin tidak disadari keberadaannya. Rasa takut menampilkan situasi apa adanya, takut menunjukkan perasaan yang sebenarnya, takut memperlihatkan keotentikan diri.

* Anak yang menolak kue, bisa jadi karena takut disalahkan oleh orangtuanya yang seringkali berpesan untuk tidak boleh menerima makanan dari orang lain, atau harus bersikap manis dan tidak ‘rakus’ jika bertemu orang lain.

Kasian sebenarnya, tapi melihat wajah kecil yang sembunyi-sembunyi melihat kue yang kelihatannya enak itu, saya jadi tersenyum karena lucu 🙂

* Tante A yang menolak ajakan diantar pulang, mungkin takut orang berpikir bahwa anaknya kurang memperhatikan dia, dengan kata lain, dia berusaha melindungi dan menjaga citra baik anaknya dengan cara yang kurang tepat. Kemungkinan lain, dia takut terlihat kurang keren kalau harus nebeng, tapi gak takut berpanas-panas jalan kaki 🙂

* Kenalan yang selalu tampil ‘baik-baik saja’, takut orang lain melihat adanya ketidak-harmonisan antara dia dengan pasangannya, dan antara mereka sebagai orangtua dengan anak-anaknya, meskipun sebenarnya dia merasa tertekan karena harus selalu menampilkan kondisi ‘baik-baik saja’. Didalam keluarganya, ada rasa takut terhadap pasangannya yang tanpa disadari telah bersikap dominan dan menanamkan pemahaman bahwa dia harus selalu ‘mendukung’ ide atau keputusan apapun yang dibuat oleh pasangannya. Tidak ada sikap dominan secara fisik disini, tapi sikap dominan secara psikis yang menimbulkan rasa takut.

Membicarakan urusan domestik kepada orang lain, adalah hal yang menurut dia ‘tidak pantas’. Dia lebih memilih menangis dan membiarkan waktu yang menyelesaikan masalahnya.

Buat saya, sahabat adalah fasilitas terbaik untuk curhat dan berbagi cerita, sahabat mau mendengarkan dengan telinga dan hati, sahabat juga yang seringkali punya solusi cerah yang tidak terpikirkan oleh saya saat lagi bete. Mana ada sih orang yang gak pernah ngalamin saat bete.

* Perubahan perilaku di kantor, ini sih jelas, takut tersaingi. Waktu masih ‘anak baru’ kan belum terampil, jadi bolehlah dibaik-baiki. Begitu mulai terampil, wah mulai bahaya nih.

Padahal, bisa aja kan si ‘anak baru’ ini adalah orang yang tahu membalas budi, yang karena merasakan kenyamanan lingkungan kerjanya, malah tumbuh minatnya dan ingin meraih sukses di posisi yang lebih tinggi dengan mengajak teman-temannya menjadi downliner. Bukankah semakin banyak downliner, pundi-pundi komisi para upliner akan semakin padat?

Kepura-puraan terjadi bisa karena seseorang merasa ‘tidak cukup’ sebagai dirinya sendiri. Bisa juga karena merasa ingin tampil ‘lebih bagus’ dimata orang lain, atau ingin mendapatkan ‘apresiasi lebih’ melalui sikap atau cerita yang disampaikannya.

Banyak orang yang bersikap pura-pura karena ingin menjadi pribadi lain yang dianggap lebih baik, lebih hebat. Orang yang berpura-pura adalah orang yang tidak belajar menerima dan menghargai dirinya sendiri.

Yang disayangkan, sikap berpura-pura ini bisa menjadi kebiasaan, jika tidak ada upaya untuk menghentikannya.

Menghentikan kebiasaan berpura-pura bukanlah hal mudah, malah mungkin membutuhkan upaya yang cukup keras dan niat yang kuat, namun pasti bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Dari banyak sumber dan tulisan yang saya baca, saya mendapatkan beberapa poin berikut ini yang bisa dijadikan petunjuk praktis untuk menghentikan kebiasaan berpura-pura dan mulai menunjukkan keotentikan diri.

  1. Beranikan diri untuk mengatakan ‘Tidak’

Mengatakan ‘Ya’ bukan sikap keliru, tetapi mengatakan ‘Ya’ disaat hati kita ingin mengatakan ‘Tidak’ sudah tentu bukan sesuatu yang baik.

Jangan takut mengemukakan pikiran dan perasaan kita yang sesungguhnya, meskipun mungkin bertentangan dengan sikap yang ditunjukkan orang lain. Jangan menyamakan pandangan hanya karena ingin menyenangkan orang lain atau karena takut jadi ribut. Sampaikan pandangan kita yang berbeda dengan sikap dan kata-kata yang baik. Jika tidak bisa diterima oleh pihak lain, tidak perlu emosi, yang penting kita sudah berani menyatakan pandangan kita dengan cara baik.

  1. Jangan meniru-niru

Setiap pribadi unik dan berbeda, akan lebih nyaman kalau kita jalani hidup dengan sikap dan cara kita sendiri, bukan dengan menjadi pribadi lain. Capek kalau harus menjadi pribadi lain. Ciptakan jalur kita sendiri dan lalui jalur itu dengan sikap positif dan kecerdasan.

  1. Katakan yang sebenarnya

Pertama, jujur pada diri sendiri, ini sebagai dasar untuk bersikap dan berbicara apa adanya kepada orang lain. Berbohong berarti membiarkan diri kita masuk dalam jalur kekuatiran yang tidak berujung -kuatir ketahuan berbohong-, karena setiap kebohongan akan perlu ditutupi oleh kebohongan berikutnya. Bersikap dan berbicara jujur adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

  1. Tumbuhkan rasa percaya diri

Keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik akan menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat kita merasa lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. Dengan rasa percaya diri, kita bisa terbebas dari kebutuhan akan persetujuan/pengakuan dari orang lain.

  1. Kerjakan hal-hal yang kita suka

Tekuni pekerjaan atau kegiatan apapun yang membuat kita senang saat mengerjakannya, jangan pedulikan orang lain senang atau tidak. Tidak perlu selalu mempertimbangkan harapan orang terhadap kita. Mencintai dan menekuni pekerjaan akan membuat kita selaras dengan suara hati.

c84a8a42e90f3ac15b1f97c0a283d332

“Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it” ~Bruce Lee~

~Sherly Hermawan~

Wednesday, 24th June 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 24th June 2015, 21.06

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Kekuatan vs kelemahan, keahlian/keterampilan vs keterbatasan ~ Let’s be a better person #1

ecb1595edefc326a3ab1dc2d33aafc73

Dalam proses melamar pekerjaan, seringkali kita dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, kemampuan dan keterbatasan.

Kekuatan adalah atribut pribadi atau sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir, kebalikannya adalah kelemahan yaitu sesuatu yang memang tidak atau kurang dimiliki sejak lahir.  Contoh sederhananya, banyak diantara kita yang memiliki karakter mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri di kelompok manapun, atau karakter yang selalu tampil solid dan tenang, selalu percaya diri, tidak terlihat gelisah atau kuatir meskipun mungkin tengah mengalami kesulitan. Tipe sebaliknya adalah, pribadi yang tidak mudah bergaul, atau perlu waktu adaptasi yang cukup panjang untuk bisa membaur dalam suatu kelompok pertemanan, atau seseorang yang mudah berkeluh kesah, tampak gelisah dan kuatir, atau bahkan seperti seseorang yang perlu dikasihani meskipun mungkin kesulitan atau kendala yang tengah dihadapinya bukan masalah besar.

Kekuatan dan kelemahan ini adalah sifat-sifat alamiah. Pribadi yang kuat umumnya bisa diandalkan, memiliki pertimbangan yang cerdas, mampu membuat keputusan, tegas dalam bersikap, dan selalu tampil percaya diri. Pribadi yang lemah umumnya ragu-ragu, lebih senang bertindak sebagai pelaksana dengan mengikuti aturan/instruksi yang diberikan oleh orang lain, kurang cerdas, dan seringkali tampil kikuk. Saya pribadi merasa sangat gak nyaman kalau bertemu dengan orang yang kikuk.

Keahlian/keterampilan adalah kemampuan yang bisa diperoleh dari pendidikan di sekolah, pelatihan-pelatihan, dan juga dari kemampuan menggali bakat pribadi atau belajar secara otodidak. Seseorang yang memiliki keahlian/keterampilan pada umumnya sangat berminat mengikuti perkembangan teknologi dan akan menempatkan kemajuan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilannya. ‘Keterbatasan’ dalam tulisan saya ini adalah ketidakmampuan pribadi yang bisa terjadi karena pendidikan yang kurang, tidak ada biaya dan atau kesempatan untuk sekolah atau mengikuti pelatihan-pelatihan, kurang memiliki keinginan untuk mengembangkan diri, tidak mempunyai kesempatan atau tidak percaya diri untuk bergaul dengan pribadi atau kelompok yang cerdas. Seringkali pribadi dengan keterbatasan tipe ini juga tidak menempatkan kemajuan teknologi sebagai suatu fasilitas untuk mencerdaskan diri, lebih suka menggunakan metode-metode mudah dan tradisional yang tidak didukung oleh teknologi, jadi gak perlu repot-repot mempelajari teknisnya.

Keahlian/keterampilan dan keterbatasan ini bukan sifat-sifat alamiah. Pribadi yang memiliki keahlian/keterampilan umumnya akan mudah dan lebih cepat meraih keberhasilan dibidang yang ditekuninya, memiliki pola pikir yang luas, selalu berminat untuk menambah pengetahuannya, memiliki antusiasme yang tinggi terhadap teknologi, terutama teknologi yang memudahkan pekerjaannya. Sedangkan pribadi yang terpaku pada keterbatasannya pada umumnya sulit berkembang dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk tiba pada keberhasilannya, memiliki pola pikir yang sederhana dan bisa jadi, ketinggalan jaman, dan kurang berminat dalam memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan pekerjaannya. Tidak jarang kan kita temui orang-orang dengan keterbatasan tipe ini tidak bisa mengoperasikan komputer –dan dengan ceria menyebut dirinya gaptek- bahkan tidak punya alamat email, yang bagi kita alamat email adalah sama pentingnya dengan alamat rumah.

Nah, kesamaan dari keempat sifat ini adalah sejatinya semua bisa dikembangkan, bisa ditingkatkan. Pribadi yang memiliki kekuatan dan keahlian/keterampilan, mari terus meningkatkan pribadinya menjadi lebih baik, lebih berkualitas, sedangkan pribadi yang memiliki kelemahan atau masih terpaku pada keterbatasannya, ayo segera memutuskan untuk mencari dan menata kekuatan dirinya dan bangkit meninggalkan keterbatasannya.

48e91eb7846bd15351d60227e998731c

~Sherly Hermawan~

Sunday, 24th May 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 24th May 2015, 23.40

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan