Hampir setiap orang pernah berpura-pura karena beragam alasan. Hampir setiap orang punya karakter publik yang seringkali ditampilkan untuk menyembunyikan atau menutupi pikiran atau perasaan sebenarnya.
Kadar pura-pura juga beragam, mulai dari yang kecil-kecilan –yang sebenarnya gak perlu-perlu amat-, sampai yang bukan kecil-kecilan –yang mungkin bisa membuat situasi dan kondisi menjadi runyam-
Pura-pura yang kecil-kecilan, misalnya begini:
* Saya pernah beberapa kali memperhatikan ada anak yang menolak saat ditawari kue oleh mama temannya, tapi kemudian secara sembunyi-sembunyi melihat dengan penuh minat ke piring yang berisi kue tersebut.
* Pernah juga sekali waktu saya menawarkan tumpangan ke seorang tante (A), karena rumahnya kebetulan bisa searah dengan jalan pulang saya meskipun beda cluster dan saya harus sedikit berbalik menuju cluster rumah saya. Saat saya tawarkan, Tante tersebut menolak dengan alasan akan dijemput anaknya. Saat berjalan menuju kendaraan, saya dengar omongan dua orang tante lain (B dan C) yang bersedia ikut dengan saya, ‘kog dijemput anaknya ya, kan tadi bilang anaknya lagi di Surabaya, makanya tadi perginya bareng kita’. Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan obrolan itu, sampai saat keluar dari area parkir, kami melihat tante A tadi mau menyeberang jalan sendirian, cuaca cukup panas di tengah hari itu. Saya menepi dan membuka jendela, menanyakan apakah beliau ingin ikut. Tante A setuju dan masuk ke mobil. Seolah ada kesepakatan batin, tidak ada satupun dari kami yang bertanya tentang “anaknya yang akan menjemput” dan Tante A juga seolah lupa atau menganggap kami semua lupa dengan ucapannya 10 menit lalu itu.
Pura-pura yang bukan kecil-kecilan, ini yang pernah saya alami:
* Ada seorang yang saya kenal cukup dekat, seorang yang selalu ingin terlihat ideal dan positif, selalu tampil ‘baik-baik saja’, penuh perhatian, peduli, dan bertoleransi. Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, sikap ideal dan positif itu tidak tampil. Yang jelas terlihat adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya diri, dan kekurangmampuan menangani situasi. Saat berbeda pendapat dengan pasangannya, dia tidak bisa mengemukakan pendapatnya yang mungkin, sebenarnya, lebih tepat.
Satu hal yang bisa mengakibatkan kerugian adalah saat dia atau pasangannya sakit. Karena terdorong mempertahankan kesan ‘baik-baik saja’, dia merasa malu untuk mengaku sakit.
Hal lain yang mungkin juga merugikan adalah ketika dia merasa tidak perlu untuk curhat kepada orang lain atau meminta saran dari orang lain atas masalah yang dihadapinya, demi menjaga kesan ‘positif’nya.
* Beberapa tahun lalu saya pernah bergabung di salah satu perusahaan agensi asuransi yang cukup besar -sejujurnya saya hanya memenuhi ajakan seorang teman yang baik dan tulus sambil mencoba kemampuan saya untuk menawarkan produk, saya tidak punya minat cukup besar untuk menjadi agen asuransi yang sukses-.
Sebagai ‘anak baru’ saya merasa begitu banyak senior (yang bukan upline saya) yang penuh perhatian, bersedia membimbing dan membagi ilmunya. Saat makan siang, saya diajak bergabung dalam rombongan besar para senior. Makan malampun bersama teman-teman, sehingga cukup sering saya tidak makan malam bersama keluarga.
Perbedaan sikap mulai terasa saat saya mulai rutin membunyikan lonceng tanda berhasil menjual polis. Semakin sibuk saya menyerahkan data nasabah yang membeli polis, saya merasa semakin ‘sepi’ berada di kantor, padahal ruangan penuh dengan teman-teman dan para senior. Sangat terasa perubahan situasinya, para senior yang dulu dengan ramah membantu saya memahami produk sekarang datar-datar saja, teman-teman seangkatan juga saya rasakan tidak seramah sebelumnya. Sempat saya pikir, ini mungkin perasaan saya saja karena saya pada dasarnya memang kurang menikmati pekerjaan ini, hingga di suatu kesempatan curhat dengan upline saya, beliau mengiyakan bahwa situasi seperti itu memang lazim terjadi.
Dibalik setiap kepura-puraan sesungguhnya ada rasa takut yang berakar, yang mungkin tidak disadari keberadaannya. Rasa takut menampilkan situasi apa adanya, takut menunjukkan perasaan yang sebenarnya, takut memperlihatkan keotentikan diri.
* Anak yang menolak kue, bisa jadi karena takut disalahkan oleh orangtuanya yang seringkali berpesan untuk tidak boleh menerima makanan dari orang lain, atau harus bersikap manis dan tidak ‘rakus’ jika bertemu orang lain.
Kasian sebenarnya, tapi melihat wajah kecil yang sembunyi-sembunyi melihat kue yang kelihatannya enak itu, saya jadi tersenyum karena lucu 🙂
* Tante A yang menolak ajakan diantar pulang, mungkin takut orang berpikir bahwa anaknya kurang memperhatikan dia, dengan kata lain, dia berusaha melindungi dan menjaga citra baik anaknya dengan cara yang kurang tepat. Kemungkinan lain, dia takut terlihat kurang keren kalau harus nebeng, tapi gak takut berpanas-panas jalan kaki 🙂
* Kenalan yang selalu tampil ‘baik-baik saja’, takut orang lain melihat adanya ketidak-harmonisan antara dia dengan pasangannya, dan antara mereka sebagai orangtua dengan anak-anaknya, meskipun sebenarnya dia merasa tertekan karena harus selalu menampilkan kondisi ‘baik-baik saja’. Didalam keluarganya, ada rasa takut terhadap pasangannya yang tanpa disadari telah bersikap dominan dan menanamkan pemahaman bahwa dia harus selalu ‘mendukung’ ide atau keputusan apapun yang dibuat oleh pasangannya. Tidak ada sikap dominan secara fisik disini, tapi sikap dominan secara psikis yang menimbulkan rasa takut.
Membicarakan urusan domestik kepada orang lain, adalah hal yang menurut dia ‘tidak pantas’. Dia lebih memilih menangis dan membiarkan waktu yang menyelesaikan masalahnya.
Buat saya, sahabat adalah fasilitas terbaik untuk curhat dan berbagi cerita, sahabat mau mendengarkan dengan telinga dan hati, sahabat juga yang seringkali punya solusi cerah yang tidak terpikirkan oleh saya saat lagi bete. Mana ada sih orang yang gak pernah ngalamin saat bete.
* Perubahan perilaku di kantor, ini sih jelas, takut tersaingi. Waktu masih ‘anak baru’ kan belum terampil, jadi bolehlah dibaik-baiki. Begitu mulai terampil, wah mulai bahaya nih.
Padahal, bisa aja kan si ‘anak baru’ ini adalah orang yang tahu membalas budi, yang karena merasakan kenyamanan lingkungan kerjanya, malah tumbuh minatnya dan ingin meraih sukses di posisi yang lebih tinggi dengan mengajak teman-temannya menjadi downliner. Bukankah semakin banyak downliner, pundi-pundi komisi para upliner akan semakin padat?
Kepura-puraan terjadi bisa karena seseorang merasa ‘tidak cukup’ sebagai dirinya sendiri. Bisa juga karena merasa ingin tampil ‘lebih bagus’ dimata orang lain, atau ingin mendapatkan ‘apresiasi lebih’ melalui sikap atau cerita yang disampaikannya.
Banyak orang yang bersikap pura-pura karena ingin menjadi pribadi lain yang dianggap lebih baik, lebih hebat. Orang yang berpura-pura adalah orang yang tidak belajar menerima dan menghargai dirinya sendiri.
Yang disayangkan, sikap berpura-pura ini bisa menjadi kebiasaan, jika tidak ada upaya untuk menghentikannya.
Menghentikan kebiasaan berpura-pura bukanlah hal mudah, malah mungkin membutuhkan upaya yang cukup keras dan niat yang kuat, namun pasti bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Dari banyak sumber dan tulisan yang saya baca, saya mendapatkan beberapa poin berikut ini yang bisa dijadikan petunjuk praktis untuk menghentikan kebiasaan berpura-pura dan mulai menunjukkan keotentikan diri.
- Beranikan diri untuk mengatakan ‘Tidak’
Mengatakan ‘Ya’ bukan sikap keliru, tetapi mengatakan ‘Ya’ disaat hati kita ingin mengatakan ‘Tidak’ sudah tentu bukan sesuatu yang baik.
Jangan takut mengemukakan pikiran dan perasaan kita yang sesungguhnya, meskipun mungkin bertentangan dengan sikap yang ditunjukkan orang lain. Jangan menyamakan pandangan hanya karena ingin menyenangkan orang lain atau karena takut jadi ribut. Sampaikan pandangan kita yang berbeda dengan sikap dan kata-kata yang baik. Jika tidak bisa diterima oleh pihak lain, tidak perlu emosi, yang penting kita sudah berani menyatakan pandangan kita dengan cara baik.
- Jangan meniru-niru
Setiap pribadi unik dan berbeda, akan lebih nyaman kalau kita jalani hidup dengan sikap dan cara kita sendiri, bukan dengan menjadi pribadi lain. Capek kalau harus menjadi pribadi lain. Ciptakan jalur kita sendiri dan lalui jalur itu dengan sikap positif dan kecerdasan.
- Katakan yang sebenarnya
Pertama, jujur pada diri sendiri, ini sebagai dasar untuk bersikap dan berbicara apa adanya kepada orang lain. Berbohong berarti membiarkan diri kita masuk dalam jalur kekuatiran yang tidak berujung -kuatir ketahuan berbohong-, karena setiap kebohongan akan perlu ditutupi oleh kebohongan berikutnya. Bersikap dan berbicara jujur adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang lain.
- Tumbuhkan rasa percaya diri
Keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik akan menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuat kita merasa lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. Dengan rasa percaya diri, kita bisa terbebas dari kebutuhan akan persetujuan/pengakuan dari orang lain.
- Kerjakan hal-hal yang kita suka
Tekuni pekerjaan atau kegiatan apapun yang membuat kita senang saat mengerjakannya, jangan pedulikan orang lain senang atau tidak. Tidak perlu selalu mempertimbangkan harapan orang terhadap kita. Mencintai dan menekuni pekerjaan akan membuat kita selaras dengan suara hati.
“Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it” ~Bruce Lee~
~Sherly Hermawan~
Wednesday, 24th June 2015
Serpong, Tangerang, Banten, Indonesia
Published on 24th June 2015, 21.06
Facebook: https://www.facebook.com/sherlyhermawan



You must be logged in to post a comment.