Live life well with prayer, love, and gratitude (2 versions: English dan Bahasa Indonesia)

This July, I heard sad news: two friends of mine have lost their beloved husbands. Their sadness and the fragility of life touched my heart.  In times of sadness, we are actually reminded how fragile our existence is and how important it is to live life well, filling our days with prayer, love, and gratitude.

Life is a precious gift, yet its impermanence can often be startling. We tend to get caught up in our daily routines, pursuing ambitions, and managing responsibilities, sometimes forgetting the profound beauty of simply being alive. The sudden loss of loved ones serves as a stark reminder that life is fragile. It is not guaranteed, and it can change in the blink of an eye. This awareness should inspire us to cherish every moment and to live life well.

Living life well is not just about achieving goals or acquiring material success, but also about creating a meaningful and fulfilling life. It means nurturing relationships, engaging in activities that bring joy, and cultivating a sense of inner peace. One of the most powerful ways to achieve this is through prayer.

Prayer is a bridge that connects us to the divine, offering solace and strength in times of trouble. It is a practice that allows us to express our deepest fears, hopes, and gratitude. Prayer can provide a sense of purpose and direction, grounding us in moments of uncertainty. It helps us to pause and reflect, to seek guidance and to find comfort in the knowledge that we are not alone. Whether through formal religious practices or personal meditative moments, prayer invites us to connect with something greater than ourselves.

Equally important is the presence of love in our lives. Love is the essence of human existence. It is the force that binds us together and gives meaning to our experiences. Love comes in many forms: the love of a partner, the love of family and friends, and the love we extend to ourselves. It is the act of showing kindness, compassion, and understanding. Love is about being present, listening, and supporting one another. It is through love that we find joy, comfort, and resilience.

In times of loss, love becomes even more critical. It is love that helps us heal, that gives us the strength to move forward. When losing someone dear to us, the love we shared does not disappear. It becomes a part of us, a source of strength and a reminder of the beauty of life. By living with love, we honor those we have lost and keep their memories alive.

Gratitude is another essential component of living well. It is the practice of recognizing and appreciating the goodness in our lives. Gratitude shifts our focus from what we lack to what we have, fostering a sense of contentment and joy. It helps us to see the positive aspects of our experiences, even in challenging times.

When we cultivate gratitude, we begin to notice the small blessings surround us: waking up healthy in the morning, writing, caring for plants, accompanying grandchildren, taking photos, looking at a beautiful sunset, the simplicity of life, a kind attitude, a moment of laughter, quiet time in prayer.   Gratitude reminds us that life, despite its hardships and challenges, is filled with moments of wonder and grace. It encourages us to live in the present, to savor each moment and to acknowledge the goodness that exists in our lives.

Incorporating prayer, love, and gratitude into our daily lives can transform the way we view the world. These practices help us to navigate the ups and downs of life with a sense of purpose and resilience. Prayer, love, and gratitude remind us of the fragility of life and the importance of living life well.

As we move forward, let us remember that every moment is a gift. Let us make a conscious effort to fill our lives with prayer, love, and gratitude. Let’s take time to connect with the divine, to nurture our relationships, and to appreciate the beauty that surrounds us. By doing so, we create a life that is rich and meaningful, one that honors the subtle and precious nature of our existence.

The loss of my friends’ husbands is a poignant reminder of how quickly life can change. It is a call to live with intention, to embrace the present, and to fill our days with what truly matters. Let us honor the fragility of life by living well, cherishing each moment, and holding dear the practices of prayer, love, and gratitude. In this way, we create a legacy of joy and fulfillment, one that transcends the challenges and uncertainties of our journey.

Bulan Juli ini, saya mendengar kabar duka: dua orang teman saya kehilangan suami tercinta mereka. Kesedihan mereka dan kerapuhan hidup ini menyentuh hati saya. Disaat-saat sedih, sesungguhnya kita diingatkan betapa rapuhnya keberadaan kita dan betapa pentingnya menjalani hidup dengan baik, mengisi hari-hari dengan doa, cinta, dan rasa syukur.

Hidup adalah anugerah yang berharga, namun ketidakkekalannya sering kali mengejutkan.  Kita cenderung terjebak dalam rutinitas sehari-hari, mengejar ambisi, dan mengelola tanggung jawab, terkadang melupakan keindahan hidup yang mendalam. Kehilangan orang yang dicintai secara tiba-tiba menjadi pengingat bahwa hidup ini rapuh. Suatu hal yang tidak dijamin dan dapat berubah dalam sekejap mata.  Kesadaran ini selayaknya menginspirasi kita untuk menghargai setiap momen dan menjalani hidup dengan baik.

Menjalani hidup dengan baik bukan hanya tentang mencapai tujuan atau memperoleh kesuksesan materi, tetapi juga tentang menciptakan kehidupan yang bermakna dan memuaskan. Ini berarti membina hubungan, terlibat dalam aktivitas yang mendatangkan kegembiraan, dan memupuk rasa kedamaian batin. Salah satu cara paling ampuh untuk mencapai hal ini adalah melalui doa.

Doa adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Yang Ilahi, menawarkan penghiburan dan kekuatan disaat-saat sulit.  Doa adalah jalan atau cara yang memungkinkan kita mengungkapkan ketakutan, harapan, dan rasa syukur kita yang terdalam.  Doa dapat memberikan tujuan dan arah, memberi landasan berpijak bagi kita pada saat-saat ketidakpastian.  Doa membantu kita untuk berhenti sejenak dan merenung, mencari bimbingan dan menemukan kenyamanan karena tahu bahwa kita tidak sendirian.  Baik melalui praktik keagamaan formal atau momen meditasi pribadi, doa mengundang kita untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Yang tak kalah penting adalah kehadiran cinta dalam hidup kita. Cinta adalah inti dari keberadaan manusia. Cinta adalah kekuatan yang mengikat kita bersama dan memberi makna pada hal-hal yang kita alami. Cinta hadir dalam berbagai bentuk: cinta pada pasangan, cinta pada keluarga dan teman, dan cinta yang kita berikan pada diri sendiri.  Suatu tindakan menunjukkan kebaikan, kasih sayang, dan pengertian. Cinta adalah tentang hadir, mendengarkan, dan mendukung satu sama lain.  Melalui cinta kita menemukan kegembiraan, kenyamanan, dan ketahanan.

Disaat kehilangan, cinta menjadi semakin penting.  Cintalah yang membantu kita sembuh, yang memberi kita kekuatan untuk bergerak maju. Saat kehilangan seseorang yang kita sayangi, cinta yang kita bagi tidak hilang. Cinta menjadi bagian dari diri kita, sumber kekuatan dan pengingat akan indahnya hidup.  Dengan hidup dengan cinta, kita menghormati mereka yang telah hilang dan menjaga kenangan mereka tetap hidup.

Rasa syukur adalah komponen penting lainnya dalam hidup yang baik. Bersyukur adalah cara mengenali dan menghargai kebaikan dalam hidup kita. Rasa syukur mengalihkan fokus kita dari kekurangan ke apa yang telah kita miliki, menumbuhkan rasa puas dan gembira.  Bersyukur membantu kita melihat aspek positif dari pengalaman kita, bahkan dimasa-masa sulit.

Saat kita memupuk rasa syukur, kita mulai memperhatikan berkat-berkat kecil disekitar kita: bangun pagi dalam kondisi sehat, menulis, merawat tanaman, menemani cucu-cucu, memotret, memandang matahari terbenam yang indah, kesederhanaan hidup, sikap baik hati, momen tawa, saat teduh dalam doa.  Rasa syukur mengingatkan kita bahwa hidup, meskipun banyak kesulitan dan tantangan, dipenuhi dengan momen-momen keajaiban dan rahmat. Ini mendorong kita untuk hidup di masa sekarang, menikmati setiap momen dan mengakui kebaikan yang ada dalam hidup kita.

Memasukkan doa, cinta, dan rasa syukur kedalam kehidupan kita sehari-hari dapat mengubah cara kita memandang dunia.  Praktik-praktik ini membantu kita menavigasi naik turunnya kehidupan dengan tujuan dan ketahanan. Doa, cinta, dan rasa syukur mengingatkan kita akan kerapuhan hidup dan pentingnya menjalani hidup dengan baik.

Saat kita melangkah maju, marilah kita ingat bahwa setiap momen adalah anugerah. Mari kita melakukan upaya sadar untuk mengisi hidup dengan doa, cinta, dan rasa syukur.  Mari meluangkan waktu untuk terhubung dengan Tuhan, memelihara hubungan kita, dan menghargai keindahan yang mengelilingi kita.  Dengan melakukan hal ini, kita menciptakan kehidupan yang kaya dan bermakna, yang menghormati sifat halus dan berharga dari keberadaan kita.

Berpulangnya suami teman-teman saya merupakan pengingat yang menyedihkan tentang betapa cepatnya kehidupan bisa berubah. Suatu ajakan untuk hidup dengan niat dan tujuan, menerima saat sekarang, dan mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang benar-benar penting.  Mari hargai kerapuhan hidup dengan menjalani kehidupan yang baik, menghargai setiap momen, dan menjunjung tinggi praktik doa, cinta, dan syukur. Dengan cara ini, kita menciptakan warisan kegembiraan dan kepuasan, warisan yang melampaui tantangan dan ketidakpastian dalam perjalanan kita.

Sherly Hermawan
Suvarna Padi, Saturday, July 27th, 2024


Published on 27th July 2024, 17.10

Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan

The ones that love us never really leave us (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

This morning, a friend who has lived in Sydney, Australia for a dozen years posted sad news to the WA group. His elder brother in Jakarta was found dead in the car he was driving.

Information received from the neighborhood community where the incident occurred was that the deceased had a heart attack while driving his car alone. When the attack occurred, his car hit a fence and a tree by the side of the road. It looks like the car is being driven at a low speed, so that the impact is not hard, and the damage to the car is not severe. The deceased suffered no injuries.

My friend is very sad because during the current pandemic, it is difficult to be able to visit Indonesia for any reason. Even sadder,  because it’s been a long time he did not return to Indonesia, and he had no chance to talk with his brother for a quite long while.

In sadness, the longing feels so intense, the desire to chat suddenly becomes so great, there are lots of things that really want to be asked. The memories of being together suddenly appeared, adding to the pain.

Basically we are never ready for a separation, especially with those close in our heart. I felt the sadness that had persisted since my younger sister passed away, then my mother 2 years later, then my father 2 years after my mother. Remembering their words and styles is something I never miss in my everyday life.

I believe in Sirius Black’s phrase “The ones that love us never really leave us”. Every now and then I can feel the presence of my mother, father and sister when I am alone. When longing is so deep and when sad or happy, I talk to them.

When we, my husband and I, agreed to decide to go on a pilgrimage to the Holy Land, in prayer I conveyed it to my mother, father and sister with feelings of happiness and sadness. Happy that God gave us such a wonderful opportunity, sad as to imagine how much happier it would be if we could go together.

Only prayer can strengthen us, only faith can provide comfort for us who still have to complete our journey in this world. Believe, God’s ways and paths are the best and those who have returned to our Father’s home are united with heavenly peace and love.

Seorang teman yang sudah belasan tahun menetap di Sydney, Australia, tadi pagi memposting berita duka di grup WA. Kakaknya di Jakarta ditemukan meninggal di dalam mobil yang dikendarainya. Info yang diterima dari komunitas lingkungan tempat kejadian adalah almarhum terkena serangan jantung saat sedang mengendarai mobilnya sendirian. Ketika serangan terjadi, mobilnya menabrak pagar dan pohon yang berada dipinggir jalan. Kelihatannya mobil dikendarai dengan kecepatan rendah, sehingga benturan tidak keras, dan kerusakan mobil tidak parah. Almarhum tidak menderita luka.

Teman saya sedih karena dimasa pandemi sekarang ini, sulit untuk bisa berkunjung ke Indonesia dengan alasan apapun. Lebih menyedihkan,karena sudah cukup lama dia tidak kembali ke Indonesia, sudah lama tidak berbincang dengan kakaknya tersebut.

Dalam kesedihan, kerinduan terasa begitu pekat, keinginan untuk mengobrol mendadak menjadi begitu besar, ada banyak hal yang ingin sekali ditanyakan. Kenangan-kenangan saat bersama tiba-tiba muncul semua, menambah kepedihan.

Pada dasarnya kita tidak pernah siap dengan perpisahan, terutama dengan orang-orang yang dekat di hati. Saya merasakan kesedihan yang menetap sejak berpulangnya adik saya, lalu mama saya 2 tahun setelahnya, kemudian papa saya 2 tahun setelah mama. Mengingat kata-kata dan gaya mereka adalah hal yang tidak pernah terlewatkan di setiap hari saya.

Saya percaya dengan ungkapan Sirius Black “The ones that love us never really leave us”. Sesekali saya bisa merasakan kehadiran mama papa dan adik saya di saat saya sedang sendiri. Ketika rindu begitu dalam dan ketika sedih atau bahagia, saya bicara pada mereka.

Saat kami, saya dan suami, sepakat memutuskan untuk pergi berziarah ke Tanah Perjanjian, dalam doa saya sampaikan ke mama papa dan adik dengan perasaan bahagia dan sedih. Bahagia karena Tuhan memberi kami kesempatan yang sangat indah, sedih karena membayangkan betapa lebih bahagianya jika kami bisa pergi bersama-sama.

Hanya doa yang bisa menguatkan kita, hanya iman yang mampu memberikan penghiburan buat kita yang masih harus menyelesaikan perziarahan kita di dunia ini. Percaya, cara dan jalan Tuhan adalah yang terbaik dan mereka yang sudah pulang ke rumah Bapa sudah menyatu dengan damai dan kasih Surgawi.

Sherly Hermawan
Serpong, Friday, 29 January 2021


Published on 29th January 2021, 22.23

Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan