Birthday Note (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

birthday

Celebrating birthday… why not? as long as it implies as an expression of gratitude

Birth is our beginning. Birthday is an opened window of chance for us to start our life, the chance to fulfill our unique missions. So, a birthday is a momentous occasion to celebrate, to be remembered, just as a nation commemorates its birth or as an organization celebrates its founding. Not just a chance to party, eat well and receive gifts, instead it is a chance to remember the day that a special event occurred, to celebrate and give thanks and to reflect upon how well we fulfill our calling.

Day of birth is the day when we were mandated to participate in building the world. The Day when God entrusts us to face the challenges of the world. At the same time, we are given the ability to attain a qualified spiritual elevation to achieve the purpose of life – an unimaginable height for the soul before it is released from the noble heavenly abode to inhabit the physical body.

A birthday is a time to celebrate our existence as the part of joyful of the universe. Our existence should be the joy of the universe. It is also time to rethink our journey of life: how far have we stepped ahead, how big is the disparity between what I have accomplished and what I can accomplish? Am I spending my time properly or am I allowing myself to involve in things that distract me from my higher calling? How can I strengthen the thread that connects my outer life and my inner life?

Celebrating birthdays can be a moment to recall our birth, recall our beginning. How we were well prepared to start the life, we were entrusted by the Lord Creator, we had missions.

No matter how things went yesterday, or last year, this present moment we always have the capacity to try again. Birthday is a refresher, a chance for regeneration—not just materially, but spiritually.

Birthday celebration could also be a good time to show confidence that I am and will continue to be worthy of God’s trust. No matter the obstacles, I will persevere and live up to God’s expectations of me.

And now, with all the goodness of life; health, logical ability, qualified adequacy, beautiful and blessed family life, good spiritual and religious sides, good social life, good friends and encouraging friendships, I know it is good for me to celebrate my birthday, today, as an expression of my gratitude to the Lord Creator and also to the universe that are so extraordinary organizing this life.

Happy birthday to the happy-me, not just a one-day happiness, but I want the happiness that is always available and never receded, never faded.

May God be pleased.

20180801_122700

My birthday breakfast.. simple, and I love it.

 

Merayakan ulang tahun … kenapa tidak? selama itu dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur

Kelahiran adalah awal kita. Hari lahir adalah jendela kesempatan yang terbuka untuk kita memulai kehidupan, kesempatan untuk memenuhi misi-misi unik kita. Jadi, ulang tahun adalah momen yang sangat penting untuk dirayakan, untuk diperingati, sama seperti sebuah bangsa memperingati kelahirannya atau sebagai organisasi merayakan pendiriannya. Bukan sekadar kesempatan untuk berpesta, makan-makan dan menerima hadiah, melainkan kesempatan untuk mengingat hari ketika suatu peristiwa istimewa terjadi, untuk merayakan dan bersyukur dan untuk merefleksikan seberapa baik kita memenuhi panggilan kita.

Hari lahir adalah hari ketika kita diamanatkan untuk ikut membangun dunia. Hari ketika Tuhan mempercayakan kita untuk menghadapi tantangan dunia. Di saat yang sama, kita diberi kemampuan untuk mencapai ketinggian spiritual yang mumpuni untuk meraih tujuan kehidupan — ketinggian yang tak terbayangkan bagi jiwa sebelum dilepaskan dari tempat tinggal surgawi yang luhur untuk menghuni tubuh fisik.

Ulang tahun adalah saat untuk merayakan eksistensi kita sebagai bagian dari kegembiraan alam semesta. Keberadaan kita selayaknya menjadi kegembiraan alam semesta. Ini juga merupakan saat untuk memikirkan kembali perjalanan hidup kita: seberapa jauh kita telah melangkah, seberapa besarnya perbedaan antara apa yang telah saya capai dan apa yang dapat saya capai? Apakah saya menggunakan waktu dengan benar atau apakah saya membiarkan diri terlibat dalam hal-hal yang mengalihkan perhatian saya dari panggilan saya yang lebih tinggi? Bagaimana saya bisa memperkuat benang yang menghubungkan kehidupan luar saya dan kehidupan batin saya?

Merayakan ulang tahun bisa menjadi momen untuk mengingat kelahiran kita, mengingat awal kita. Bagaimana kita dipersiapkan dengan baik untuk memulai hidup, kita diberikan kepercayaan oleh Sang Pencipta, kita punya misi.

Tidak peduli bagaimana keadaan kemarin, atau tahun lalu, saat sekarang ini kita selalu memiliki kemampuan untuk mencoba lagi. Ulang tahun adalah penyegaran, kesempatan untuk regenerasi — bukan hanya secara materi, tetapi juga spiritual.

Perayaan ulang tahun juga bisa menjadi saat yang tepat untuk menunjukkan keyakinan diri bahwa saya dan akan terus menjadi layak sebagai kepercayaan Tuhan. Tidak peduli rintangannya, saya akan bertahan dan hidup sesuai dengan harapan Tuhan terhadap saya.

Dan sekarang, dengan segala kebaikan hidup; kesehatan, kemampuan logika, kecukupan yang berkualitas, kehidupan keluarga yang indah dan terberkati, sisi-sisi spiritual dan religi yang terpupuk baik, kehidupan sosial yang baik, teman-teman yang baik dan persahabatan yang menyemangati,  bukankah sepatutnya saya merayakan ulang tahun saya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta dan juga kepada semesta yang begitu ramah menyelenggarakan kehidupan ini?

Selamat ulang tahun kepada saya yang berbahagia, bukan hanya kebahagiaan satu hari, tetapi saya ingin kebahagiaan yang selalu tersedia dan tidak pernah surut, tidak pernah pudar.

Semoga Tuhan berkenan.

birthday to me

Serpong, 1st August 2018, 17.01

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Morning notes: Be thankful – Catatan pagi: Bersyukur (2 versions: English & Bahasa Indonesia)

20180624_065652 20180519_060609

Because in real, there are always things we should be thankful for in every second of our lives

Getting up in the morning in health blessings, in the regularity of breath, having time, intention and ability for morning prayer, being able to move the limbs according to the command from clear and healthy brain, hearing the sounds of nature and inhaling all of goodness, opening the door of the house, the door of the heart, the eyes of the soul, and the mind for all the goodness, tenderness and strength that nature provides.

Having chance and ability to set choices and make decisions on every side, angle, arch, length, valley and hill of life. Instinctively, applying the simplicity that lightens the soul, the intelligence that elevates the dignity, the truth that protects the heart. Having a good family life, a qualified social life, an eloquence in taking responsibility, a reasonableness in thinking and acting, a sensitivity as a balancer to the assertiveness, passion and enthusiasm as self-fulfillment.

Being able to feel the fatigue as an accomplishment, smile over mistakes of experience-worth, laugh as a manifestation of respect for life, self-forgive for a conscious stupidity, tolerate to lack of self-ability , create the right lashs as a trigger for more self-achievement.

Being able to put something that is not obtained or something missing as a reminder to count the blessings and give thanks for everything that has been obtained and owned.

Being able to rest without burden, having a quiet moment for evening prayer and being thankful for all grace, contemplating on goodness and glory, compiling humility and patience, building plans for a better tomorrow.

Above those all, thankful for I’m the beloved of the Most-Gracious-One.

20180624_113808 20180624_065733

Karena senyatanya selalu ada hal yang patut kita syukuri di setiap detik kehidupan kita

Bangun pagi dalam berkat kesehatan, dalam keteraturan napas, punya waktu, niat dan kemampuan untuk berdoa pagi, bisa menggerakkan anggota tubuh sesuai perintah otak yang jernih dan sehat, mendengar suara alam dan menghirup segala kebaikannya, membuka pintu rumah, pintu hati, mata jiwa, dan pikiran bagi segala kebaikan, kelembutan dan kekuatan yang disediakan alam.

Punya kesempatan dan kemampuan untuk menentukan pilihan dan membuat keputusan di setiap sisi, sudut, lengkung, panjang, lembah dan bukit kehidupan. Bernaluri dalam menerapkan kesederhanaan yang meringankan jiwa, kecerdasan yang meninggikan harkat, kebenaran yang melindungi hati.

Memiliki kehidupan berkeluarga yang baik, kehidupan sosial yang mumpuni, kefasihan menjalani tanggung jawab, kewajaran dalam berpikir dan bertindak, kepekaan sebagai penyeimbang ketegasan, minat dan antusiasme sebagai pemenuhan diri.

Bisa merasakan lelah sebagai prestasi, tersenyum atas kekeliruan yang bernilai pengalaman, tertawa sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan, memaafkan diri atas kebodohan yang disadari, bertoleransi terhadap kekurang-piawaian diri, menciptakan lecutan yang tepat sebagai pemicu untuk pencapaian diri yang lebih.

Bisa menempatkan sesuatu yang tidak diperoleh atau sesuatu yang hilang sebagai pengingat untuk menghitung berkat dan bersyukur atas segala sesuatu yang telah diperoleh dan dimiliki.

Bisa beristirahat tanpa beban, punya saat hening untuk berdoa malam dan mensyukuri semua anugerah, merenung tentang kebaikan dan keindahan, menata kerendahan hati dan kesabaran, membangun rencana untuk esok yang lebih baik.

Lebih dari semua itu, bersyukur karena saya adalah milik Dia Yang Maha Pengasih.

20180624_064927 20180531_050205

 

Serpong, 24th June 2018, 11.52

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Tentang kepasrahan dan perjuangan – About defenselessness and struggle (2 versions: Bahasa Indonesia & English)

image1 struggle     dont give up

Hampir setiap kali pulang dari pasar Sinpasa (Gading Serpong) selama beberapa bulan terakhir ini, saya melihat pasangan suami istri setengah baya ini. Mereka duduk diatas sehelai alas plastik, yang dihamparkan diatas rumput. Didepan mereka selalu ada ikatan daun pisang yang sudah dikemas cukup rapi, kadang ada 4 ikat, kadang tinggal 3, 2 atau 1 ikat, tapi tidak pernah saya lihat lebih dari 4 ikat.

Mereka, dengan ikatan daun pisang itu, cukup menarik perhatian saya setiap kali melintas disana, terus terang mata saya selalu mencari mereka. Sesekali saat mereka tidak ada ditempat itu, ada sedikit rasa kuatir, kenapa ya mereka gak jualan. Beberapa hari lalu, saat melintas disana, kebetulan dengan suami, eh pacar ding 🙂 … pacar bilang ‘mampirin yuk, kasih jajan sedikit, kasian udah tua-tua begitu’. Saya turun, si bapak segera berdiri sambil mau menyodorkan 1 ikat daun pisangnya. Saya bilang ‘saya gak mau daun pisangnya pak, ini buat jajan bapak ibu aja’. Sedikit diluar dugaan saya, mereka berdua melongo selama beberapa detik, sempat bikin saya jadi salting (ketauan deh, saya jarang kasih kejutan ke orang lain, sekalinya kasih kejutan kecil, saya yang salting). Setelah detik-detik kikuk tersebut, si ibu yang duluan mengambil sikap, dia berdiri membungkuk sambil bilang ‘terima kasih bu, terima kasih bu’, eh si bapak malah mewek… nahlooo makin saltinglah saya. Setelah semua kembali tenang, saya sempetin nanya-nanya dan ngomong sedikit:

“Tinggal dimana, pak bu?”

Jawabnya, “disono” (sambil nunjuk ke arah kiri), di kampung bu (maksudnya mungkin di perkampungan pinggiran Gading Serpong)

“Jauh ya,  jalan kaki kesininya?”

“Iya bu, jalan pelan-pelan”

“Ada anak-anak bu, pak?”

“Anak mah ada 6, tapi gak tau pada dimana, tinggalnya pada jauh-jauh.”

“Daun pisang ini dapat dari mana?”

“Dari kampung, kan di kampung banyak pohon pisang, boleh ambil aja daunnya terus dijual buat beli makanan sehari bu. Tapi ntar sore bisa bikin ketimus buat dijual besok. >> untuk jawaban ini, setelah saya obrolin dengan suami, maksudnya kira-kira begini: biasanya uang yang mereka dapat dari hasil menjual daun pisang hanya cukup untuk membeli makanan mereka untuk sehari (makan siang dan makan malam), tetapi hari itu karena mereka mendapat sedikit tambahan rejeki, mereka bisa membeli makanan seperti biasa dan bisa juga membeli bahan-bahan untuk membuat ketimus yang akan mereka jual esok hari. Semoga yaaa…rejeki yang kami bagi itu, meskipun tidak besar, akan memberi manfaat baik buat mereka.

“Oo ibu bisa bikin ketimus?”

“Emang bikin, bu, tapi tempo hari saya dan bapak sakit, modalnya kepake.”

“Oo begitu, mudah-mudahan tetep sehat ya pak bu, mudah-mudahan bisa terus bikin ketimus dan laris.”

“Terima kasih bu, terima kasih banyak bu.” jawaban penutup sambil memberi salam dengan kedua tangan mereka. Dan saya kembali ke mobil untuk berbagi rasa senang dengan suami.

Catatan saya:

Banyak orang yang hidupnya berbeban berat, namun dalam kepasrahan, mereka tetap berjuang. Dalam keterbatasan, mereka tetap berupaya. Dalam kekurangberdayaan, mereka tidak menyerah.

Hidup seringkali tidak mudah, tapi kita yang dilengkapi dengan kecerdasan dan keberdayaan untuk menjalani hidup, dan kemampuan untuk bersyukur atas semua berkat dan sukacita yang diberikan kepada kita, semestinya kita bisa membuat diri dan kehidupan kita menjadi lebih baik. Jangan membebani hidup dengan pikiran-pikiran yang keliru tentang alam, situasi dan orang lain, jangan mudah menggerutu atau mengumpat, jangan melemahkan diri sendiri dengan kepesimisian dan sikap tidak percaya diri, namun jangan juga meremehkan hidup dengan sikap angkuh dan selalu merasa benar.

IMG_20160322_081134

Almost every time on my way back home from Sinpasa market at Gading Serpong, during these last few months, I saw a middle-aged-couple, sitting on a plastic sheet stretched on the grass.  In front of them there are always some bundles of banana leaf  that have been packed pretty neatly, sometimes 4 bundles, sometimes just 2 or 1 bundle left, but as far as I remember there were never more than 4 bundles. They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there,

They, with the banana leaf bundles, simply draw my attention every time I pass there, frankly my eyes are always looking for them. Occassionaly when they were not there, there is a bit of anxiety, what’s with them so they do not show up.A few days ago, while passing there, with hubby, he said “let’s stop by, give them a little money, poor old people.”  I got off the car, going to them. The old man immediately stood up to thrust a bundle of banana leaves. I said “I don’t  need the banana leaves, here is for you, just a bit giving.” A little beyond my expectations, they both gawked for a few seconds, make me a bit nervous (it was detected, I rarely gave surprises to others, once giving a little surprise, I myself become nervous…hahha..). After such awkward moment, the wife took a stand, she stooped up and said ‘thank you ma’am, thank you ma’am.”  Unexpectedly, the husband even shed a tear … well, I was clumsy again. After the situation calmed down again, I had time to ask and talk a little:

“Where do you live, ma’am?”

“Over there” she answered “in the village” as her hand pointed toward the village outside the estate complex.

“Quite far, are you coming here by walk?”

“Ya, we walk slowly.”

“Do you have children?”

“Ya, six, but do not know where, they live far away.”

“Where do you get these banana leaves?”

“From the village, there are many banana trees and we can take the leaves freely, we sell them to buy our food for a day. But (later) this evening we can make Ketimus (a kind of traditional snack made from grated cassava and coconut and brown sugar), and we’ll bring it here for sale tomorrow.” >> This answer, after having a further discussion with hubby, we came to a clearer understanding about what she meant, were about this: usually the money they got from selling banana leaves is spent only to buy foods (their lunch and dinner), that day since  they got a ‘little surprise’, they could use such extra money to buy food and  the necessities to make ketimus that they can sell tomorrow. It is our hope that every good thing we share, even it’s not big in value, will be a good benefit for those who receive it.

“Oo you can make ketimus?”

“I used to make it, ma’am, but the other day, both of us were sick, and our money run out for medicines.”

“Oo I see…hopefully you both will stay healthy, keep making ketimus and your selling goes well.”

“Thank you so much, ma’am.” A closing answer with greeting with their both hands. And I got back to the car to share the joy with my husband.

My notes:

Many people whose lives are heavily burdened, but in defenselessness, they are still struggling. In their limitations, they keep doing their hard efforts. In powerlessness, they do not give up.

Life is often not easy, but we who are equipped with the intelligence and empowerment to live life and the ability to give thanks for all the blessings and joys that given to us, we duly should be able to make ourselves and our lives better.Do not burden life with wrong thoughts about nature, situations and others. Do not easily grumbling or cussing. Do not weaken ourselves with pessimism and unconfident attitudes. But also do not underestimate the life with a haughty attitude and always feel right.

Image3 Live a good life   Image4 Give thanks

~Sherly Hermawan~

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 2nd June 2017, 15.03

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

My happiness, my blessings

images-2  images 1.jpg

 

Having met a soulmate and got married is a happiness, having given the ability to build and maintain a family life is a blessing

Having children and grandchildren is a happiness, having given the ability to guide and lead them becoming persons with good character is a wonderful blessing

Having parents who raised us with all their love is a happiness, having chances to make them happy and comfortable on their old days is a lovingly blessing

Having a job and earning a living is a happiness, having chances to share and care to those in need is a blessing

Having a lot of friends is a happiness, having best friends who understanding and encouraging each other is a blessing

Having a lot of interests is a happiness, could make them the benefits for others to feel happy too is a blessing

Having  many wonderful memories is a happiness, having a good memory is a blessing

Being able to make the right decisions is a happiness, being someone who relied upon by the close ones is a blessing

Being busy with all domestic affairs is a happiness, being able to sleep soundly at night and wake up refreshed in the morning is a beautiful blessing 

Being happy is a blessing. Living life well is a great blessing.

I’m happy, I live my life well, I’m blessed, and I’m grateful.

IMG_2441 edited.jpg

~Sherly Hermawan~

Thursday, 15th December 2016

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 15th December 2016, 21.15

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

DAMAI & BAHAGIA ~ LET’S BE A BETTER PERSON #6

edited Sarangan

Lakukan hal-hal sederhana ini dan nikmati kehidupan yang damai

 

1 Smile* Ayo senyum

Ada banyak hasil riset yang menjelaskan tentang manfaat tersenyum dan tertawa. Salah satu riset menyatakan bahwa gerakan otot-otot wajah pada saat tersenyum, akan memicu otak untuk melepaskan zat Endorphin. Zat Endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang  https://id.wikipedia.org/wiki/Endorphin

Tersenyum dan tertawa membuat kita merasa rileks dan mengurangi stress. Semakin sering kita merangsang otak untuk melepaskan zat endorphin, akan semakin sering kita merasa senang dan rileks. Selain tersenyum dan tertawa, ada baiknya juga jika kita menjaga ekspresi wajah saat kita melakukan kegiatan rutin, misalnya saat menyetir, saat belanja di pasar, saat mengantri. Jangan memperlihatkan wajah cemberut atau bete. Senyum dan ekspresi ramah akan menciptakan suasana menyenangkan bagi diri kita sendiri dan sekeliling kita.

 

2 Don't Argue* Jangan selalu mau jika diajak berdebat atau berargumentasi.

Jika terlanjur berada dalam situasi yang cenderung memanas karena perdebatan, segeralah beranjak, tinggalkan drama yang tengah berlangsung.

 

3 organized life* Berbenah dan singkirkan barang-barang tua yang tidak pernah dipergunakan

Ruangan yang kacau balau seringkali menciptakan perasaan yang kacau. Sediakan waktu untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak pernah kita pergunakan dalam kurun waktu setahun dan cari tahu cara-cara pengaturan yang membantu kita memelihara kerapian ruang.

 

4 Don't Judge* Berhenti menilai orang

Setiap kali kita tergoda untuk memberi komentar tentang kehidupan seseorang, tanyakan dulu ke diri sendiri apa tujuan komentar kita tersebut. Jika komentar kita bernada penilaian atau sangkaan, jangan dikemukakan. Menilai orang lain akan menciptakan enerji negatif, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

 

5 Thank You.jpg* Jangan menunda dan jangan pelit mengucapkan ‘terima kasih’

Mulai dan akhiri setiap hari dengan sikap dan ucapan syukur. Temukan dan ambil kesempatan-kesempatan baik dalam kegiatan sehari-hari kita dan berinteraksilah sebagai ungkapan penghargaan terhadap orang lain. Ucapkan terima kasih, bukan hanya untuk hal-hal besar, tapi juga untuk hal-hal kecil dan yang tampaknya ‘hanya sambil lalu’. Bilang ‘terima kasih’ akan membuat kita merasa senang dan damai.

 

6 Don't Worry* Jangan terus-terusan kuatir tentang hari esok

Kita tidak bisa mengontrol masa depan, jalani hari ini dengan baik dan nikmati kehidupan yang damai. Ingat ungkapan lama “Kekuatiran itu seperti kursi goyang yang membuat kita harus melakukan sesuatu, tapi tidak membuat kita beranjak.”

 

7 Natural Food* Makan makanan yang alami

Semakin asli dan alami makanan yang kita makan, akan semakin nyaman perasaan kita menikmatinya. Pilih makanan yang merupakan hasil dari tumbuhan atau hewani, bukan makanan hasil olahan pabrik.

 

8 No Gadgets* Jauhkan teknologi dari kamar tidur

Berikan waktu yang nyaman untuk diri sendiri. Membaca atau beristirahat tanpa gangguan suara centang-centung dari handphone atau godaan untuk membuka email atau browsing.

Banyak penelitian yang mengkaitkan cahaya biru dari perangkat elektronik yang mengarah ke atau berada di sekitar tempat tidur akan mengganggu kualitas tidur dan merugikan kesehatan secara keseluruhan.

 

9 Choosing friends.jpg* Manfaatkan fitur-fitur penyaring pada media sosial

Selektif dalam berteman; kita berhak menentukan siapa yang cocok sebagai teman kita. Tidak perlu setiap permintaan pertemanan kita setujui. Jika tidak ada latar belakang pertemanan nyata (teman sekolah, teman kerja di kantor, atau ada teman yang sama-sama dikenal/mutual friend) dan atau tidak ada kesamaan minat, kita sangat boleh menolak permintaan pertemanan. Selektif dalam berteman bisa menghindari kita dari ketidaksesuaian gaya bahasa dan pemilihan kata saat berinteraksi (sapaan, komen, gurauan). Kita juga tidak perlu kuatir akan melihat posting yang tidak kita sukai. Pertemanan maya dengan orang-orang yang santun, yang menggunakan kata-kata yang baik saat serius maupun sebagai gurauan, akan membuat kita nyaman.

 

10 Silence* Rasakan nyamannya keheningan

Ketika kita membayangkan seseorang yang berada dalam keadaan tenang dan damai, biasanya orang tersebut tidak sedang berbicara. Lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak menyimak daripada berkomentar, kurangi sikap ekspresif dan spontanitas. Nikmati suasana hening sebagai saat untuk memperbaiki pengendalian diri dan emosi, serta kemampuan memilih kata dan mengatur bicara. Hening itu damai, damai itu nyaman.

 

11 Speak Slowly* Berbicara dalam irama yang teratur

Seringkali perasaan kurang nyaman atau tidak damai terwujud dalam sikap bicara yang terburu-buru atau terpotong-potong. Tersenyum, tarik napas, tenangkan diri, lalu biarkan pemikiran yang bijak dan pertimbangan yang logis mengendalikan kata-kata yang kita ucapkan.

 

12 Don’t procrastinate* Jangan menunda-nunda

Mengerjakan sesuatu di menit-menit terakhir pasti bikin stress. Membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pasti bikin perasaan tenang dan nyaman. Menunda satu pekerjaan seringkali mengakibatkan pekerjaan lainnya ikut tertunda, dan menimbulkan perasaan tidak tenang.

Cara terbaik untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas adalah dengan mulai mengerjakannya sekarang.

 

13 Forgive* Memaafkan

Menyimpan amarah atau rasa dendam terhadap orang lain sesungguhnya melukai diri kita sendiri. Memaafkan bukan hal mudah, tapi bisa dilakukan oleh setiap orang. Dengan memaafkan, kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Memaafkan dengan membuang rasa marah dan dendam akan membuat hidup kita ringan dan damai.

 

14 Expectation* Ekspektasi yang realistis

Jaga agar ekspektasi kita tidak berlebihan, terutama ekspektasi yang mengandalkan atau melibatkan orang lain. Ekspektasi yang tidak logis  seringkali menjadi penyebab kekecewaan besar. Latih diri sendiri untuk mampu mengukur kemampuan dan menyesuaikan keinginan dengan kemampuan kita. Dengan ekspektasi yang wajar dan realistis, kita akan berupaya meraih harapan dan keinginan tanpa perasaan tertekan dan berat, sehingga kehidupan terasa nyaman.

 

15 Be Active* Aktif dalam kegiatan yang positif

Menjadi anggota yang aktif dalam grup WA, ikut dalam acara kumpul-kumpul dan jalan-jalan, tidak perlu selalu, dan jangan sampai mengorbankan kepentingan lain. Aktif dalam grup dan sesekali bertemu dengan teman-teman akan memberi tambahan enerji dalam menjalani tugas-tugas rutin. Dengan enerji yang cukup, hidup akan terasa lebih ringan.

 

16 Positive Energy* Fokuskan enerji dan perhatian pada hal-hal yang ingin kita raih

Pemikiran-pemikiran, kata-kata dan setiap tindakan kita akan menciptakan enerji, bisa positif bisa negatif. Sikap-sikap curiga, banyak komplain, serakah, kuatir dikalahkan, akan menciptakan enerji negatif yang memberatkan langkah kita dalam berupaya.

Enerji positif akan menarik lebih banyak lagi enerji positif dari alam.

Ayo bangun pola pikir dan sikap yang positif, agar banyak enerji positif yang kembali pada kita dan membantu meraih tujuan hidup yang kita inginkan.

 

17 Do not control everything* Jangan ingin mengendalikan segala hal

Keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu bukan hanya menghancurkan perasaan damai dalam diri kita sendiri, tapi juga bisa merusak pertemanan dan hubungan dengan orang-orang sekitar kita. Jika kita selalu ingin mengendalikan segala hal, dan merasa cemas atas hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, tanpa sadar kita membawa diri kita kedalam situasi yang berat yang bisa mengakibatkan frustasi.

Seringkali kita perlu rileks saja dan yakinkan diri sendiri bahwa sesuatu akan berjalan dengan baik. Biarkan alam yang mengendalikan situasi. Kita bisa menikmati kehidupan yang damai.

 

18 Manage Money* Kelola keuangan dengan bijak

Urusan keuangan menempati posisi tertinggi dalam daftar penyebab stress. Sediakan waktu untuk membuat anggaran, hitung berapa uang yang kita keluarkan dan cek silang dengan uang yang kita terima.

Kesadaran atas uang masuk dan uang keluar, dan kepedulian untuk bersikap bijak dalam mengatur keuangan, akan menciptakan kehidupan yang teratur dan pikiran yang tenang.

 

19 Get up before sunrise* Bangun sebelum matahari terbit

Menyaksikan fajar dan munculnya matahari di ufuk timur menimbulkan rasa kagum yang unik dan apresiasi atas kehidupan. Bagi saya pribadi, bangun saat dinihari membuat saya lebih bersemangat melakukan kegiatan dan menyelesaikan tugas-tugas. Waktu pagi terasa lebih panjang, dan saat menjalani kegiatan sepanjang hari terasa lebih tenang dan teratur.

 

20 Be Yourself* Jadilah diri sendiri

Berpura-pura atau berkeinginan menjadi orang lain akan menimbulkan pertikaian batin.

Menjadi diri sendiri akan melahirkan perasaan damai dan bahagia.

e60d2d2df0eabb0603135ff56e69b31a

~Sherly Hermawan~

Sunday, 29th May 2016, 17.55

 

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

 

 

Bilang ‘terima kasih’ itu menyenangkan hati kita sendiri lo… Let’s be a better person #4

2394db581d08cd54d162a35f9b5d5b0e

Mengucapkan ‘terima kasih’ sangat erat kaitannya, atau bahkan merupakan satu paket, dengan sikap dan rasa bersyukur. Sebagian orang bisa dengan ringan mengucapkan terima kasih, tapi untuk sebagian lainnya, ‘terima kasih’ bukanlah sesuatu yang dengan mudah meluncur dari mulutnya atau terlihat dari sikapnya.

Ada beragam alasan yang bisa jadi penyebab seseorang enggan mengucapkan terima kasih. Berikut ini beberapa alasan yang saya coba rangkum berdasarkan pemikiran saya, pengalaman saya bertemu dengan orang-orang yang enggan mengucapkan terima kasih  dan juga hasil dari membaca artikel-artikel terkait:

* Malu

Bagi yang tidak biasa, atau mungkin tidak dibiasakan dalam keluarga/orangtua, mengucapkan terima kasih kadang terasa berlebihan atau tidak seharusnya, jadi ada perasaan kikuk dan malu jika harus mengucapkan terima kasih pada seseorang.

* Kuatir dianggap berhutang budi

Dengan mengucapkan terima kasih berarti mengakui kebaikan seseorang, ini menimbulkan beban perasaan bahwa suatu saat harus membalas kebaikan orang tersebut.

* Kuatir dianggap lemah dan tidak pantas

Ada orang-orang yang merasa ‘rendah’, dan kuatir dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani, jika dia mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diterimanya dari orang lain. Sikap seperti ini menimbulkan kesan ‘sombong tidak pada tempatnya’, dan biasanya orang yang punya perasaan seperti ini adalah orang yang memang seringkali butuh bantuan orang lain.

Disisi lainnya, saya juga pernah bertemu seseorang yang membicarakan temannya lebih kurang begini “saya gak suka orang yang sering mengucapkan terima kasih, karena pasti ada maunya”. Dia beranggapan ucapan terima kasih yang dia terima bukan sesuatu yang baik dan tulus. Dia membangun pikiran negatif bahwa orang yang mengucapkan terima kasih adalah orang yang akan merepotkan atau membebani dia. Pikiran yang agak aneh ya.

* Kurangnya kemampuan berinteraksi dalam hal memberi pujian

Ada sebagian orang yang merasa canggung untuk melontarkan pujian, nah kelirunya, mengucapkan terima kasih juga dianggapnya sama dengan memuji. Orang yang kurang pandai memberi pujian (secara tulus ya, bukan menjilat), biasanya juga merasa canggung jika ada orang lain yang memberi pujian padanya.

* Kurang mampu bersyukur

Cukup banyak orang yang kurang pandai melihat indahnya berkat, terlalu sibuk dengan segala urusan, terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya, sehingga kurang peka saat ada kemudahan, saat ada masalah yang terselesaikan, saat ada momen kebetulan yang meringankan bebannya. Jika tidak peka menghitung berkat, tidak melihat kesempatan untuk bersyukur, maka ‘terima kasih’ bisa dipastikan tidak akan terucap.

7e2e94623ef9e11f4a1a059c13737410

Bagaimanapun, ‘terima kasih’ haruslah disampaikan secara alamiah, tidak dibuat-buat, harus dengan sikap tulus dan positif. Dengan menyampaikan terima kasih yang tulus, efek positifnya akan memberikan rasa nyaman bagi diri kita, melegakan perasaan dan meringankan hati.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini  🙂

“At the end of the day, say thank you and get a good night’s rest” ~www.LiveLifeHappy.com~

369e23a59afb0608564259c3a0211c81

~Sherly Hermawan~

Friday, 6th November 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 6th November 2015, 20.43

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Jadi teman yang asyik yuk ~ Let’s be a better person #3

34568a392165e99f1eafb6e28943e702

Berteman adalah sesuatu yang menyenangkan. Persahabatan adalah salah satu anugerah kehidupan. Mereka yang bisa memiliki seorang sahabat sejati dan atau menjadi seorang sahabat sejati adalah orang-orang yang beruntung. Kehadiran teman akan memberi warna dan pengalaman dalam kehidupan. Warna dan pengalaman yang indah bisa membawa kita pada kebahagiaan dan keberhasilan, sementara warna dan pengalaman yang suram akan membawa kita pada ketidakbahagiaan. Nah, pandai-pandailah memilih teman, dan pandai-pandailah juga bersikap sebagai teman.

Berteman itu seperti berbagi kehidupan. Ada sebagian aspek kehidupan yang kita rasakan nyaman jika bisa kita ceritakan kepada sahabat atau lakukan bersama teman, mungkin sama nyamannya dengan bercerita dalam tulisan bagi yang suka menulis. Dengan adanya beragam media sosial yang menyediakan fasilitas untuk kemudahan berkomunikasi, hubungan pertemanan menjadi lebih praktis dan nyaman. Namun tetap, menurut saya, menemukan teman yang betul-betul cocok dan ‘sehati’ tidaklah mudah dan bukan suatu kebetulan. Demikian pula menjadi seorang teman yang bisa diandalkan sebagai tempat berbagi, juga tidak terjadi secara kebetulan. Perlu waktu dan situasi yang mendukung sehingga dua atau lebih orang bisa menjadi teman karib yang saling cocok. Perlu juga sikap yang baik dan ketulusan dari semua pihak yang menjalin pertemanan.

Ketulusan (sincerity) tentu saja bukan sesuatu yang bisa diatur atau dibuat-buat. Ketulusan adalah sesuatu yang bisa hadir secara spontan, namun bisa juga muncul seiring dengan kecocokan demi kecocokan yang dirasakan.  Sedangkan sikap (attitude) adalah sesuatu yang bisa diperbaiki, diubah, dikembangkan menjadi lebih baik. Yuk kita lihat apa saja sikap yang kurang menyenangkan atau bahkan mengganggu pertemanan, tapi pasti bisa diperbaiki, kalau kita mau membuka diri untuk berubah.

* Terlalu banyak komentar (rame ajah)

Semua dikomentarin, mulai dari komentar yang pasti betul sampai yang hanya kira-kira, atau bahkan yang jauh melenceng dari topik pembicaraan.

Coba deh mulai sekarang batasi keinginan untuk harus selalu berkomentar. Berkomentarlah segera kalau punya jawaban yang pasti atau masukan yang jelas. Jika tetap ingin berkomentar, tetapi tidak punya jawaban yang pasti (mungkin diperlukan karena setelah beberapa menit belum ada teman lain  yang memberi tanggapan), berkomentarlah dengan jujur, misalnya ‘wah aku malah baru tahu’ atau ‘aku malah dapat pengetahuan nih’. Jangan mengharuskan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dan menanggapi setiap topik, apalagi sampai berkomentar yang melenceng. Jangan merasa jadi orang yang kurang pengetahuan atau kurang gaul, hanya karena tidak punya komentar yang sesuai atas satu-dua topik. Mana ada sih orang yang tahu segala hal, bisa menjawab semua pertanyaan, memahami semua kejadian.

* Terlalu banyak dan terlalu mudah bertanya (kepo banget)

Nanya melulu, mulai dari pertanyaan yang gak penting-penting amat, sampai pertanyaan yang jawabannya sudah dibahas sebelumnya.

Coba deh sebelum melempar pertanyaan, pikirkan dulu, apakah saya betul-betul perlu tahu jawabannya, apakah pertanyaan saya ini punya nilai sehingga teman-teman merasa perlu memberi jawaban. Coba juga mulai sekarang, sebelum bertanya, pakai logika dan nalar sendiri dulu. Ada  banyak pertanyaan kita yang bisa kita temukan sendiri jawabannya atau sadari perlu tidaknya bertanya, setelah kita memanfaatkan logika dan nalar kita. Kalau kemudian mentok, betul-betul gak punya ide untuk mencari tahu sendiri, barulah bertanya. Percaya deh, pertanyaan yang kita kemukakan setelah kita pikirkan dulu logis tidaknya dan perlu tidaknya ditanyakan, adalah pertanyaan yang bermutu.

* Selalu penuh kekuatiran (gampang galau)

Kuatir ini kuatir itu, mulai dari urusan kecil sampai urusan yang gak berat-berat amat.

Coba deh jangan melihat semua hal dari sisi yang sulit, lihatlah dari sisi solusi yang bisa ditemukan dan dipakai untuk menghalau kekuatiran. Coba bersikap rileks dan tenang disaat membaca, mendengar, mengetahui sesuatu yang diluar prediksi atau yang tidak diantisipasi sebelumnya. Dengan pikiran tenang dan sikap rileks, kita bisa lebih mudah menemukan solusi, kendala akan lebih mudah diatasi atau dicari jalan keluarnya.

* Sikap kurang peduli (cuek)

Ada teman yang rajin sekali membagi info di grup WA dimana saya dan dia bergabung, hasil copy dari grup sana lalu paste di grup sini. Yang bikin kurang nyaman adalah, setelah mem-paste, sepertinya dia merasa tugasnya selesai, hpnya tidak dilihat lagi, sehingga jika ada pertanyaan atau tanggapan atas info yang dibaginya itu, dia tidak menjawab atau menanggapi. Jadi tidak jarang, info bagus yang dia bagikan itu akhirnya tidak memberi nilai positif karena hilang begitu saja, tergeser oleh percakapan-percakapan berikutnya.

Teman ini sepertinya termasuk tipe yang menggunakan hp pada saat dia ada keperluan saja, salah satunya adalah saat dia ingin membagi info. Setelah keperluannya selesai, hp dicuekin, gak dilihat-lihat sampai ada keperluan berikutnya. Membagi info bagus tapi kemudian tidak ada penjelasan lebih lanjut apabila ada pertanyaan, bukankah jadi menyebabkan kekurangnyamanan bagi teman-teman lain?

Coba ya, kalau dia mau lebih memahami bahwa komunikasi itu akan berkualitas jika terjalin antara 2 orang atau lebih dan berlangsung 2 arah, maka info yang dia bagikan pasti akan bermanfaat dan memiliki nilai positif.

* Mudah dan sering merevisi keputusan (plin-plan)

Memang terkadang tidak bisa dihindari keharusan merevisi keputusan karena kondisi dan situasi pribadi, tapi kalau hal ini terjadi hampir di setiap keputusan yang sudah dibuat, kan jadi merepotkan, apalagi kalau keputusan itu menyangkut acara yang melibatkan banyak orang dan ada unsur penghitungan biaya dan pengaturan jadwal, bisa mengakibatkan revisi pada setting grup secara keseluruhan kan.

Sebaiknya, kedewasaan berpikir dan pertimbangan yang baik harus kita aplikasikan di setiap saat kita akan menyampaikan keputusan atau konfirmasi. Terlalu cepat memberikan konfirmasi (supaya terkesan sebagai pengambil keputusan yang cepat), seringkali malah jadi menimbulkan kesan kurang dewasa dan juga kurang menghargai teman yang mengurus dan mengatur. Jika memang diperbolehkan memberikan keputusan sementara (tentative), tanyakan batas waktu konfirmasi final yang harus disampaikan. Jika kondisi dan situasi pribadi mengharuskan kita merevisi keputusan atau membatalkan konfirmasi yang sudah kita sampaikan sebelumnya, berikan alasan sebenarnya, jangan mengarang, dan jangan ragu untuk minta maaf karena kemungkinan menjadi penyebab perubahan pada setting grup secara keseluruhan.

* Membuat kelompok (nge-gank)

Jangan deeehhh…ini mah gayanya abg, sangat gak cocok untuk yang sudah melewati usia abg.

Kalau sudah membuat kelompok di dalam kelompok, akan sulit bersikap fair secara merata, seringkali sengaja atau tidak sengaja, keberpihakan pada kelompok kecil akan terlihat jelas.

Akan timbul kecanggungan dan kehati-hatian yang tidak seharusnya yang bisa dirasakan oleh sebagian teman diluar kelompok kecil tersebut, yang memiliki kepekaan lebih.

Saat kita berada dalam suatu kelompok pertemanan, bertemanlah dengan sikap tulus dan wajar dengan semua teman dalam kelompok tersebut. Jika ada beberapa orang yang lebih ‘sehati’, jadikan sahabat, dalam arti teman yang bisa saling berbagi untuk hal-hal yang lebih dalam, tanpa harus bersikap memisahkan diri dari teman-teman lain. Perlu dicatat, tidak semua teman mau dan bersedia untuk saling berbagi hal-hal yang sifatnya pribadi dan lebih dalam. Itu sebabnya, sahabat adalah karakter istimewa.

Mungkin masih ada hal-hal lain yang juga sedikit banyak bisa membuat jalinan pertemanan kurang nyaman. Poin-poin diatas saya tulis berdasarkan apa yang saya temukan dan rasakan. Bukan sebagai penilaian (judgment) atas sikap teman-teman saya, saya tidak punya hak untuk menilai siapapun, tapi ambillah ini sebagai masukan untuk kita bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, dari hari ke hari. Menjadi lebih baik itu harus dimulai dari dan diniatin oleh diri sendiri, tapi masukan dan kisah-kisah pengalaman dari teman bisa menjadi inspirasi dan motivasi buat kita semua.

“A friend is like a mirror and shadow; mirror doesn’t lie and shadow never leaves” ~ unknown ~

.f8136457bd03b346eb1236ab81ea3811

~Sherly Hermawan~

Sunday, 1st November 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 1st November 2015, 00.18

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

A journey

IMG_20151010_100905_-370005576

Thursday, 7th March 1985 was the most historical day for my family. It was the day we –my husband, Hendra, and I- meet for the first time, in my office, in Pinangsia area, and ‘Nothing’s Gonna Change My Love for You’ was the hit song during those days, played by every music store around there, and we then undoubtedly declared it as our anthem… J

 I was a last-semester-student at Tarakanita Secretarial College who worked half day in a private company and he was an employee at a leading group of companies. The meeting was verily for business, and actually we got a problem that time. Later on, I had learned and gratefully understood that the problem was a fragment of our life scenario designed by The Lord. Since the problem had just being solved in the evening, I could not attend the class that day. As I made up my mind not to go to campus, he offered to drive me home. By chance we have the same route to go home, you said so. And the love story began here ❤

img1444325445941

Our journey was not always easy from time to time, particularly during the first months. My parent needed time before sincerely accepting him as their daughter’s husband-to-be. The other challenges were coming from our personal situations. However, as we believe that God would never give us anything we can’t handle, our faith says that all will be well in the end.

Sunday, 9th October 1988 was our wedding day. We were so happy in homeliness. My soul was singing, my heart was rejoicing, my mind was ebullient. Our love story continued stepping forward to the true family life.

Sunday, 3rd December 1989 we welcomed our darling first baby girl, Natasya. Blessings flow into our lives, we feel its beauty in the deepness of our souls.

Sunday, 5th January 1992 our sweety second baby girl, Jovensya, was cheerfully coming into our lives. A wonderful love is here, in our family life.

Meanwhile, our works were running well. Each of us were in good working atmosphere.                   Our big grateful for all the beauties we have been given. God is so kind. He completes our joy, one by one, not at once altogether, so that we can feel the beauty of every single blessing to the fullest.

Life goes on, children are growing up, parent is getting older. It was not always easy, there were gravels, and in some conditions there were quite large stones that we found during our journey. But again and again, our faith says that all will be well in the end, and they indeed are.

img1444498501003

By end of year 2000, I made a precious decision, I resigned from my job. Had no problem at all, I was happy with my job. My two reasons were, first, I want to be a mom-at-home, and second, I had a dream to realize. My soul is free, my mind is easy, my heart is happy.

Talking about home management, I think my husband would gladly agree that it’s been his wife’s business, but everyone who knows us well certainly noticed that he is always ready to help and support in anything pertaining to the family.

Our children have finished their college in 2012 and 2014 and straightly got their job afterward. God is good, all the way.

Last month, 13th September 2015, our darling baby, Natasya, married her college friend, Ongky. Currently, they live in Nottingham, Great Britain. Starting off their own family life, youthfully and cheerfully. We’ve been just counting our blessings, more and more every moment.

The day before yesterday, 9th October 2015 marked our 27th anniversary. No celebration party, no whoop-de-do. I am not a party enjoyer, neither is my husband. Being allowed to be grateful for the blessings is more enjoyable for us.  

Experiencing all that wonderful blessings, what else shall I do other than being grateful?  Eventhough my thanks never be enough, gratitudes make me feel how precious I am in the eyes of the Lord, so He delivers His blessings into my life.

Along 27 years of our journey, joys and lessons come and go, excitements and disappointments frequently become a determinant point to our next purpose. Being a couple, there have been many times we are not in the same view corridor. Being a parent, there have been moments in which we are not fair enough in giving opinions to our children.                       

After all, I thank God for having set up our first meeting on 7th March 1985, for having given me a husband who didn’t mind when I said I wanna resign from my job while I was in good position;  a yoke-mate who is always here to support my ideas, though sometimes I know it was him the only one who doesn’t mind with my pixilated idea; a partner-in-crime when we have to fight against the harmful behaviour; a loving soulmate when we are taking care of our children, a friendly spouse when I am having a gathering with my friends.

27 years of love journey, grateful is the source of our happiness.

 IMG_20151010_055318_-370005576

~Throughout life you will meet one person who is unlike any other. You could talk to this person for hours and never get bored. You could tell him anything and he would never judge you. This person is your soulmate, your best friend. Don’t ever let him go.~ from lessonslearnedinlife.com

Serpong, 11th October 2015, 00.45

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Kenapa harus berpura-pura sih? ~ Let’s be a better person #2

Lets stop pretending

Hampir setiap orang pernah berpura-pura karena beragam alasan. Hampir setiap orang punya karakter publik yang seringkali ditampilkan untuk menyembunyikan atau menutupi pikiran atau perasaan sebenarnya.

Kadar pura-pura juga beragam, mulai dari yang kecil-kecilan –yang sebenarnya gak perlu-perlu amat-, sampai yang bukan kecil-kecilan –yang mungkin bisa membuat situasi dan kondisi menjadi runyam-

Pura-pura yang kecil-kecilan, misalnya begini:

* Saya pernah beberapa kali memperhatikan ada anak yang menolak saat ditawari kue oleh mama temannya, tapi kemudian secara sembunyi-sembunyi melihat dengan penuh minat ke piring yang berisi kue tersebut.

* Pernah juga sekali waktu saya menawarkan tumpangan ke seorang tante (A), karena rumahnya kebetulan bisa searah dengan jalan pulang saya meskipun beda cluster dan saya harus sedikit berbalik  menuju cluster rumah saya. Saat saya tawarkan, Tante tersebut menolak dengan alasan akan dijemput anaknya. Saat berjalan menuju kendaraan, saya dengar omongan dua orang tante lain (B dan C) yang bersedia ikut dengan saya,  ‘kog dijemput anaknya ya, kan tadi bilang anaknya lagi di Surabaya, makanya tadi perginya bareng kita’. Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan obrolan itu, sampai saat keluar dari area parkir, kami melihat tante A tadi mau menyeberang jalan sendirian, cuaca cukup panas di tengah hari itu. Saya menepi dan membuka jendela, menanyakan apakah beliau ingin ikut. Tante A setuju dan masuk ke mobil.  Seolah ada kesepakatan batin, tidak ada satupun dari kami yang bertanya tentang “anaknya yang akan menjemput” dan Tante A juga seolah lupa atau menganggap kami semua lupa dengan ucapannya 10 menit lalu itu.

Pura-pura yang bukan kecil-kecilan, ini yang pernah saya alami:

* Ada seorang yang saya kenal cukup dekat, seorang yang selalu ingin terlihat ideal dan positif, selalu tampil ‘baik-baik saja’, penuh perhatian, peduli, dan bertoleransi. Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, sikap ideal dan positif itu tidak tampil. Yang jelas terlihat adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya diri, dan kekurangmampuan menangani situasi. Saat berbeda pendapat dengan pasangannya, dia tidak bisa mengemukakan pendapatnya yang mungkin, sebenarnya, lebih tepat.

Satu hal yang bisa mengakibatkan kerugian adalah saat dia atau pasangannya sakit. Karena terdorong mempertahankan kesan ‘baik-baik saja’, dia merasa malu untuk mengaku sakit.

Hal lain yang mungkin juga merugikan adalah ketika dia merasa tidak perlu untuk curhat kepada orang lain atau meminta saran dari orang lain atas masalah yang dihadapinya, demi menjaga kesan ‘positif’nya.

* Beberapa tahun lalu saya pernah bergabung di salah satu perusahaan agensi asuransi yang cukup besar -sejujurnya saya hanya memenuhi ajakan seorang teman yang baik dan tulus sambil mencoba kemampuan saya untuk menawarkan produk, saya tidak punya minat cukup besar untuk menjadi agen asuransi yang sukses-.

Sebagai ‘anak baru’ saya merasa begitu banyak senior (yang bukan upline saya) yang penuh perhatian, bersedia membimbing dan membagi ilmunya. Saat makan siang, saya diajak bergabung dalam rombongan besar para senior. Makan malampun bersama teman-teman, sehingga cukup sering saya tidak makan malam bersama keluarga.

Perbedaan sikap mulai terasa saat saya mulai rutin membunyikan lonceng tanda berhasil menjual polis. Semakin sibuk saya menyerahkan data nasabah yang membeli polis, saya merasa semakin ‘sepi’ berada di kantor, padahal ruangan penuh dengan teman-teman dan para senior. Sangat terasa perubahan situasinya, para senior yang dulu dengan ramah membantu saya memahami produk sekarang datar-datar saja,  teman-teman seangkatan juga saya rasakan tidak seramah sebelumnya. Sempat saya pikir, ini mungkin perasaan saya saja karena saya pada dasarnya memang kurang menikmati pekerjaan ini, hingga di suatu kesempatan curhat dengan upline saya, beliau mengiyakan bahwa situasi seperti itu memang lazim terjadi.

Dibalik setiap kepura-puraan sesungguhnya ada rasa takut yang berakar, yang mungkin tidak disadari keberadaannya. Rasa takut menampilkan situasi apa adanya, takut menunjukkan perasaan yang sebenarnya, takut memperlihatkan keotentikan diri.

* Anak yang menolak kue, bisa jadi karena takut disalahkan oleh orangtuanya yang seringkali berpesan untuk tidak boleh menerima makanan dari orang lain, atau harus bersikap manis dan tidak ‘rakus’ jika bertemu orang lain.

Kasian sebenarnya, tapi melihat wajah kecil yang sembunyi-sembunyi melihat kue yang kelihatannya enak itu, saya jadi tersenyum karena lucu 🙂

* Tante A yang menolak ajakan diantar pulang, mungkin takut orang berpikir bahwa anaknya kurang memperhatikan dia, dengan kata lain, dia berusaha melindungi dan menjaga citra baik anaknya dengan cara yang kurang tepat. Kemungkinan lain, dia takut terlihat kurang keren kalau harus nebeng, tapi gak takut berpanas-panas jalan kaki 🙂

* Kenalan yang selalu tampil ‘baik-baik saja’, takut orang lain melihat adanya ketidak-harmonisan antara dia dengan pasangannya, dan antara mereka sebagai orangtua dengan anak-anaknya, meskipun sebenarnya dia merasa tertekan karena harus selalu menampilkan kondisi ‘baik-baik saja’. Didalam keluarganya, ada rasa takut terhadap pasangannya yang tanpa disadari telah bersikap dominan dan menanamkan pemahaman bahwa dia harus selalu ‘mendukung’ ide atau keputusan apapun yang dibuat oleh pasangannya. Tidak ada sikap dominan secara fisik disini, tapi sikap dominan secara psikis yang menimbulkan rasa takut.

Membicarakan urusan domestik kepada orang lain, adalah hal yang menurut dia ‘tidak pantas’. Dia lebih memilih menangis dan membiarkan waktu yang menyelesaikan masalahnya.

Buat saya, sahabat adalah fasilitas terbaik untuk curhat dan berbagi cerita, sahabat mau mendengarkan dengan telinga dan hati, sahabat juga yang seringkali punya solusi cerah yang tidak terpikirkan oleh saya saat lagi bete. Mana ada sih orang yang gak pernah ngalamin saat bete.

* Perubahan perilaku di kantor, ini sih jelas, takut tersaingi. Waktu masih ‘anak baru’ kan belum terampil, jadi bolehlah dibaik-baiki. Begitu mulai terampil, wah mulai bahaya nih.

Padahal, bisa aja kan si ‘anak baru’ ini adalah orang yang tahu membalas budi, yang karena merasakan kenyamanan lingkungan kerjanya, malah tumbuh minatnya dan ingin meraih sukses di posisi yang lebih tinggi dengan mengajak teman-temannya menjadi downliner. Bukankah semakin banyak downliner, pundi-pundi komisi para upliner akan semakin padat?

Kepura-puraan terjadi bisa karena seseorang merasa ‘tidak cukup’ sebagai dirinya sendiri. Bisa juga karena merasa ingin tampil ‘lebih bagus’ dimata orang lain, atau ingin mendapatkan ‘apresiasi lebih’ melalui sikap atau cerita yang disampaikannya.

Banyak orang yang bersikap pura-pura karena ingin menjadi pribadi lain yang dianggap lebih baik, lebih hebat. Orang yang berpura-pura adalah orang yang tidak belajar menerima dan menghargai dirinya sendiri.

Yang disayangkan, sikap berpura-pura ini bisa menjadi kebiasaan, jika tidak ada upaya untuk menghentikannya.

Menghentikan kebiasaan berpura-pura bukanlah hal mudah, malah mungkin membutuhkan upaya yang cukup keras dan niat yang kuat, namun pasti bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Dari banyak sumber dan tulisan yang saya baca, saya mendapatkan beberapa poin berikut ini yang bisa dijadikan petunjuk praktis untuk menghentikan kebiasaan berpura-pura dan mulai menunjukkan keotentikan diri.

  1. Beranikan diri untuk mengatakan ‘Tidak’

Mengatakan ‘Ya’ bukan sikap keliru, tetapi mengatakan ‘Ya’ disaat hati kita ingin mengatakan ‘Tidak’ sudah tentu bukan sesuatu yang baik.

Jangan takut mengemukakan pikiran dan perasaan kita yang sesungguhnya, meskipun mungkin bertentangan dengan sikap yang ditunjukkan orang lain. Jangan menyamakan pandangan hanya karena ingin menyenangkan orang lain atau karena takut jadi ribut. Sampaikan pandangan kita yang berbeda dengan sikap dan kata-kata yang baik. Jika tidak bisa diterima oleh pihak lain, tidak perlu emosi, yang penting kita sudah berani menyatakan pandangan kita dengan cara baik.

  1. Jangan meniru-niru

Setiap pribadi unik dan berbeda, akan lebih nyaman kalau kita jalani hidup dengan sikap dan cara kita sendiri, bukan dengan menjadi pribadi lain. Capek kalau harus menjadi pribadi lain. Ciptakan jalur kita sendiri dan lalui jalur itu dengan sikap positif dan kecerdasan.

  1. Katakan yang sebenarnya

Pertama, jujur pada diri sendiri, ini sebagai dasar untuk bersikap dan berbicara apa adanya kepada orang lain. Berbohong berarti membiarkan diri kita masuk dalam jalur kekuatiran yang tidak berujung -kuatir ketahuan berbohong-, karena setiap kebohongan akan perlu ditutupi oleh kebohongan berikutnya. Bersikap dan berbicara jujur adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

  1. Tumbuhkan rasa percaya diri

Keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik akan menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat kita merasa lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. Dengan rasa percaya diri, kita bisa terbebas dari kebutuhan akan persetujuan/pengakuan dari orang lain.

  1. Kerjakan hal-hal yang kita suka

Tekuni pekerjaan atau kegiatan apapun yang membuat kita senang saat mengerjakannya, jangan pedulikan orang lain senang atau tidak. Tidak perlu selalu mempertimbangkan harapan orang terhadap kita. Mencintai dan menekuni pekerjaan akan membuat kita selaras dengan suara hati.

c84a8a42e90f3ac15b1f97c0a283d332

“Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it” ~Bruce Lee~

~Sherly Hermawan~

Wednesday, 24th June 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 24th June 2015, 21.06

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan

Kekuatan vs kelemahan, keahlian/keterampilan vs keterbatasan ~ Let’s be a better person #1

ecb1595edefc326a3ab1dc2d33aafc73

Dalam proses melamar pekerjaan, seringkali kita dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, kemampuan dan keterbatasan.

Kekuatan adalah atribut pribadi atau sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir, kebalikannya adalah kelemahan yaitu sesuatu yang memang tidak atau kurang dimiliki sejak lahir.  Contoh sederhananya, banyak diantara kita yang memiliki karakter mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri di kelompok manapun, atau karakter yang selalu tampil solid dan tenang, selalu percaya diri, tidak terlihat gelisah atau kuatir meskipun mungkin tengah mengalami kesulitan. Tipe sebaliknya adalah, pribadi yang tidak mudah bergaul, atau perlu waktu adaptasi yang cukup panjang untuk bisa membaur dalam suatu kelompok pertemanan, atau seseorang yang mudah berkeluh kesah, tampak gelisah dan kuatir, atau bahkan seperti seseorang yang perlu dikasihani meskipun mungkin kesulitan atau kendala yang tengah dihadapinya bukan masalah besar.

Kekuatan dan kelemahan ini adalah sifat-sifat alamiah. Pribadi yang kuat umumnya bisa diandalkan, memiliki pertimbangan yang cerdas, mampu membuat keputusan, tegas dalam bersikap, dan selalu tampil percaya diri. Pribadi yang lemah umumnya ragu-ragu, lebih senang bertindak sebagai pelaksana dengan mengikuti aturan/instruksi yang diberikan oleh orang lain, kurang cerdas, dan seringkali tampil kikuk. Saya pribadi merasa sangat gak nyaman kalau bertemu dengan orang yang kikuk.

Keahlian/keterampilan adalah kemampuan yang bisa diperoleh dari pendidikan di sekolah, pelatihan-pelatihan, dan juga dari kemampuan menggali bakat pribadi atau belajar secara otodidak. Seseorang yang memiliki keahlian/keterampilan pada umumnya sangat berminat mengikuti perkembangan teknologi dan akan menempatkan kemajuan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilannya. ‘Keterbatasan’ dalam tulisan saya ini adalah ketidakmampuan pribadi yang bisa terjadi karena pendidikan yang kurang, tidak ada biaya dan atau kesempatan untuk sekolah atau mengikuti pelatihan-pelatihan, kurang memiliki keinginan untuk mengembangkan diri, tidak mempunyai kesempatan atau tidak percaya diri untuk bergaul dengan pribadi atau kelompok yang cerdas. Seringkali pribadi dengan keterbatasan tipe ini juga tidak menempatkan kemajuan teknologi sebagai suatu fasilitas untuk mencerdaskan diri, lebih suka menggunakan metode-metode mudah dan tradisional yang tidak didukung oleh teknologi, jadi gak perlu repot-repot mempelajari teknisnya.

Keahlian/keterampilan dan keterbatasan ini bukan sifat-sifat alamiah. Pribadi yang memiliki keahlian/keterampilan umumnya akan mudah dan lebih cepat meraih keberhasilan dibidang yang ditekuninya, memiliki pola pikir yang luas, selalu berminat untuk menambah pengetahuannya, memiliki antusiasme yang tinggi terhadap teknologi, terutama teknologi yang memudahkan pekerjaannya. Sedangkan pribadi yang terpaku pada keterbatasannya pada umumnya sulit berkembang dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk tiba pada keberhasilannya, memiliki pola pikir yang sederhana dan bisa jadi, ketinggalan jaman, dan kurang berminat dalam memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan pekerjaannya. Tidak jarang kan kita temui orang-orang dengan keterbatasan tipe ini tidak bisa mengoperasikan komputer –dan dengan ceria menyebut dirinya gaptek- bahkan tidak punya alamat email, yang bagi kita alamat email adalah sama pentingnya dengan alamat rumah.

Nah, kesamaan dari keempat sifat ini adalah sejatinya semua bisa dikembangkan, bisa ditingkatkan. Pribadi yang memiliki kekuatan dan keahlian/keterampilan, mari terus meningkatkan pribadinya menjadi lebih baik, lebih berkualitas, sedangkan pribadi yang memiliki kelemahan atau masih terpaku pada keterbatasannya, ayo segera memutuskan untuk mencari dan menata kekuatan dirinya dan bangkit meninggalkan keterbatasannya.

48e91eb7846bd15351d60227e998731c

~Sherly Hermawan~

Sunday, 24th May 2015

Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia

Published on 24th May 2015, 23.40

Facebook:  https://www.facebook.com/sherlyhermawan