
Saya senang membuat catatan tentang peristiwa dan situasi yang saya alami, tentang orang-orang yang saya temui, tentang tempat-tempat yang saya kunjungi, baik yang sifatnya biasa-biasa saja –tetapi ingin saya simpan sebagai bagian dari perjalanan hidup saya-, maupun yang unik –yang saya pikir akan kecil kemungkinannya untuk bisa terulang-.
* Sejak pertemuan pertama kami 30 tahun lalu (7 Maret 1985) hingga pagi hari keberangkatan kami (26 Desember 2015), saya dan suami tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota atau keluar negeri berduaan saja. Jadi ini adalah perjalanan “Duaan Wae” kami yang pertama. Sebelum anak-anak lahir, kami selalu pergi berempat, dengan papa dan mama saya. Saat anak-anak hadir dalam kehidupan kami, paket perjalanan kami selalu untuk 6 orang. Tidak mudah buat saya untuk sampai pada keputusan pergi berdua saja. Lebih dari satu bulan saya membuat keputusan plin-plan; berdua saja, bertiga dengan papa saya, membujuk anak untuk ikut supaya ‘gak kepikiran’, lalu kembali ke ‘berdua saja’, berempat, bertiga, bahkan karena capek mikir plin-plan, saya sempat terpikir untuk menunda saja sampai hati dan pikiran benar-benar kekeuh untuk pergi berdua saja.
Sampai pada pagi 4 hari sebelum Natal, Tuhan menawarkan solusi yang apik. Saya sampaikan kepada papa saya tentang niat kami untuk mengunjungi kerabat dan berziarah ke makam mertua saya di Jember, papa saya dengan ringan merespon ‘papa gak ikut ah, takut capek karena jauh’. Anak saya yang memang sejak awal sudah mantap bilang gak mau ikut juga memberi dukungan yang menenangkan hati “I will take good care of opa, no worries about opa’s meals. I’ll be watering your plants, cleaning up kitchen after cooking, calling Go Clean to do cleaning the house”. Dengan demikian, ringanlah hati saya dan keputusan finalpun kami buat, pergi “Duaan Wae”.
#Lessons Learned: Jangan ngotot dengan pertimbangan dan asumsi sendiri, belajar lebih banyak berserah dan mengandalkan Tuhan sebagai sumber solusi, sambil tetap berusaha mengatur dan menjaga situasi yang mendukung rencana kita.

* Kami berangkat tanggal 26 Desember 2015, jam 06.30. Sehari sebelumnya ada beberapa teman yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Jawa Tengah, memulai perjalanan jam 05.00, dengan tujuan pertama bermalam di Yogyakarta. Sampai di Brebes, lalu lintas macet parah, hingga mengharuskan mereka untuk mengubah rencana menjadi bermalam di Purwokerto (tiba di hotel di Purwokerto sekitar jam 01.30 dinihari tanggal 26 Desember 2015), dan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta di pagi harinya.
Saat kami berangkat, lalu lintas lancar, boleh dibilang tidak ada hambatan yang berarti, hingga kami bisa tiba di Semarang sekitar jam 18.00 dan menikmati makan malam di Toko Oen, resto favorit keluarga yang tidak pernah tidak kami singgahi setiap kali berkunjung ke kota Semarang dan Malang.
Sejujurnya, malam menjelang berangkat, kami kuatir dengan kondisi lalu lintas. Beberapa teman malah sempat menyarankan untuk menunda atau membatalkan perjalanan. Saya tidak mengiyakan atau menentang saran itu, karena tetap ingin berangkat meskipun kuatir. Puji Tuhan, kekuatiran tidak menjadi kenyataan. Hoki, kata beberapa teman 🙂
#Lessons Learned: Hoki, atau lucky atau faktor keberuntungan itu memang ada ya. Tapi, menurut saya, sebaiknya jangan dijadikan pegangan. Selalu perlu berpikir secara logis. Waktu itu kami pikir karena sehari sebelumnya sudah macet total, seharusnya petugas sudah bekerja keras untuk mengurai kemacetan. Hoki, ternyata asumsi logis ini benar. Semakin indahlah jalan-jalan “Duaan Wae” kami 🙂


* Karena setting perjalanan kami ini ‘easy and no-fixed-schedule’, saya tidak melakukan pemesanan kamar hotel sebelumnya. Lucky us, dengan kemudahan pemesanan kamar hotel secara online, kami bisa mendapatkan penginapan di hotel-hotel yang cukup nyaman dengan tarif promo. Referensi #pegipegi.com #traveloka.com #trivago.co.id.
#Lessons Learned: Melek teknologi itu banyak manfaatnya. Akrab dengan internet, wi-fi, dan media sosial, serta memiliki kemampuan yang cukup untuk browsing dan searching, akan sangat membantu dalam banyak situasi, terutama disaat membutuhkan info, sementara tempat bertanya tidak ada, om Google, yang selalu siaga, pasti membantu. Jadi, jangan senang mendeklarasikan diri sebagai ‘si gaptek’ ah.


* Salah satu tujuan utama perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi kerabat di kota kelahiran suami, Jember. Ada beberapa keluarga yang kami kunjungi, diantaranya ada satu keluarga yang kondisinya lebih melekat dalam pikiran saya. Seorang ibu dengan 2 orang putrinya yang sudah bukan remaja lagi. Kedua putri tersebut tidak menikah, berusia 40 tahun dan 38 tahun. Kondisi ekonomi mereka yang tidak bagus (mereka memiliki usaha rumahan membuat kue pia, yang produksi dan penjualannya dibatasi oleh kemampuan tenaga, modal, dan keterampilan memasarkan yang sangat sederhana), masih dibebani dengan kondisi kesehatan putri yang berusia 40 tahun, yang menderita Schizophrenia (https://en.wikipedia.org/wiki/Schizophrenia)
Kondisi rumah mereka jauh dari standar kebersihan; ruang dan perabot yang berdebu, penerangan yang kurang, kamar-kamar yang tidak pernah kena cahaya matahari, lantai yang jarang disapu, bahkan jika ada yang tumpah atau bocor, kelihatannya dibiarkan saja hingga mengering sendiri yang kadang meninggalkan bekas kotor dan bau. Saat saya bertanya ‘kenapa putrinya tidak mau menikah?’, sang ibu menjawab ‘karena jika dia menikah, dia takut tidak bisa mengurus mamanya karena suaminya tidak mau direpotkan’. Saya jawab ‘kenapa tidak berpikir dari sisi positif, membuka diri dan berupaya untuk menemukan suami yang juga bersedia menyayangi mamanya’. Tidak ada komentar lebih lanjut.
#Lessons Learned: Ada beberapa situasi dan kondisi kurang baik yang sempat saya perhatikan, yang penyebab awalnya adalah kekeliruan memilih jalan yang harus dilewati (tidak cerdas, hanya berdasarkan emosi sesaat atau karena pengaruh dari pihak tertentu), pertimbangan-pertimbangan pesimis yang dijadikan pegangan untuk bersikap atau bertindak, dan pandangan negatif yang melatarbelakangi suatu keputusan. Semua penyebab ini, pada satu titik, bisa menimbulkan rasa frustasi dan sikap apatis.
Pandangan dan sikap positif, antusiasme dan optimisme, keinginan untuk mempelajari hal-hal baru, tidak mudah menyatakan diri tidak mampu, adalah hal-hal yang selalu saya tanamkan dalam diri saya sendiri dan juga dalam keluarga saya.

* Tujuan utama lainnya adalah berziarah ke makam mertua saya, yang letaknya di desa Balung, wilayah pinggiran kota Jember. Sebuah pemakaman umum untuk orang-orang keturunan Cina, tapi di dalam area dibuat blok-blok makam keluarga.
Begitu memasuki area, kami bingung menemukan lokasi makam, karena ada begitu banyak makam, dan ilalang yang cukup tinggi dimana-mana menutupi jalan dan makam-makam yang lama tidak pernah dikunjungi.
Untungnya, ada penawaran bantuan mencari makam dari sekelompok anak usia SD-SMP yang dikoordinir oleh 1 orang tua. Mereka lincah menemukan jalan, berjalan, dan melompat diantara makam-makam untuk menemukan makam yang ingin dikunjungi. Setelah menemukan, mereka juga bersedia membersihkan semak dan ilalang yang tumbuh subur, hingga makam bersih.
Saya sempat bertanya, apakah mereka bersekolah, kog siang menjelang tengah hari itu mereka tidak di kelas. Beberapa menjawab ‘sekolah pagi’, beberapa menjawab ‘nanti siang’, dan 1-2 lainnya diam saja. Sesaat kemudian saya tahu bahwa ada anak-anak yang memang tidak bersekolah. Ketika saya tanya, kenapa tidak bersekolah, mereka tidak punya jawaban.
Selesai berdoa, saat kami akan meninggalkan makam, mereka berkumpul menunggu upah atas kerja yang sudah mereka lakukan. Tidak mendesak, tidak meminta, tidak menentukan tarif. Saat kami berikan sejumlah uang kepada orang tua si koordinator, mereka juga tidak meminta lebih, tidak komplain.
Saya minta mereka untuk berdiri berjajar untuk saya foto. Mereka senang, karena sudah mendapatkan bagian upahnya dan difoto pula. Begitu lugu dan sederhana. Keluguan yang menimbulkan rasa iba.
#Lessons Learned: Melalui keluguan dan kesederhanaan ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Ada antusiasme saat membantu orang yang memerlukan bantuan, ada kesabaran saat melakukan pekerjaan dan menunggu upah, ada kegembiraan saat mendapat upah dan difoto, padahal mereka juga tidak melihat hasil fotonya, dan ada sikap apresiasi atas rejeki yang mereka dapatkan (tidak komplain, tidak menuntut lebih).
Namun tentu saja, sikap-sikap lugu dan sederhana harus diaplikasikan secara positif, bukan menjadi penyebab munculnya kemalasan, tidak punya minat atau keterampilan, keengganan berkompetisi secara sehat, dan sikap-sikap lemah lainnya.

* Tujuan lain yang bukan merupakan tujuan utama, tapi selalu ingin kami lakukan setiap kali ada kesempatan adalah mengunjungi tempat-tempat religius agama Katolik. Dalam perjalanan kali ini kami bisa mengunjungi 2 tempat suci; Goa Maria Kerep di Ambarawa, saat perjalanan pergi,




dan Goa Maria Sendangsono di Muntilan, Magelang, saat perjalanan pulang.


* Tujuan lainnya lagi ya jalan-jalan dan makan-makan dong, menikmati pemandangan alam; laut, hutan, gunung, jalan panjang yang berkelok-kelok, menikmati makanan-makanan khas, dan bernarsis ria.
Kami mengunjungi objek wisata Pantai Tanjung Papuma (Pantai Pasir Putih Malikan) yang berlokasi di Kecamatan Wuluhan, 45 kilometer arah selatan Kota Jember. Pantai yang indah dengan pasir putihnya. (http://travel.kompas.com/read/2014/07/26/141900627/Papuma.Pantai.Terindah.di.Jatim)

Objek wisata laut kedua yang kami kunjungi adalah Pantai Pulau Merah yang berlokasi di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi (https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Pulau_Merah)






Kuliner, ini sesi yang paling menyenangkan di setiap perjalanan. Menikmati makanan khas, baik yang asli makanan daerah, maupun yang sudah diadaptasi, semua bisa kami nikmati… hahha… nikmatnya tuh disini…








Saat singgah di Surabaya, kami menginap semalam di Bella Hotel, sebuah hotel yang menyenangkan, kamar yang bagus dengan fasilitas yang ‘tidak bohong’ sebagai hotel bintang 3, breakfast yang bagus dan menyediakan pilihan yang cukup lengkap, dan yang terutama adalah para staf hotel yang sangat ramah dan selalu siap membantu. Saya akan menulis review khusus untuk hotel ini.
Selain menikmati kenyamanan hotel, kami juga sempat mengunjungi tempat jajan malam, The Loop, dan menikmati Angsle, Ronde dan Tahu Pong yang hangat. Makanan sederhana, namun menghangatkan jiwa, karena kami boleh menikmatinya dengan hati yang tenang dan perasaan yang ringan. Berkat yang sungguh kami syukuri.


Saat melewati Madiun, kami juga sempat menikmati Pecel Madiun yang terkenal karena konon, Pak SBY dan Ibu pernah mampir di warung pecel ini.

* Malam pergantian tahun tiba, 31 Desember 2015, kami bermalam di Yogyakarta. Sayang sekali, kami bukan penikmat keramaian. Yogya begitu meriah, penuh sesak sepanjang Jalan Malioboro dan Jalan Solo. Suasana hiruk pikuk mereda selewat jam 1 dinihari.
#Lessons Learned: Lain kali jangan berada di jalan pada jam-jam menjelang pergantian tahun. Capek dan ngantuk di dalam mobil, sungguh bukan sesuatu yang bisa kami nikmati.

Tanggal 1 Januari 2016, Tahun Baru, jam 05.05, kami memulai perjalanan pulang. Sekitar jam 07.00 kami singgah untuk berdoa di Goa Maria Sendangsono, Muntilan sekitar 20 menit, lalu melanjutkan perjalanan menuju Semarang, mau beli oleh-oleh Loenpia Semarang.

Untuk makan siang, kami singgah di Sego nDeso, Magelang, yang menyediakan menu khas Jawa Tengah dan jajanan tempo doeloe, dengan harga yang bikin hati gembira. Kami memesan 3 porsi makanan; sup timlo, nasi gudeg, nasi bakar jamur, ditambah 1 teh hangat dan 1 lemon tea hangat, total yang kami bayar hanya Rp39.000,-…perut kenyang, hati gembira… 🙂





Sekitar jam 20.30 tanggal 1 Januari 2016 kami tiba di rumah…home sweet home…capek? jelas, tapi yang pasti adalah bahagianya…banyak nilai-nilai spiritual yang kami rasakan, sebagian bisa saya ungkapkan dalam obrolan, yang kemudian di-iya-kan oleh suami, sebagian lagi saya simpan dalam batin untuk kebaikan bagi jiwa saya dan keindahan kehidupan kami sebagai suami-istri dan sebagai orang tua bagi anak-anak dan menantu-menantu kami. Puji syukur tanpa henti atas segala berkat indah yang Tuhan berikan bagi saya dan orang-orang yang saya sayangi, adalah satu pernyataan batin yang kami ungkapkan dalam doa dan kami terapkan sebagai sikap hidup kami. Semoga kehidupan keluarga saya selalu dalam damai dan kelegaan.

“Enjoy the journey, traveling hand in hand, in sunshine and storm as companions who love one another” -Gordon B Hinckley
~Sherly Hermawan~
Sunday, 3rd January 2016, 10.17
Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan

You must be logged in to post a comment.